PELUANG BISNIS MINYAK JERINGAU
by indrihr • 14/09/2016 • Herbal, PERTANIAN • 0 Comments
Di situs toko online Amazon, minyak jeringau (calamus essential oil) kemasan 18 mili liter (ml), ditawarkan dengan harga 4,99 dollar AS (Rp 54.890). Berarti harga eceran satu liter minyak jeringau di tingkat konsumen sekitar Rp 3 juta.
Harga jual di tingkat petani tentu tidak setinggi itu, tetapi pasti di atas Rp 1 juta per kilo Harga jual minyak asiri umumnya dengan satuan kilo, bukan liter, sementara harga eceran biasanya dengan satuan mili liter. Minyak jeringau digunakan untuk parfum kelas atas, aroma minumam keras, tembakau (termasuk rokok), dan makanan terutama roti. Indonesia masih mengimpor minyak jeringau untuk aroma berbagai merk rokok keretek. Padahal dalam volume sangat terbatas, kita juga menghasilkan minyak jeringau. Sentra budi daya jeringau antara lain terdapat di Jawa Tengah dan Sumatera Barat.

Jeringau merupakan tumbuhan air di tepi sungai, rawa-rawa maupun lahan yang tergenang sepanjang tahun. Masyarakat membudidayakan jeringau di comberan di pekarangan rumah. Sepintas tanaman jeringau mirip dengan pandan, tetapi daunnya lebih kecil dan tumbuh lurus seperti pedang. Warna daun hijau tua dengan permukaan licin. Batang tanaman berada dalam lumpur berupa rimpang dengan akar serabut. Penampang rimpang sekitar 1 sd. 1,5 cm, dengan panjang 15 sampai 30 cm. Jeringau tumbuh merumpun membentuk koloni.
Seluruh bagian tanaman jeringau, mulai dari daun, rimpang sampai ke akarnya berbau tajam khas jeringau. Selama ini masyarakat menanam jeringau untuk bahan obat tradisional. Misalnya untuk tapal bayi (dioleskan di perut), untuk pilis (dioleskan di dahi) pada ibu-ibu sehabis melahirkan. Tanaman ini juga merupakan salah satu prasyarat untuk memulai menanam padi di sawah. Jeringau, jerangau, dlingo, (Acorus calamus L.), disebut dengan berbagai nama dalam bahasa Inggris: sweet flag, beewort, bitter pepper root, myrtle flag, myrtle grass, myrtle root, myrtle sedge, sweet cane, sweet cinnamon, dan sweet grass.
# # #
Jeringau yang tumbuh di Indonesia, merupakan jeringau asia varietas triploid (Acarus calamus var. calamus). Selain jeringau tripliod, di Asia juga terdapat jeringau tetraploid (Acorus calamus var. angustatus Besser). Di Benua Amerika, tumbuh jeringau diploid (Acorus calamus var. americanus Raf.). Tiga varietas jeringau ini sama-sama menghasilkan minyak asiri yang disebut calamus oil. Meskipun semua bagian tanaman menghasilkan minyak asiri, umumnya yang dipanen hanya rimpangnya. Rimpang ini dijemur beberapa jam, kemudian dikering anginkan, sampai “setengah kering”.
Selanjutnya rimpang setengah kering ini dicincang dan disuling (didestilasi). Rendemen minyak jeringau berkisar antara 1 – 3,5%, bergantung dari umur panen. Rimpang jeringau, baru bisa dipanen paling cepat pada umur 1,5 tahun setelah tanam. Lebih muda dari 1,5 tahun, rendemen akan menurun. Lebih tinggi dari 1,5 tahun rendemen akan naik; hingga mencapai titik optimum sekitar 3,5%. Jeringau dipanen dengan cara membongkar rumpun tanaman, atau secara selektif dengan mengambil rimpang tua, dan membiarkan rimpang muda tetap berada di rumpun tersebut. Rimpang hasil panen dibuang pucuk dan akarnya, lalu dicuci bersih.
Budi daya jeringau mirip dengan budi daya padi di sawah. Dengan jarak tanam 30 X 30 cm, lahan seluas 100 m2, memerlukan benih berupa pucuk rimpang sebanyak 1.000 benih. Benih jeringau bisa diperoleh pada sentra budi daya, atau dengan mengumpulkannya dari masyarakat. Perusahaan jamu, dan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) di Cimanggu, Bogor, juga mengoleksi tanaman jeringau. Benih berupa pucuk rimpang ini tahan disimpan selama sekitar satu minggu, untuk dibawa ke lokasi penanaman. Lebih ideal apabila calon pekebun memroduksi benih sendiri.
Dari 1 hektar lahan sawah, dalam jangka waktu satu tahun bisa dipanen dua ton rimpang basah berikut akar. Setelah dikeringkan hanya tinggal sekitar satu ton. Dari hasil ini, akan diperoleh minyak dengan bobot antara 20 kg. sampai dengan 35 kg. Selain menghasilkan rimpang untuk diambil minyaknya, budi daya jeringau juga akan menghasilkan benih. Hasil benih ini bisa dibudidayakan sendiri sebagai pengembangan, atau dijual ke calon petani jeringau. Paling sedikit, dari tiap rumpun jeringau, akan bisa dipanen sebanyak lima pucuk rimpang sebagai benih. Hingga dari tiap hektar lahan jeringau, akan dihasilkan 5.000 pucuk benih.
# # #
Jeringau cocok dibudidayakan di lahan sawah yang kurang produktif, atau sering diserang hama. Bahkan jeringau juga bisa dibudidayakan sebagai “pagar hidup” untuk penolak hama tikus dan babi hutan. Dua jenis hama ini tidak menyukai aroma jeringau. Para petani tradisional, pada saat mengadakan “ritual tanam” akan selalu menanam jeringau di pojokan petak sawah mereka sebagai penolak bala. Selain bersifat supranatural, aktivitas ini sebenarnya juga merupakan upaya logis untuk menolak datangnya hama. Selain dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional (obat luar), daun jeringau juga bisa digunakan sebagai pestisida alami.
Carcinogenic b-asarone merupakan bahan aktif yang bersifat racun dalam jeringau. Selain itu masih ada ratusan zat aktif lain, tiga di antaranya phenylpropanes, monoterpenes, dan sesquiterpenoids. Kandungan Carcinogenic b-asarone dalam minyak jeringau tetraploid mencapai 90%, jeringau triploid 5%, dan jeringau diploid sama sekali tak mengandung zat rersebut. Secara tradisional, daun jeringau langsung ditumbuk, dicampur air, kemudian dipercikkan ke tanaman sebagai pestisida alami. Tumbukan daun jeringau ini perlu disaring apabila akan disemprotkan menggunakan sprayer.
Jeringau merupakan tumbuan asli Indonesia, yang keberadaannya makin tersisih di masyarakat. Sampai dengan dekade 1980an, masyarakat masih banyak yang membudidayakan jeringau di comberan di pekarangan rumah. Pelan-pelan jeringau menghilang, hingga generasi muda kita sama sekali tak mengenal jeringau. Sekarang pun sebenarnya tumbuhan ini masih dikoleksi secara terbatas oleh sebagian kecil masyarakat pedesaan. Padahal tumbuhan yang terlupakan ini mampu menghasilkan minyak, dengan harga jual di tingkat petani paling sedikit Rp 1 juta per kilo. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi
