• WALIKUKUN PENGUSIR ROH HALUS

    by  • 16/03/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Di marketplace Indonesia, tasbih kayu walikukun ditawarkan seharga Rp1.000 sampai Rp2.000. Sangat murah. Yang menjadi pertanyaan mengapa harus disebutkan bahwa tasbih itu terbuat dari kayu walikukun?

    Ternyata, tasbih kayu walikukun (bayur bukit, kokon, walèkokon, harikukun, East Indian wood, Schoutenia ovata); dipercaya mampu meningkatkan kewibawaan dan keselamatan karena memiliki kekuatan supranatural tinggi dibanding kayu lain. Tasbih kayu walikukun juga diyakini memiliki khasiat gaib yang dapat mempercepat datangnya ilham atau ide, bahkan dapat membantu si pemakai mencapai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hingga penceramah agama yang memegang tasbih kayu walikukun dijamin bisa lebih lancar berdakwah dibanding mereka yang memegang tasbih kayu biasa.

    Tasbih kayu walikukun dianggap keramat karena pohonnya pun dipercaya dapat mengusir roh halus yang menghuni sebuah rumah. Apabila ada sebuah rumah yang diyakini dihuni roh halus, kemudian pemilik rumah menanam pohon walikukun di halaman, maka roh halus itu akan menyingkir dengan sendirinya. Bagaimana kalau rumah tersebut sudah tidak berhalaman? Masih tetap bisa menaman walikukun dalam pot atau sekalian membeli bonsai walikukun. Begitu tanaman pot atau bonsai walikukun itu berada di teras rumah yang masih terkena sinar matahari, maka roh halus di dalam rumah akan mengalah dan pergi.

    Itulah kehebatan pohon walikukun. Meskipun berkhasiat cukup hebat, harga bibit tanaman walikukun juga hanya dalam kisaran Rp20.000 sampai Rp100.000 per tanaman dalam polybag. Apabila sudah menjadi bakalan bonsai, harga akan melambung di atas Rp100.000 per pot. Harga ini masih sama dengan harga bibit tanaman pada umumnya. Bahkan bakalan bonsai cemara udang, sisir dan asam jawa; masih relatif lebih tinggi dibanding bonsai walikukun. Apakah kemudian di halaman rumah angker berpenghuni makhluk halus selalu ada tanaman walikukun? Ternyata juga tidak. Umumnya rumah-rumah angker dibongkar atau direnovasi oleh si pemilik baru.

    Pohon walikukun punya nilai tersendiri justru pada zaman sebelum ada mobil. Karena kekuatannya, kayu walikukun selalu dijadikan gandar (as) kereta yang ditarik kuda atau gerobak yang ditarik sapi dan kerbau. Selain sebagai gandar, zaman dulu kayu walikukun juga populer sebagai tangkai tombak. Sebab selain kuat, kayu walikukun juga ringan dan mudah dikerjakan (dipotong dan diserut). Pertanyaannya, mengapa tangkai tombak bukan terbuat dari kayu jati? Pertama kayu jati cukup berat, kedua justru mudah patah (tidak lentur). Tentu ada faktor lain, bahwa kayu walikukun akan mendatangkan kekuatan bagi si pemegang tombak.

    Tumbuh Sangat Lamban

    Kayu-kayu keras dan kuat biasanya tumbuh sangat lamban. Termasuk walikukun. Bahkan sama-sama jati, yang tumbuh di kawasan basah di Jawa Barat; dengan di kawasan kering di Jawa Timur sangat berbeda kualitasnya. Jati Jawa Barat tumbuh bongsor tetapi tingkat kekuatan dan kekerasan kalah dari jati dari pegunungan kapur di Jawa Timur yang tumbuh sangat lambat. Walikukun juga sama. Kayu walikukun yang banyak dicari-cari sebagai bahan tasbih pasti yang berasal dari kawasan kering, hingga tingkat kekerasan dan kekuatannya tinggi, tidak mudah retak, tidak mudah pecah.

    Nama Latin walikukun Schoutenia ovata diberikan oleh ahli botani Belanda Pieter Willem Korthals (1807 – 1892) pada tahun 1848. Korthals memang pernah berdinas di pemerintah Hindia Belanda dari tahun 1831 hingga 1836. Selama berdinas di Hindia Belanda itulah Korthals mendeskripsi dan memberi nama walikukun. Meskipun ulasannya tentang walikukun dalam buku Verhandelingen over de Naturlijke Geschiedenis der Nederlandsche Overzeesche Bezittingen, baru terbit pada 1848. Selain walikukun Korthals juga mendeskripsi serta memberi nama kratom, Mitragyna speciosa; yang kontroversial karena disalahgunakan untuk “teler”. Korthals juga menulis buku tentang kantung semar (genus Nepenthes) dengan judul Over het geslacht Nepenthes (Tentang Genus Nepenthes, 1839).

    Walikukun termasuk jenis kayu spesifik, yang apabila dibudidayakan bisa bernilai jual tinggi. Kalau hanya mengandalkan pengambilan dari alam, dalam jangka waktu dekat spesies ini akan terancam punah. Kayu-kayu spesifik lain misalnya kenanga sebagai bahan akustik paling baik dan waru gunung sebagai bahan bak truk pasir terbaik. Dibanding walikukun dan kenanga, nasib waru gunung masih relatif lebih baik. Sebab pertumbuhan waru gunung sangat cepat dibanding walikukun. Kenanga meskipun tumbuh cepat dan bunganya merupakan bahan minyak asiri, penebangannya untuk bahan akustik tak terkendali.

    Habitat asli walikukun berupa pegunungan kapur terdesak oleh Jati. Meskipun spesies ini tetap tahan hidup dalam kekeringan dan kondisi kritis. Di atas obyek wisata Tebing Breksi, DIY, yang kering kerontang; saya lihat tonggak walikukun yang tetap menumbuhkan tunas barunya. Di kawasan yang relatif basah walikukun terdesak sengon. Jati dan sengon merupakan kayu komersial yang sangat dominan di Pulau Jawa. Jati merupakan produk kayu massal dengan nilai tertinggi; sedangkan sengon produk kayu massal murah meriah dengan pertumbuhan sangat cepat. Dua spesies inilah yang sekarang mendominasi hutan rakyat di Pulau Jawa.

    Di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, ada sebuah desa bernama Walikukun. Desa ini sekaligus merupakan ibukota Kecamatan Widodaren. Bagian utara Kabupaten Ngawi relatif kering dan berupa pegunungan kapur. Nama desa yang sekaligus menjadi tempat domisili kantor Kecamatan Widodaren, berasal dari nama tumbuhan walikukun. Konon dulunya di desa ini tumbuh pohon walikukun yang cukup besar yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Walikukun sebagai nama desa, tak sebanyak Gondang, Cangkring dan Winong, nama pohon yang banyak digunakan sebagai nama desa. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *