PERDU PLOSO
by indrihr • 03/02/2026 • Uncategory • 0 Comments
Di Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, ada sebuah desa bernama Ploso. Kata orang-orang tua, ploso itu nama tumbuhan. Benarkah informasi tersebut, sebab sekarang di desa tersebut sudah tidak bisa dijumpai tumbuhan ploso. (Mahendra, Ngawi).
Sdr. Mahendra, memang benar bahwa ploso, plasa, palasa nama tumbuhan berbunga oranye. Ploso itu nama dalam Bahasa Jawa, dalam Bahasa Indonesia disebut plasa atau palasa. Bahasa Inggrisnya flame of the forest. Nama botaninya Butea monosperma. Selain di Kabupaten Ngawi, desa bernama Ploso juga terdapat di Punung, Pacitan; Mojo, Kediri; Selopuro, Blitar; dan Jati, Kudus. Palasa juga merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Itulah antara lain beberapa desa dan kecamatan yang menggunakan nama Ploso dan Palasa.
Palasa merupakan tumbuhan asli Pakistan, Nepal, India, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam dan China; yang kemudian menyebar ke kepulauan Nusantara. Sepintas pohon palasa mirip dengan cangkring, purple coraltree, Erythrina fusca. Bedanya, pohon cangkring dipenuhi duri tajam, sedangkan pohon palasa tak berduri. Cangkring dan palasa juga sama-sama berdaun majemuk dengan tiga helai daun dalam satu tangkai. Bedanya, daun palasa tebal dan kaku berbentuk bulat, sedangkan daun cangkring lebih tipis dan berujung runcing.
Bunga palasa dan cangkring juga mirip. Bedanya bunga palasa berwarna lebih oranye sedangkan bunga cangkring lebih kuning. Ukuran kelopak bunga palasa lebih besar, melengkung dengan ujung runcing sedangkan bunga cangkring berukuran lebih kecil dengan ujung tumpul. Baik palasa maupun cangkring biasanya tumbuh liar di kawasan kering, terutama di hutan-hutan pegunungan kapur. Habitat cangkring dan palasa juga sama, yakni hutan dengan elevasi dari 0 meter dpl. sampai dengan di atas 1.000 meter dpl. Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi berelevasi sekitar 250 meter dpl.

Palasa tumbuh berupa perdu setinggi 15 meter dengan tingkat pertumbuhan sangat lambat. Tanaman muda bisa tumbuh beberapa meter dalam setahun. Tetapi selanjutnya hanya akan tumbuh beberapa sentimeter per tahun. Palasa berdaun majemuk dengan tiga helai daun di setiap tangkai. Setiap helai daun memiliki panjang 10–20 sentimeter. Bunga palasa berukuran 2,5 sentimeter berwarna oranye-merah cerah, dan tumbuh dalam tandan hingga sepanjang 15 sentimeter. Musim berbunga setiap bulan Agustus pada puncak musim kemarau. Setiap bunga memiliki lima kelopak, dua sayap, dan lunas melengkung menyerupai paruh burung nuri.
Buah palasa berupa polong dengan panjang 15–20 sentimeter dan lebar 4–5 sentimeter. Sepintas polong palasa mirip kacang kapri berwarna hijau kecoklatan waktu muda. Setelah tua akan berwarna coklat muda dan tetap tipis. Saat sudah tua, polong itu akan beterbangan terbawa angin. Biji yang polongnya pecah di ranting pohon juga akan diterbangkan angin karena tipis dan ringan. Di dunia, palasa dikenal sebagai pohon hias dengan bunga oranye yang bermekaran serentak pada musim kemarau. Pada saat itulah burung madu dan serangga akan menikmati nektar serta polen bunga palasa.
Tetapi manfaat utama tumbuhan palasa, sebagai penghasil zat warna coklat, merah dan kuning. Zat warna dari tumbuhan palasa dihasilkan oleh kutu lak Kerria lacca. Kutu ini menghasilkan sekresi yang dipanen untuk diekstrak menjadi zat warna maupun wax (lilin) untuk melapisi kulit buah dan sayuran. Di Indonesia, kutu lak lebih banyak dibudidayakan di pohon kosambi, kusum tree, Schleichera oleosa. Satu-satunya perusahaan yang membudidayakan kutu lak di Indonesia hanya Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Di Indonesia kutu lak hanya dibudidayakan di pohon kosambi.
Beda dengan di India. Di negeri ini kutu lak dibudidayakan di pohon palasa. Hasilnya sama, yang dipanen sekresi dari kutu lak tersebut. Kutunya tetap hidup untuk mengisap cairan dari pucuk palasa. Lain dengan kutu cochineal, Dactylopius coccus, yang dibudidayakan di kaktus entong, Indian fig opuntia, Opuntia ficus-indica. Kutu cochineal itulah yang dipanen dan dihancurkan untuk menghasilkan zat warna merah Carmine. Hingga zat warna dari kutu lak lebih bisa diterima masyarakat luas dibandingkan zat warna dari kutu cochineal. Produktivitas kutu lak yang dibudidayakan di pohon kosambi lebih tinggi dari yang dibudidayakan di pohon palasa. Tetapi kualitas warnanya lebih baik yang dari pohon palasa.
Selain menjadi pohon inang bagi kutu lak, palasa juga bisa dipanen bunganya sebagai pewarna makanan. Warna oranye bunga palasa itu bisa diambil (diekstrak) dari bunga keringnya. Tetapi secara tradisional, bunga palasa kering juga bisa diseduh untuk menghasilkan minuman berwarna oranye, atau untuk mewarnai bahan pangan seperti roti, kue dan pengoles roti (jam dan jelly). Di India warna oranye minuman sharbat berasal dari warna bunga palasa. Selain dijadikan sebagai penghasil zat warna, di India bunga palasa juga biasa dikonsumsi sebagai sayuran, terutama untuk dimasak kari. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi.
