ANEKA TUMBUHAN STIMULAN
by indrihr • 18/08/2021 • Herbal, PERTANIAN • 0 Comments
Di tengah suasana pandemi sekarang ini, banyak produk yang dipromosikan bisa “meningkatkan imunitas”. Promosi tersebut ada yang benar, tetapi sebagian besar bohong. Salah satu yang benar misalnya susu kolostrum.
Selain produk yang bisa meningkatkan daya imunitas, sebenarnya masih ada produk stimulan, yang bisa memperkuat daya tahan tubuh. Para penderita kanker, oleh dokter sering dianjurkan untuk mengonsumsi ginseng misalnya. Ginseng itu bukan obat, melainkan hanya stimulan, yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh si pasien. Dulu masyarakat Indian Inca di Pegunungan Andes, Amerika Selatan; biasa memikul kentang dari ladang ke rumah dengan jarak belasan kilometer, kadang diterpa badai salju. Agar kuat dan selamat sampai rumah, mereka mengunyah daun Erythroxylum coca.
Di Tanduk Afrika dan Jazirah Arab, orang juga harus berjalan mengarungi gurun pasir puluhan kilometer. Meskipun naik unta, tetapi fisik mereka harus tetap kuat; tahan haus, lapar, capai dan ngantuk. Agar selamat sampai tujuan, mereka mengunyah daun Catha edulis (khat). Di India, orang juga harus bekerja di ladang seharian. Agar badan tetap kuat, mereka mengunyah daun sirih dengan buah pinang dan kapur. Tradisi makan sirih ini kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan Asia Timur. Awalnya mengunyah daun koka, khat, dan sirih tujuannya bukan untuk memperoleh sensasi tertentu, tetapi agar bisa bertahan hidup.
Koka dan khat kemudian disalahgunakan. Ekstrak daun koka yang disebut kokain, dikonsumsi sekedar untuk mendapatkan sensasi kenikmatan, hingga kecanduan dan over dosis. Di banyak negara termasuk Indonesia koka dan khat dinyatakan sebagai tumbuhan terlarang. Pengaruh daun koka, khat dan sirih; hanya sebagai stimulan. Tiga daun ini bukan penimbul halusinasi seperti opium (candu), resin buah Papaver somniferum; dan ganja, bunga betina Cannabis sativa. Ekstrak opium disebut morfin. Morfin yang dimurnikan menjadi heroin. Produk sintetisnya dikenal dengan nama shabu.
Dalam dunia medis, morfin sangat diperlukan sebagai analgesik (penghilang rasa sakit) tingkat lanjut, terutama bagi para penderita kanker. Tetapi karena banyak disalahgunakan, produk asli opium maupun sintetisnya dilarang di hampir semua negara di dunia. Cannabis sebagian negara melarang, sebagian melegalkan terbatas atau penuh. Dalam perkembangan lebih lanjut, stimulan pun disintetis dalam kadar puluhan bahkan ratusan kali lebih kuat dari tumbuhan aslinya. Ekstasi merupakan salah satu produk stimulan sintetis. Stimulan hanya berpengaruh ke daya tahan tubuh terhadap haus, lapar, capai dan ngantuk. Bukan terkait aktivitas seksual.
Sirih yang Tak Dilarang
Dari tiga tumbuhan stimulan ini: koka, khat dan sirih; hanya tinggal sirih yang tak dilarang. Di Jayapura, Papua memang banyak pengumuman “dilarang makan pinang”, karena mereka yang makan sirih sering meludah di mana-mana. Beda dengan di Taiwan. Di negeri ini, makan sirih mendapatkan tempat terhormat, masuk ke kalangan elite dan generasi millenial. Di kantor dan hotel bintang di Taipei selalu tersedia tempat meludah. Di sepanjang tepi jalan arteri Taipei – Taichung, banyak kios penjual sirih dengan penjaja seksi yang disebut betel nut girls. Di India, negara-negara Indochina dan Taiwan, makan sirih dianggap lebih sehat dibanding merokok.
Lain halnya dengan di Indonesia. Di sini mengisap tembakau jauh lebih populer dan berkembang, sementara makan sirih sudah nyaris punah. Tradisi dari India ini tinggal tersisa di pedalaman, dan di kota-kota di kawasan timur Indonesia. Padahal secara umum, makan sirih memang lebih baik dibanding mengisap tembakau. Dulu, di Pulau Jawa, laki-laki dan perempuan sama-sama makan sirih. Setelah Bangsa Eropa datang dan membawa tanaman tembakau, laki-laki beralih ke mengisap tembakau, sedangkan perempuan tetap makan sirih dan nyusur (nyugi, mengulum tembakau, chewing tobacco). Pelan-pelan perempuan makan sirih dan nyusur di Pulau Jawa hilang. Sebagian dari mereka pindah ke mengisap tembakau.
Ada beberapa variasi makan sirih. Di kawasan barat Indonesia, yang digunakan daun sirih, gambir dan kapur sirih (kapur basah, Ca(OH)2). Di kawasan timur Indonesia, digunakan buah sirih, pinang muda atau biji pinang tua, dan kapur kering dari cangkang kerang yang dibakar (CaO). Selain sebagai stimulan, makan buah sirih dengan pinang muda dan kapur kering, juga bisa menimbulkan fly meskipun tak sampai ke tingkat halusinasi. Sebab dalam buah pinang muda terkandung alkaloid guvacine, arecoline, guvacoline, and arecaidine yang bisa menimbulkan pusing dan kemudian suasana rileks. Dampak negatifnya, bisa menimbulkan kanker mulut.
Di negara-negara Indochina, Filipina dan Taiwan, makan sirih menggunakan daun maupun buahnya, dengan pinang muda, bukan gambir atau biji pinang tua. Di NTT hanya digunakan buah sirih dan pinang muda atau irisan biji pinang tua yang dikeringkan. Sebagai stimulan, efek positif makan sirih tidak hanya untuk tahan haus, lapar, capai dan ngantuk; tetapi juga untuk tahan terhadap serangan penyakit akibat jamur dan bakteri. Sebab dalam daun sirih juga terkandung senyawa fenol yang bisa berperan sebagai zat antibiotik. Zat tanin dalam gambir dan pinang, akan memperkuat selaput lendir organ mulut dan pencernaan.
Dalam kaitan dengan pandemi sekarang ini, India berada di peringkat 2 dunia dengan total kasus 31,4 juta saat tulisan ini dibuat. Jumlah meninggal 421.411 (1,3% dari total kasus). Total kasus Indonesia 3,7 juta; total meninggal 89.122 (2,6% dari total kasus). Kemungkinan, tingginya persentasi meninggal akibat Covid-19 di Indonesia dibanding di India; terkait dengan tingkat konsumsi tembakau dan tradisi makan sirih. Konsumen tembakau di India hanya 11,15% dari populasi 1,39 milyar, peringkat 112 dunia. Indonesia 39,90% dari populasi 276,6 juta, peringkat 7 dunia. Sampai sekarang mayoritas penduduk India masih makan sirih, di Indonesia konsumen sirih sudah nyaris punah. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
