KETUPAT SUMPIL YANG TERLUPAKAN
by indrihr • 18/10/2021 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Pada awal dekade 2000 saya merindukan pecel semanggi dan sumpil di kampung halaman saya di Ambarawa. Memang masih ada yang jual, tetapi sumpilnya sudah berganti dengan lontong biasa, itu pun bungkus plastik, bukan daun pisang.
Padahal sumpil asli berbungkus daun bambu, berukuran kecil berbentuk segitiga pipih. Lain dengan bakcang (bacang), yang juga dibungkus bambu, berbentuk segitiga, tetapi berukuran besar, gemuk bahkan hampir bulat. Sumpil berasal dari Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah; pada abad 15. Di Kaliwungu sumpil dibuat sebagai menu utama dalam makanan hantaran (weh-wehan), tiap acara Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Tradisi ini berkembang ke kabupaten lain di Jawa Tengah, dengan modivikasi. Di Temanggung, sumpil bukan menu Maulid Nabi, melainkan untuk pelengkap acara kacar-kucur dalam pernikahan.
Di Purworejo dan Kebumen, ketupat sumpil dibuat sebagai menu hantaran dalam perayaan Idul Fitri; bukan dalam peringatan Maulid Nabi. Di Ambarawa, Kabupaten Semarang, sumpil bukan lagi menjadi menu istimewa dalam acara Maulid Nabi, atau Idul Fitri, melainkan dijual sebagai menu biasa setiap hari, dan disantap dengan pecel semanggi. Di Banjarnegara, sumpil disantap dengan uceng goreng, ikan kecil-kecil yang berbentuk mirip lele (jeler kecil, Nemacheilus chrysolaimos). Meskipun sumpil bisa disebut sebagai makanan khas Jawa Tengah, tetapi hanya beberapa kabupaten yang mengenal menu ini. Istri saya yang dari Bayat, Klaten tak mengenal sumpil.
Aslinya, sumpil merupakan sebutan untuk siput ujung lidi (siput darat Subulina octona). Siput ini berukuran sangat kecil, berbentuk segitiga memanjang 1 – 2 sentimeter. Kemudian sumpil juga digunakan pula untuk menyebut siput susuh kura (siput sungai, Sulcospira testudinaria); karena ukuran dan bentuknya sama dengan siput ujung lidi. Bedanya, siput ujung lidi berwarna cokelat kekuningan, siput susuh kura berwarna hitam. Ketupat daun bambu ini disebut sumpil, karena berukuran kecil, dengan bentuk segitiga mirip dengan sumpil siput darat maupun sungai.
Satu sisi horisontal bagian bawah segitiga sama sisi ketupat sumpil, merupakan hubungan persaudaraan antar sesama manusia. Hubungan ini diwujudkan secara konkrit dengan menghantarkan ketupat sumpil dan opor ayam, ke para tetangga dan mereka yang dituakan pada tiap Maulid Nabi. Dua sisi vertikal segitiga itu merupakan hubungan antar individu manusia dengan Allah. Falsafah sumpil ini dikemukakan Sunan Kalijaga, karena pemeluk Hindu di Kaliwungu saat itu masih sangat kuat. Sama dengan di Kudus, soto di Kaliwungu juga menggunakan daging kerbau, sebagai penghormatan terhadap pemeluk Hindu.
Dijodohkan dengan Semanggi
Di Purworejo dan Kebumen, sumpil disebut ketupat “siluman” karena hanya muncul tiap Idul Fitri, kemudian menghilang. Lain dengan di Temanggung, ketupat sumpil selalu tampak pada acara kacar-kucur; dan di Ambarawa yang dijajakan bersama pecel semanggi. Penjodohan sumpil dengan pecel semanggi, hanya terjadi di Ambarawa dan sekitarnya. Sebab tradisi mengonsumsi semanggi untuk pecel, berasal dari Jawa Timur, terutama Surabaya dan sekitarnya. Semanggi Marsilea crenata, merupakan gulma air jenis paku-pakuan. Sepintas semanggi mirip dengan daun asam kecil, calincing, Oxalis corniculata.
Di Jawa Timur, pecel semanggi hanya dikonsumsi sebagai pecel, dimakan dengan tahu dan kerupuk. Semanggi sebagai sayuran juga dikenal di Banten, sekitar Jakarta dan Cirebon. Di sini selain dijadikan pecel, semanggi juga disayur bening. Diduga, tradisi mengonsumsi semanggi di kawasan ini berasal dari zaman Sunan Gunung Jati (Fatahillah) pada abad 16. Meskipun bisa dikonsumsi, populasi penggemar semanggi sangat kecil, hingga sampai sekarang tumbuhan ini tak pernah dibudidayakan. Masyarakat hanya mengambil semanggi di areal tanaman padi sebelum semanggi dan gulma lain disiangi.
Sebagai gulma air, popularitas semanggi kalah dengan genjer, Limnocharis flava; yang tiap hari sudah bisa dijumpai di pasar. Namun semanggi dan gonda, Sphenoclea zeylanica; masih lebih populer dibanding wewehan, eceng leutik, Monochoria vaginalis. Semanggi dan gonda sudah ditawarkan di marketplace. Eceng leutik hampir tak ada yang mengenalnya sebagai sayuran. Padahal eceng leutik bisa dikonsumsi pucuk daun maupun bunganya. Rasanya juga lebih enak dibanding kangkung dan genjer. Eceng leutik memang sulit dibedakan dengan eceng (Monochoria hastata) dan eceng gondok (Eichhornia crassipes).
Beda dengan sayuran pada umumnya yang dikonsumsi mentah sebagai lalap (salad), atau direbus/dikukus; semanggi dikonsumsi dengan disangrai (digoreng tanpa minyak di wajan gerabah, sangan). Menyangrainya pun harus dengan cepat dan diaduk terus. Kalau tidak, sebagian daun semanggi sudah gosong, sedangkan sebagian lain masih mentah. Mengambil semanggi di sawah juga memerlukan keterampilan tersendiri, karena diambil di sela-sela tanaman padi, berukuran sangat kecil dan campur dengan gulma lain. Kadang juga keliru dengan semanggi Marsilea minuta dengan tepi daun bergerigi.
Pecel semanggi yang dikonsumsi dengan sumpil, merupakan menu eksotis yang semakin terkikis. Tak semua daun bambu bisa digunakan sebagai pembungkus sumpil. Biasanya yang digunakan daun bambu tali (bambu apus, Gigantochloa apus), atau bambu talang (bambu lemang, Schizostachyum brachycladum). Daun bambu kuning bali, yang banyak ditanam sebagai bambu hias juga bisa digunakan sebagai pembungkus ketupat sumpil. Bambu kuning bali sebenarnya sama dengan bambu talang, spesies Schizostachyum brachycladum. Resep dan teknik membuat sumpil bisa dilihat di situs youtube. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
