MELATI BELANDA JEPANG DAN BANGKOK
by indrihr • 29/01/2026 • Uncategory • 0 Comments
Saya pernah membaca informasi tentang melati Belanda, melati Jepang dan melati Bangkok, yang katanya bukan melati dan juga bukan berasal dari negara-negara tersebut. Benarkah informasi yang saya baca itu? (Antony Raffles, Yogyakarta).
Sdr. Antony, informasi yang Anda baca tentang melati Belanda, melati Jepang dan melati Bangkok itu benar. Melati belanda, rangoon creeper, chinese honeysuckle, Combretum indicum; bukan suku melati-melatian Oleaceae tetapi suku ceguk-cegukan Combretaceae. Asalnya juga bukan dari Belanda melainkan dari Asia Tropis termasuk Indonesia. Nama daerah Combretum indicum di Indonesia sangat banyak. Mulai dari ceguk, cekluk, kacekluk, kaceklik, dani, udani, wedani, wudani, bidani, rabet dani dll.
Mengapa tumbuhan asli Indonesia, oleh masyarakat disebut melati Belanda? Karena di Indonesia ceguk merupakan tumbuhan liar dan tak ada orang yang mau menanamnya di halaman rumah sebagai tanaman hias. Masyarakat Indonesia lebih senang menanam melati putih, Arabian Jasmine, Jasminum sambac; yang sebenarnya justru berasal dari India. Orang Belanda lebih tertarik menanam ceguk karena bunganya banyak dan kombinasi warna merah serta pinknya cukup menarik. Sejak itulah masyarakat menyebut ceguk sebagai “melati Belanda”.

Melati jepang, Yellow-Vein Eranthemum, Golden Pseuderanthemum, Pseuderanthemum maculatum, suku jeruju-jerujuan, Acanthaceae, beranggotakan 47 spesies. Jadi melati jepang bukan hanya beda jenis (genus) dengan melati; melainkan juga beda suku (family). Melati jepang juga tidak berasal dari Jepang, melainkan dari Kepulauan Solomon dan Vanuatu di Samudera Pasifik. Disebut melati Jepang, karena bunga ini sangat populer di “Negeri Sakura” tersebut. Masyarakat kita juga mendapatkan bunga ini dari Jepang, bukan dari Kepulauan Pasifik.
Melati Bangkok (Thailand), melati tempel, Arctic Snow, Milky Way, Snowflake, White Angel, Walidda, Pudpitchaya, Wrightia antidysenterica; juga bukan suku melati-melatian, Oleaceae; melainkan suku kamboja-kambojaan, Apocynaceae. Asalnya juga bukan dari Thailand, melainkan dari Sri Lanka. Tanaman hias ini disebut melati tempel karena biasa disambung dengan batang bawah Wrightia religiosa dan Wrightia tomentosa, agar menghasilkan tanaman yang bisa tumbuh kuat dan berukuran cukup besar.
Sebutan “melati Bangkok” disematkan ke tanaman hias ini, karena awalnya para pedagang tanaman hias mengenal dan mendapatkannya dari Bangkok, Thailand. Nama epitet
“antidysenterica” pada Wrightia antidysenterica digunakan karena zat astringen dalam kulit kayu, daun, dan akar tanaman ini berkhasiat mengobati disentri. Dalam bahasa Latin antidysenterica berarti “melawan disentri”. Nama ini diberikan oleh Robert Brown, ahli botani Skotlandia atas saran William Wright, dokter Skotlandia yang mempelajari khasiat tanaman ini.
Yang disebut melati dalam Bahasa Indonesia, sebenarnya hanya merujuk ke genus Jasminum, suku melati-melatian, Oleaceae. Yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia melati putih, Arabian Jasmine, Jasminum sambac; melati gambir, Common Jasmine, Jasminum officinale; dan melati bintang, star Jamine, Jasminum multiflorum. Melati putih Jasminum sambac dikenal ada dua jenis, yang bermahkota tunggal dan yang bermahkota “tumpuk” yakni Jasminum sambac “Grand Duke of Tuscany”.
Melati Belanda, melati Jepang dan melati Bangkok; hanya berfungsi sebagai tanaman hias di halaman rumah atau sebagai elemen taman. Melati Belanda umumnya ditanam di gazebo, atau dirambatkan di teras rumah. Melati Belanda merupakan tumbuhan merambat (vines). Melati Jepang biasa ditanam dalam pot di teras rumah atau sebagai “border” di sebuah taman. Sedangkan melati Bangkok ditanam dalam pot, di halaman rumah atau sebagai elemen taman di sebuah taman yang cukup luas.
Lain halnya dengan melati “asli” Jasminum sambac dan Jasminum officinale. Melati putih tunggal dibudidayakan secara massal untuk dironce, sebagai pengharum teh dan diambil parfum (minyak asirinya). Melati gambir dibudidayakan secara massal sebagai pengharum teh dan diekstrak parfum/minyak asirinya. Melati putih berhabitat di dataran rendah sampai menengah, melati gambir hanya bisa tumbuh di dataran tinggi dengan elevasi di atas 1000 meter dpl. Nilai ekonomis bunga melati putih dan melati gambir cukup tinggi.
Harga minyak melati putih murni (Jasmine sambac absuute) Rp15 juta per kilogram. Harga minyak melati gambir murni (Jasminum officinale absolute) Rp30 juta. Rendemen bunga melati putih dan melati gambir sama, yakni 0,02% (2 permil). Dari 1 ton bunga akan dihasilkan 2 kilogram minyak murni (absolute). Sementara harga bibit melati Belanda, melati Jepang dan melati Bangkok hanya berkisar antara Rp10.000 sampai dengan Rp40.000 per tanaman. Harga melati Bangkok bisa mencapai ratusan ribu rupiah apabila tingga tanaman sudah di atas 1,5 meter dan dalam kondisi berbunga lebat. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
