• NILAI EKONOMIS KAYU PULAI

    by  • 19/11/2018 • Herbal, Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Dulu pohon pulai hanya dikenal sebagai penghasil kulit kayu, yang di Jawa disebut babakan pule. Kulit kayu pulai digunakan sebagai bahan jamu. Rasanya sangat pahit karena mengandung senyawa alkaloid ditamine, echitenine dan echitamine.

    Kulit pulai juga digunakan untuk mencegah berkembangnya bakteri Acetobacter dalam fermentasi nira aren, kelapa dan lontar, agar menjadi tuak (minuman beralkohol). Nilai ekonomis kayu pulai hampir tidak ada. Karena kayunya sangat lunak. Tingkat kekuatan dan keawetannya juga rendah. Maka yang memerlukan kayu pulai, paling banter hanya sebatas para perajin topeng. Tapi seberapa besarkah kebutuhan kayu pulai bagi para perajin topeng? Itulah sebabnya pohon pulai tumbuh aman di lahan-lahan penduduk, tanpa ada yang mengusiknya. Selain karena tak bernilai ekonomis, pulai juga tak terusik karena orang percaya pohon ini tempat tinggal setan.

    Kemudian pulai juga pernah dijadikan elemen taman, peneduh jalan serta pelindung halaman perkantoran. Tapi pamor pulai kalah dari pohon-pohon lain. Misalnya asam jawa, trembesi, angsana, bahkan juga bintaro. Tapi pulai tetap mudah dijumpai di banyak tempat di kota-kota besar di Indonesia, termasuk di DKI Jakarta. Di Taman Monumen Nasional, Taman Lapangan Banteng, bahkan di depan Kantor Kwartir Nasional Gerakan Pramuka di Jalan Merdeka Timur, tumbuh sebatang pohon pulai yang sudah berdiameter lebih dari satu meter. Pasti sudah berumur puluhan, bahkan mungkin satu abad lebih.

    Tapi sejak dua dekade belakangan ini, kayu pulai jadi komoditas bernilai tinggi. Sebuah perusahaan perkayuan di Tangerang, Banten memasang permintaan kayu pulai. Kayu pulai gelondongan panjang 102 centi, 132 centi dan 202 centi diameter 15 – 18 centi dihargai Rp 450.000 per batang. Diameter 19 – 24 centi Rp 850.000 per batang. Yang berdiameter di atas 25 centi, dihargai Rp 950.000 per batang. Balken (balok kaleng) tebal 10 centi lebar 15 centi dihargai Rp 1.200.000 per meter kubik. Kayu lepas pulur dan lepas kulit (sown timber) tebal 2,8 – 5,3 centi, lebar 6, 8, 10, 12 dan 14 centi, dibandrol Rp 1.500.000 per meter kubik.

    # # #

    Dengan panjang 103 centi dan diameter 20 – 25 centi, gelondongan sengon hanya dihargai Rp 550.000. Dengan panjang dan diameter sama, gelondongan pulai dihargai Rp 850.000 per batang. Ternyata, lunaknya kayu pulai, bukan hanya merupakan kekurangan, tetapi juga menjadi kelebihan. Karena lunak, kayu pulai mudah dibentuk dan dipotong. Tekstur kayu pulai halus dengan serat yang teratur. Warnanya putih. Karena mudah dibentuk, kayu pulai bisa dibuat pensil, cetakan (moulding), papan panel, peredam suara ruangan dan sound sistem. Dengan penggunaan yang luas, kayu pulai menjadi bernilai komersial cukup tinggi.

    Tingginya harga kayu pulai, juga disebabkan faktor hukum pasar. Kalau permintaan tinggi pasokan kurang, harga akan naik; juga sebaliknya. Sampai sekarang pasokan kayu pulai lebih rendah dari permintaan, karena belum ada yang membudidayakannya secara monokultur dalam skala komersial untuk menghasilkan kayu. Padahal pertumbuhan pulai juga relatif cepat, meskipun tidak secepat sengon laut/jeungjing. Dengan kriteria diameter gelondongan antara 15 – 24 centimeter, kayu pulai sudah bisa dipanen pada umur di bawah 10 tahun. Pulai juga tak disenangi hama dan hampir tak pernah kena penyakit tumbuhan.

    Jadi selama ini, kebutuhan kayu pulai masih dipasok dari upaya “perburuan” satu dua pohon pulai yang tumbuh secara tak sengaja di lahan penduduk. Pohon-pohon pulai sebagai elemen taman atau tanaman peneduh di jalan, jarang sekali diremajakan. Harga kayu pulai akan cenderung semakin tinggi, karena jenis pohon ini tak pernah tersentuh publisitas. Baik sebagai penghasil babakan pule, elemen taman/pohon peneduh, maupun penghasil kayu. Karenanya dalam jangka beberapa dekade ke depan, kebutuhan akan terus tumbuh, sementara penanaman secara monokultur masih belum ada yang tertarik melakukannya.

    # # #

    Pulai juga disebut pule, kayu gabus, lame, lamo dan jelutung. Nama inggrisnya cukup banyak, blackboard tree, devil tree, ditabark, milkwood-pine, saptparni, shaitan tree, white cheesewood. Nama botaninya Alstonia scholaris. Sebutan jelutung bagi pulai juga membingungkan, sebab ada pohon lain yang bernama jelutung, jelutong, Dyera costulata. Dua tumbuhan penyandang nama jelutung ini memang masih sama-sama famili Apocynaceae. Bedanya, yang satu sudah dibudidayakan meski masih terbatas, satunya lagi masih tumbuh liar di hutan-hutan Kalimantan.

    Habitat asli pulai tersebar mulai dari Asia Selatan, Asia Tenggara, bagian barat RRT, bagian timur Australia, sampai ke Kepulauan Solomon di Pasifik. Pulai bisa tumbuh baik mulai dari dataran rendah, sampai ke kawasan pegunungan berelevasi 1000 meter di atas permukaan laut. Pulai tumbuh berupa pohon dengan tajuk rindang sampai ketinggian 40 meter. Diametar batang bisa di atas satu meter. Umur tumbuhan ini bisa mencapai ratusan tahun. Batang, percabangan dan tajuk pulai berbentuk sangat khas hingga mudah dikenali dari tempat yang cukup jauh sekali pun.

    Pulai berdaun majemuk menjari, dengan jumlah daun antara tiga sampai 10 helai daun. Bunga akan keluar serentak pada bulan Oktober setelah terjadi kemarau paling sedikit selama tiga bulan. Buah pulai berbentuk polong memanjang hingga saat mengering tampak seperti jerami yang tersangkut di tajuk pohon. Saat polong terbuka, bijinya yang kecil-kecil akan terhambur keluar dan tumbuh jauh dari tempat tumbuh induknya. Perkembangbiakan pulai hanya bisa dilakukan secara generarif lewat biji. Kayu pulai baru bisa dipanen pada pohon dengan umur di atas lima tahun sejak tanam. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Teks Foto:
    DSCN0938 Daun dan polong pulai di Taman Lapangan Monumen Nasional, Jakarta. (Foto F. Rahardi)

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *