• HARGA PORANG ANJLOK

    by  • 20/12/2021 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Saya petani porang pemula, dengan lahan kurang dari 1 hektare. Mengapa setelah presiden berkunjung ke pabrik pengolahan porang, harga komoditas ini justru anjlok? Tahun lalu bisa Rp 13.000 per kilogram, sekarang tinggal 6.000 per kilogram (Ade, Surakarta).

    Sdr. Ade, berita di media massa memang menyebutkan seperti yang Anda sampaikan. Tetapi itu tidak benar. Tahun 2020 harga umbi porang konsumsi pabrik berkisar antara Rp 3.000 sampai Rp 8.000 per kilogram; bergantung kualitas barang dan jarak lokasi budidaya dengan pabrik. Tidak pernah ada umbi porang konsumsi berharga Rp 13.000 di tingkat petani. Di tingkat pabrik kemungkinan itu ada. Apabila berukuran besar, dengan perkiraan kandungan glukomanan tinggi, pabrik akan mau menerima dengan harga tinggi. Tetapi setinggi-tingginya harga porang di tingkat pabrik, kisarannya masih di bawah Rp 13.000 per kilogram.

    Dengan patokan harga umbi porang konsumsi antara Rp 3.000 – Rp 8.000; angka Rp 6.000 per kilogram masih cukup bagus. Sebab harga Rp 6.000 masih di atas titik tengah Rp 5.500 per kilogram. Bahkan sebenarnya, harga umbi porang konsumsi Rp 3.000 per kilogram pun, petani masih untung. Dengan catatan, jangan membudidayakannya dengan intensif dan padat modal. Misalnya menggunakan mulsa plastik hitam perak, dengan irigasi tetes dll. Dengan budidaya seperti itu, umbi produksi dibeli dengan harga Rp 8.000 pasti masih rugi. Porang itu produk pangan, yang memang harus berharga murah agar lebih terjangkau masyarakat luas.

    Aslinya porang dibudidayakan di bawah tegakan hutan jati Perum Perhutani, oleh para petani penggarap. Sebenarnya para petani penggarap ini sama sekali tidak membudidayakan porang dalam arti sebenarnya. Mereka hanya punya lahan garapan, porang itu dari dulu tumbuh liar di sana. Petani penggarap hanya sekedar memanen, lalu menjual hasilnya. Dengan cara budidaya seperti ini, umbi porang konsumsi dihargai Rp 1.000 per kilogram juga sudah untung. Karena petani tak mengeluarkan modal apa pun, kecuali biaya panen dan angkut (tenaga sendiri). Itulah yang terjadi sejak zaman Hindia Belanda; sampai dengan tahun 2016.

    Pada dekade 2010, menu konyaku dan shirataki masuk dari Jepang ke China. Perekonomian China yang membaik, membuat permintaan glukomanan untuk konyaku dan shirataki naik tajam. Selama ini sebagian besar glukomanan diproduksi dari umbi konjac, Amorphophallus konjac, spesies Amorphophallus sub tropis yang dibudidayakan di China, Korea dan Jepang. Karena kebutuhan glukomanan naik tajam, kebutuhan itu dipenuhi dari umbi Amorphophallus muelleri (porang, iles-iles); yang tumbuh di kawasan tropis Asia Tenggara; serta umbi Amorphophallus bulbifer, yang tumbuh di Indochina, India Utara dan selatan China.

    Sejak itulah umbi porang naik daun. Harga umbi konsumsi dan terutama benih naik tajam. Jadi harga umbi porang konsumsi tinggi (antara Rp 3.000 – Rp 8.000 per kilogram) itu baru dimulai tahun 2016. Tapi porang bukan komoditas baru. Keripik porang sudah diekspor ke Jepang pada zaman Hindia Belanda, meskipun volumenya masih sangat kecil; dan merupakan barang ikutan dari ekspor produk kayu jati. Euforia porang sejak 2016 sampai 2021; tidak disertai dengan informasi yang obyektif, lengkap dan akurat. Hingga para calon investor terjebak membeli benih dengan harga tinggi (sampai Rp 250.000 per kg), lalu membudidayakannya secara intensif.

    Porang memang komoditas mahal. Tingginya harga porang karena hukum pasar. Ketika permintaan lebih besar dari pasokan, harga akan naik. Kalau permintaan lebih kecil dari pasokan, harga akan turun. Saat ini permintaan produk glukomanan masih lebih tinggi dari pasokan. Tetapi, setelah permintaan dan pasokan stabil pun, harga pangan dari porang tetap akan lebih tinggi dari bahan lain. Karena dengan benih katak ukuran standar, diperlukan waktu tiga tahun untuk bisa menjadi umbi konsumsi. Lamanya jangka waktu budidaya inilah yang menyebabkan produk akhir porang berharga lebih tinggi dibanding singkong, ubi jalar; meskipun masih lebih rendah dari harga kentang.

    Dengan tingkat harga antara Rp 3.000 – Rp 8.000 per kilogram; harga umbi porang segar masih lebih baik dari singkong, keladi, dan ubi jalar; yang rata-rata di bawah Rp 3.000 per kilogram di tingkat petani. Harga kentang di tingkat petani, masih lebih baik; karena berkisar Rp 8.000 sampai Rp 10.000. Umur panen singkong dan keladi 9 bulan; umur panen ubi jalar dan kentang hanya 3 – 5 bulan. Hingga sebenarnya budidaya porang memang jangan menggunakan pola intensif, tetapi ekstensif, membiarkannya tumbuh liar di bawah tegakan jati, sengon dll. Karena dengan pola budidaya intensif, harga jual tak bisa menutup biaya produksi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *