• MEMBASMI WALANG SANGIT SECARA ALAMI

    by  • 01/11/2021 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Walang sangit, rice ear bug, Leptocorisa oratoria; salah satu hama padi yang bisa menggagalkan panen. Walang sangit mengisap gabah saat fase masak susu, hingga beras gagal terbentuk. Gabah menjadi hampa dan produksi padi bisa tinggal separo atau nol.

    Disebut walang sangit karena serangga ini beraroma sangit (menyengat). Aroma sangit ini diciptakan Allah untuk melindungi si walang (belalang) dari serangan predator, terutama burung. Tetapi manusia justru memanfaatkan aroma sangit ini untuk memperlahap nafsu makan. Di beberapa tempat, walang sangit dibuat sambal. Sebenarnya aroma sangit bukan hanya monopoli walang sangit. Beberapa jenis kepik dan kumbang, bahkan beraroma lebih menyengat dibanding walang sangit. Aroma “sangit” ini sedemikian melekat pada walang sangit, hingga culantro yang beraroma menyengat, disebut daun walang, walangan, walang sangit, walangin.

    Walang sangit sebenarnya bukan hanya hama padi. Jenis serangga ini menyerang tanaman apa saja, untuk dihisap cairannya. Mulai dari kacang panjang, buncis, kapri. Pada musim kemarau, walang sangit bertahan hidup dengan mengisap cairan biji rumput di lahan-lahan nganggur yang masih basah. Daur hidup walang sangit antara 35-115 hari dan akan menghasilkan antara 100-200 butir telur. Telur akan menetas setelah tujuh hari. Populasi walang sangit meningkat antara 5.000-10.000%, ketika menemukan bulir padi pada fase masak susu. Nutrisi dari cairan susu pada bulir padi ini, akan membuat walang sangit hiper populasi di lahan sawah.

    Serangga walang sangit bisa dibasmi dengan pestisida (racun) kontak. Selain memerlukan biaya tinggi, residu pestisida beresiko mencemari padi yang sebentar lagi akan dipanen. Selain itu pestisida juga berpotensi membuat walang sangit kebal (resisten) terhadap pestisida. Untuk membasminya diperlukan pestisida dengan bahan aktif lebih kuat, atau dengan dosis lebih tinggi. Bahan aktif kuat dan dosis tinggi ini akan menciptakan resistensi baru hingga pada akhirnya pembasmian walang sangit dengan pestisida tidak akan efisien lagi, sementara residunya akan semakin mencemari beras yang dihasilkan.

    Dulu, para petani tradisional menggunakan yuyu, ketam, kepiting sawah, Parathelphusa convexa; yang ditusukkan di bilah bambu. Bilah-bilah bambu dengan yuyu di ujungnya ditancapkan di lahan sawah. Aroma busuk yuyu ini akan menarik perhatian walang sangit, hingga berkerumun di sekitarnya. Pada malam hari, petani datang membawa obor untuk membakar walang sangit yang berkerumun di bangkai yuyu. Cara ini dilakukan petani pada saat padi masuk ke fase bunting, sampai bulir padi mulai mengeras. Biaya yang dikeluarkan hampir nol, sebab yuyu ditangkap dari sawah, bambu atau kayu diambil dari kebun. Obor menggunakan daun kelapa kering.

    Diganti Keong Mas

    Yuyu sebenarnya juga merupakan pengganggu lahan sawah. Satwa air ini memang tidak mengganggu tanaman padi. Yuyu memakan cacing dan satwa air kecil lainnya. Gangguan yang ditimbulkan yuyu sawah, karena satwa air ini membuat lubang persembunyian dengan menembus pematang sawah. Akibatnya, air tak bisa menggenang di permukaan sawah dan padi terancam kekeringan. Populasi yuyu yang tinggi berpotensi menurunkan produktivitas padi karena kekurangan air. Hingga pemanfaatan yuyu sawah untuk membasmi walang sangit, sebenarnya bermanfaat ganda; membasmi hama dengan satwa pengganggu.

    Peran yuyu sebagai perangkap walang sangit, bisa diganti dengan keong mas, Pomacea canaliculata; yang merupakan hama padi. Keong mas berasal dari Benua Amerika, dan baru didatangkan secara illegal ke Indonesia pada dekade 1980. Dalam waktu singkat, keong mas yang lepas ke perairan umum berkembang invasif dan menjadi hama padi, karena memakan tanaman muda. Keong mas beda dengan keong sawah, Pila ampullacea yang hanya memakan lumut serta gulma padi lunak. Keong mas yang dihancurkan cangkangnya dan ditusukkan ke bilah bambu, bisa menjadi pengganti yuyu sawah.

    Bekicot (keong racun) yang hidup di lahan kering, juga bisa dijadikan pengganti yuyu dan keong mas. Bekicot juga merupakan hama tanaman, terutama tanaman sayuran. Populasi bekicot kadang juga sangat besar dan bisa menimbulkan kerugian cukup besar bagi para petani. Mengambil bekicot malahan lebih mudah dibanding mengambil yuyu serta keong mas di sawah. Selain bekicot; tikus, kodok, dan satwa lain; juga bisa digunakan sebagai perangkap walang sangit dengan cara sama. Tetapi, menangkap tikus dan kodok lebih sulit dibanding menangkap yuyu, keong mas, dan bekicot.

    Belakangan, yuyu memang semakin sulit dijumpai di lahan sawah. Bukan hanya yuyu tetapi juga satwa air lain. Bahkan gulma padi edible seperti genjer, semanggi, wewehan dan gonda juga punah di sebagian sawah yang saya amati pada akhir September 2021. Saya mengamati sawah di Kabupaten Kulonprogo (DIY); Magelang, Wonosobo, Temanggung, dan Semarang (Jateng). Di lima kabupaten ini lahan sawah nyaris steril dari gulma edible. Keberadaan satwa air tak sempat saya observasi. Dalam pengamatan saya pada 2019, populasi burung air seperti kuntul dan blekok di lahan-lahan sawah di Jateng dan DIY pulih seperti sebelum dekade 1960.

    Lahan sawah di elevasi menengah di Jawa Barat; masih relatif baik kondisinya. Empat gulma sawah edible masih bisa dijumpai dengan populasi cukup besar. Demikian pula dengan yuyu, dan keong sawah. Keong mas yang pernah sangat dikhawatirkan akan invasif dan menjadi hama serius bagi tanaman padi; ternyata tak berkembang baik di lahan sawah. Keong mas justru hiper invasif di rawa-rawa dan setu di Jawa Barat. Hama keong mas dari rawa-rawa dan setu ini bisa dimanfaatkan sebagai pembasmi walang sangit di lahan sawah. Mambasmi hama dengan menggunakan hama ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *