• NERACA PERDAGANGAN RI 2025 DEFISIT 10,7 MILIAR $ AS

    by  • 01/04/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Selama Januari – Juni 2025, RI impor dari China 40 miliar $ AS dan ekspor hanya 29,3 miliar $ AS. Produk utama ekspor kita ke China adonan besi (ferroalloy), olahan nikel setengah jadi (nickel matte), minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO), minyak bumi mentah (crude petroleum), santan kelapa (coconut milk), olahan kayu sengon (barecore) dan produk perikanan.

    RI impor mesin, peralatan listrik, mobil, tekstil, bawang putih, wortel dan buah-buahan dari China. Tetapi secara global, neraca perdagangan luar negeri RI selama Januari – Juni surplus sebesar 19,48 miliar $ AS. Surplus terbesar nilai perdagangan luar negeri Indonesia hingga Juni 2025 adalah dengan Amerika Serikat (AS), menyumbang surplus sebesar 9,92 miliar $ AS, diikuti oleh India (6,64 miliar $ AS) dan Filipina (4,36 miliar $ AS) dan Uni Eropa (3,8 miliar $ AS). Dengan negara-negara besar seperti AS, India dan Uni Eropa, neraca perdagangan kita surplus. Mengapa dengan China kita justru defisit?

    Surplus minusnya neraca perdagangan luar negeri dua negara disebabkan oleh banyak faktor. Penyebab utamanya bukan pada volume perdagangan melainkan nilai barang dan jasa yang diekspor oleh sebuah negara. Kurs mata uang juga menjadi salah satu penyebab surplus minusnya neraca perdagangan. Itulah sebabnya beberapa kali AS minta China merevaluasi nilai mata uang yuan terhadap dollar AS, tetapi China tidak mau. Mestinya, untuk menyeimbangkan necara perdagangan, AS sebagai pihak yang mengalami defisitlah yang mendevaluasi dollar AS, bukan minta China merevaluasi yuan.

    Banyak negara yang beranggapan bahwa China telah melakukan “dumping” hingga produk negeri ini bisa berharga sangat murah di pasar dunia. Tuduhan tersebut tak sepenuhnya benar. Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, produksi pakaian China pasti akan massal dan murah. Apabila China melebihkan produksi baju, celana atau sepatu mereka kemudian dilepas ke pasar dunia, harga produk China itu pasti akan sangat murah. Jadi untuk produk pakaian, kosmetik dan kebutuhan dasar manusia, China pasti bisa membanjiri pasar dunia, termasuk AS dengan produk-produk murah mereka.

    Keberadaan atase perdagangan dan kantor dagang (Indonesia Trade Promotion Center, ITPC) di sebuah negara, ikut menjadi faktor penentu surplus tidaknya neraca perdagangan RI di sebuah negara. Di semua negara yang punya hubungan diplomatik dengan Indonesia dan kita membuka kantor kedutaan besar, biasanya selalu disertai personel atase perdagangan. Selain atase perdagangan yang berada di kemenlu, ada pula perwakilan kantor dagang yang berada di bawah kementerian perdagangan. Di China kita hanya punya satu kantor dagang di Shanghai, sementara di Uni Eropa ada tiga dan di AS ada dua.

    Faktor “Mother Earth”

    Sebagai negeri yang pernah “kelaparan”, China benar-benar memperhatikan ketersediaan pangan bagi rakyat mereka. Hingga China menjadi penghasil gandum, padi, kentang, ubi jalar, kol, wortel, cabai, bawang putih, daging ayam, itik, daging babi, telur; dan beberapa komoditas penting lain; nomor satu di dunia. Tetapi di dunia ini selalu ada kawasan yang disebut sebagai “mother eath”, yang akan unggul apabila ditanami komoditas tertentu. Lahan dan agroklimat China memang cocok untuk bawang putih, tetapi untuk kedelai tampaknya tidak. Terlebih untuk kelapa, sengon dan singkong. Tiga komoditas ini lebih unggul ditanam di Indonesia.

    Pemerintah Indonesia punya BUMN perkebunan (PT Perkebunan Nusantara I – XIV) dan kehutanan (Perum Perhutani). Kalau mereka diberi tugas untuk membudidayakan kelapa, sengon dan singkong; niscaya akan bisa membanjiri China dengan santan, barecore dan tapioka. Itu teorinya. Dalam praktek, Pertamina BUMN yang memonopoli bisnis minyak pernah rugi. Maskapai penerbangan Garuda hampir selalu rugi. PT Kereta Api yang memonopoli bisnis transportasi darat lewat rel sebelum dibenahi Jonan juga selalu merugi dan kumuh. Baru setelah diurus Jonan BUMN ini jadi bagus dan justru membukukan laba.

    Sampai-sampai ada anekdot tentang Klinik Kecantikan Athena yang di DKI Jakarta tumbuh sangat pesat dan membukukan laba besar. Andaikan klinik kecantikan ini diambil alih pemerintah, dijamin akan segera membukukan kerugian atau malah bangkrut. “Salah urus” dan korupsi kemudian juga menjalar ke perusahaan swasta. Para pemilik modal malas untuk terjun ke bisnis alternatif, atau yang banyak ribetnya. Kalau masuk ke sektor agro maunya sawit. Padahal peluang budidaya kelapa, sengon dan singkong untuk membanjiri China masih sangat besar. Yang perlu coconut milk, barecore dan tapioka juga bukan hanya China.

    Pada saat presiden Trump mematok tarif impor produk RI ke AS 32% dan produk AS ke RI 0% , mestinya kita santai. AS itu negeri yang sudah sangat tinggi biaya hidupnya, hingga produk apa pun yang mereka buat, jatuhnya akan mahal. Ya sudah produksi saja barang-barang industri modern yang mahal untuk merajai pasar dunia. Misalnya bisnis hiburan digital. Tetapi dalam sektor ini pun sekarang AS juga kalah dari Jepang dan Korea. Bahkan aplikasi pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang dikembangkan BI, sekarang sudah sangat berkembang di luar Indonesia, hingga AS jadi khawatir.

    Dalam menciptakan surplus perdagangan RI – China, kementerian perdagangan tidak bisa bekerja sendirian. Kementerian Pertambangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kalautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan; semua sangat terkait satu sama lain yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Masalah utama yang dihadapi negeri ini bukan pada struktur dan sistem, melainkan pada moral manusianya. UE, AS, Jepang, Korsel dan China bisa menjadi negeri unggul bukan karena sistem dan struktur, bukan karena kekayaan sumber daya alam, melainkan karena hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *