• OLEH-OLEH PURWACENG DARI DIENG

    by  • 13/12/2018 • Herbal, PERTANIAN • 0 Comments

    Di situs penjualan online Bukalapak, Tokopedia, dan Lazada; produk kopi purwaceng ditawarkan dengan harga mulai Rp 30.000 per 4 sachet, sampai Rp 100.000 per kemasan 128 gram. Berkat era digital, sekarang, siapa pun bisa menikmati kopi purwaceng.

    Dulu, purwaceng hanya bisa diperoleh di Kaldera Dieng di Jawa Tengah. Sebelum era digital, porwaceng merupakan salah satu produk oleh-oleh khas Dieng, selain carica, dan kacang Dieng (kacang babi). Tapi, apakah purwaceng? Purwa = kuno, lama. Ceng = ereksi penis pada pria. Produk purwaceng, dipercaya masyarakat mampu meningkatkan gairah seks seorang laki-laki, hingga menyerupai Arjuna. Di tengah Kaldera Dieng, dekat Telaga Balekambang, memang terdapat kompleks candi Arjuna. Dalam kisah wayang purwa, diceritakan kemampuan seks Arjuna sungguh luarbiasa hingga beristrikan 15 perempuan cantik.

    Purwaceng, Pimpinella pruatjan, merupakan nama tumbuhan dengan sosok seperti seledri yang hanya tumbuh di dataran tinggi dengan elevasi 2000 meter di atas permukaan laut (dpl). Purwaceng menjadi identik dengan dataran tinggi Dieng, karena yang membudidayakan dan memanfaatkan tumbuhan ini hanyalah masyarakat di pegunungan Dieng. Padahal purwaceng liar terdapat di hampir semua gunung di Jawa. Mulai dari Gede Pangrango dan Galunggung di Jawa Barat, gunung-gunung di Jawa Tengah, sampai ke dataran tinggi Ijen di Jawa Timur. Biasanya yang dimanfaatkan sebagai “obat kuat” hanyalah umbi dan akarnya.

    Benarkah purwaceng bisa meningkatkan gairah seks seorang pria? Mohammad Kanedi, Sutyarso, Hendri Busman, Nuning Nurcahyani dan Wiwit Nurkhasanah dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Lampung; telah meneliti khasiat purwaceng. Penelitian ini mereka lakukan dari bulan Desember 2016 sampai dengan Maret 2017. Hasilnya, zat ethanolic yang diekstrak dari bonggol dan akar purwaceng, berpengaruh terhadap peningkatan agresivitas perilaku seksual mencit (tikus putih). Tetapi ekstrak tersebut tidak berpengaruh terhadap peningkatan libido hewan percobaan tersebut.

    # # #

    Sampai dengan dekade 1980an, keberadaan dan manfaat purwaceng hanya sebatas diketahui oleh kalangan terbatas. Mereka yang tahu manfaat purwaceng hanya sebatas masyarakat kaldera Dieng, konsumen yang umumnya kalangan bangsawan Jawa dan para peneliti. Pemanfaatan akar purwaceng sebagai obat kuat juga masih mengandalkan eksplorasi dari hutan. Sejak dekade 1980, masyarakat biasa juga mulai mengenal khasiat tumbuhan ini. Satu dua orang petani mulai membudidayakannya secara terbatas. Produk purwaceng juga masih sebatas berupa simplisia (bonggol dan akar yang dikeringkan), untuk diseduh dan diminum.

    Produk purwaceng berupa simplisia, menjamin tak ada pemalsuan. Sebab agak sulit untuk mendapatkan bonggol dan akar tumbuhan lain, yang mirip dengan purwaceng. Sejak dekade 2000, muncullah produk kopi purwaceng. Di sinilah konsumen tak mendapatkan jaminan keaslian produk tersebut. Sebab setelah menjadi kopi, sangat sulit untuk membedakan apakah komoditas itu 100% akar purwaceng, atau sudah diberi campuran bahan lain, terutama bubuk biji kopi. Sebab hampir semua produk kopi purwaceng, hanya mencantumkan jenis bahan baku, tanpa disertai komposisi kandungan masing-masing bahan tersebut.

    Salah satu merek kopi purwaceng, hanya menyebutkan bahwa komposisi produk dalam kemasan tersebut terdiri dari purwaceng, kopi, rempah-rempah, gula asli dan pasak bumi. Khasiat kopi purwaceng ini disebutkan “membantu meningkatkan stamina dan vitalitas serta mencegah kantuk. Dalam kemasan tersebut tak dijelaskan, berapa kandungan masing-masing bahan. Mengingat populasi purwaceng yang dibudidayakan di Dieng sangat terbatas, kemungkinan produk tersebut hanya sedikit sekali diberi bahan simplisia purwaceng. Bahan obat dan jamu seperti ini, memang rawan mengelabuhi konsumen.

    # # #

    Pemanfaatan purwaceng sebagai bahan obat (jamu) peningkat gairah seks di kalangan masyarakat Dieng, diperkirakan baru terjadi setelah tahun 1814. Saat itu seorang tentara Inggris melihat ada reruntuhan candi di sebuah danau di kaldera Dieng. Waktu itu Pulau Jawa berada dalam kekuasaan Inggris. Tahun 1856 pemerintah Hindia Belanda mengeringkan danau di kaldera Dieng, untuk mengungkap keberadaan candi-candi itu. Sejak itulah kembali ada pemukiman di dataran tinggi Dieng. Pemerintah Hindia Belalda kemudian mendatangkan kentang, pepaya gunung (carica Dieng), kacang babi, bahkan juga peach, ke Dieng.

    Selain penelitian para dosen dari Universitas Bandar Lampung, masih ada penelitian lain yang dilakukan oleh para dosen beberapa perguruan tinggi dan ahli dari lembaga penelitian. Selain tentang khasiat, penelitian purwaceng juga ditujukan untuk keperluan budidaya. Salah satunya hasil penelitian Devi Rusmin, dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik di Bogor. Penelitian Devin tahun 2017 ini berjudul Pengembangan Budidaya Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) Sebagai Tanaman Obat. Dalam penelitiannya di Gunung Putri, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Devin berhasil menurunkan lokasi budidaya dari elevasi 2000 meter dpl, ke 1450 meter dpl.

    Sampai sekarang, purwaceng masih sebatas dikonsumsi untuk coba-coba. Itu pun terbanyak produk berupa kopi purwaceng, yang tak jelas berapa persen kandungan purwacengnya. Padahal, untuk memperoleh hasil optimum, purwaceng dikonsumsi berupa seduhan simplisia bonggol dan akar secara rutin, minimal selama 15 hari. Selain untuk meningkatkan gairah seksual pria, sebenarnya purwaceng juga bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh dari berbagai penyakit. Khasiat ini mirip dengan ginseng Korea yang katanya juga sudah dibudidayakan di Dieng. Ternyata yang disebut ginseng Korea di Dieng itu wasabi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi:
    Tanaman purwaceng yang sepintas mirip seledri.

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *