• SUWEG SEBAGAI ELEPHANT FOOT YAM

    by  • 11/12/2017 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Ketika kita sebut nama suweg, tak banyak orang yang tahu. Kosa kata ini berasal dari Bahasa Jawa, dan diadopsi oleh Bahasa Indonesia, sebab tak ada padanan katanya. Di Indonesia, komoditas umbi-umbian bahan pangan ini semakin tersisih.

    Lain halnya dengan di India. Di negeri ini suweg punya banyak sebutan. Selain sebutan dalam Bahasa Inggris elephant foot yam, atau whitespot giant arum; suweg juga disebut Oal, Gandira, jangli suran, kanda, madana masta (Hindi); gandira, suvarna-gadde (Kannada); cinapavu, karunakarang, kizhanna (Malayalam);: suran (Marathi);: arsaghna, arshoghna, arsoghna, bahukanda (Sanskrit); anaittantu, boomi sallaraikilangu, camattilai (Tamil);  : daradakandagadda, ghemikanda, kanda (Telugu);  dan zamin-kand (Urdu). Banyaknya sebutan dalam berbagai bahasa di India ini, menunjukkan bahwa suweg merupakan komoditas penting di negeri ini. Meskipun komoditas ini hanya dibudidayakan di bagian tengah dan selatan India yang beriklim tropis.

    Suweg
    Tercatat ada delapan negara bagian India yang membudidayakan suweg. West Bengal 286.830 (ton);     Andhra Pradesh 181.630; Kerala 126.090; Bihar 36.160 Tamil Nadu 34.590; Karnataka 9.400; Pondicherry 1.570; Tripura 1.410; dengan total produksi    677.680 ton. Harga eceran umbi suweg di India berkisar antara 18 rupee India (INR) sampai 42 rupee India; dengan rata-rata 37 rupee India. Dengan kurs 1 rupee India Rp 206,34 harga eceran rata-rata umbi suweg di India Rp 7.634,58. Harga ini masih relatif murah. Di situs Buka Lapak, umbi suweg ditawarkan seharga Rp 20.000 tanpa menyebut satuannya, dan stok habis. Di situs inkuiri.com umbi suweg ready stock ditawarkan Rp 100.000 juga tanpa menyebut satuannya. Di pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah, harga umbi suweg di atas Rp 10.000 per kg.

    Meskipun masih dibudidayakan dan dipasarkan secara terbatas, di Pulau Jawa suweg semakin dilupakan. Pada dekade 1950, olahan umbi suweg masih dijual di pasar-pasar tradisional. Umbi suweg yang telah dikupas dan dipotong-potong itu dikukus, ditumbuk di tenggok bambu yang diberi alas daun pisang, kemudian dipadatkan. Para pembeli dilayani dengan wadah pincuk (wadah daun pisang), dengan suru (sendok daun pisang). Umbi suweg yang telah dilumatkan itu diambil dengan sodhet (pisau dari bilah bambu), ditaruh di pincuk dan diberi kelapa parut. Pada dekade 1950 itu pun, olahan umbi suweg hanya dijual pada musim kemarau, dan tidak tiap hari ada. Sebab ketersediaan umbi suweg juga sangat terbatas.

    # # #

    Langkanya umbi suweg, sebenarnya bukan karena umbi ini sulit dibudidayakan. Suweg merupakan tanaman bandel, yang tanpa ditanam pun akan tumbuh subur di bawah tegakan tanaman keras. Sampai dengan dekade 1950, suweg tumbuh di hampir semua kebun para petani di Jawa. Selain suweg, di kebun itu juga tumbuh keladi, dan uwi-uwian (genera Dioscorea). Alam seakan telah mengatur, pada saat kemarau panjang dan padi tadah hujan tak bisa ditanam, para petani di Jawa masih punya cadangan pangan berupa umbi-umbian. Suweg, uwi-uwian, dan keladi praktis bisa tumbuh tanpa pemeliharaan sama sekali. Tanaman umbi-umbian ini seakan juga kebal terhadap serangan hama serta penyakit tanaman.

    Suweg merupakan umbi batang. Umbi suweg berbentuk bulat agak pipih, dengan permukaan berbentol-bentol, karena penuh dengan mata tunas. Para petani tak pernah membawa pulang umbi suweg dalam keadaan utuh. Mereka selalu mengupas umbi itu di lubang galian, kemudian mata tunas (uer) umbi suweg itu diiris membentuk kerucut ke dalam, lalu ditaruh terbalik dalam lubang bekas galian itu. Bersama dengan kulit umbi, mata tunas itu ditimbun dengan tanah. Nanti pada waktu hujan datang, mata tunas utama itu akan tumbuh menjadi individu tanaman baru, yang akan menghasilkan umbi, minimal sama besar dengan umbi yang telah dipanen. Lalu kulit umbi suweg itu akan menumbuhkan tanaman banyak sekali anakan tanaman baru.

    Pada saat kemarau panjang, ketika umbi tidak dipanen padahal sudah berukuran optimum, suweg akan menumbuhkan bunga yang disebut “kembang bangah”. Inilah yang lazim disebut bunga bangkai, karena dari bunga itu akan tercium aroma yang sangat busuk mirip bau bangkai. Aroma ini berguna untuk menarik serangga, terutama lalat agar mendekat dan membantu penyerbukan. Para petani tidak akan memanen umbi suweg yang sudah mengeluarkan bunga bangkai, sebab sebagian energinya (karbohidratnya) telah digunakan untuk menumbuhkan bunga tersebut. Bunga suweg jarang yang terserbuki dan tumbuh menjadi biji. Kecuali dibantu penyerbukannya oleh manusia. Lain dengan bunga acung (walur) dan iles-iles (porang) yang akan terus tumbuh menghasilkan biji.

    Budidaya suweg, belakangan justru menjadi trend bagi masyarakat perkotaan. Tujuannya bukan untuk dipanen umbinya, melainkan ditunggu keluarnya bunga. Suweg menjadi pilihan tanaman eksotis dibanding bunga bangkai raksasa titan arum, sebab jangka waktu keluarnya bunga relatif lebih cepat. Titan arum paling sedikit memerlukan tujuh tahun agar bisa berbunga. Dengan ukuran umbi sama, suweg cukup perlu waktu antara tiga sampai empat tahun untuk berbunga. Karena sama-sama disebut bunga bangkai, dan ketidaktahuan masyarakat, kadangkala bunga suweg juga disebut Rafflesia arnoldii. Stasiun televivi swasta dan harian Kompas pernah terkecoh, memberitakan tentang Rafflesia arnoldii yang bisa berbunga di halaman rumah penduduk. Padahal yang disebut Rafflesia hanyalah bunga suweg.

    # # #

    Suweg, Amorphophallus paeoniifolius, merupakan satu-satunya spesies dari 198 spesies genus Amorphophallus yang umbinya bisa dikonsumsi langsung tanpa pengolahan. Sebab kandungan kalsium oksalat dalam daging umbi relatif rendah. Iles-iles, porang, Amorphophallus muelleri; acung, walur, Amorphophallus variabilis; dan konjac, Amorphophallus konjac; bisa dikonsumsi glukomanannya, yang diolah lebih lanjut menjadi konjaku, menu nol kalori khas Jepang. Belakangan para petani di Pulau Jawa, lebih tertarik untuk membudidayakan iles-iles. Harga umbi iles-iles memang hanya Rp 2.500 – Rp 4.500 per kg umbi segar. Jauh di bawah umbi suweg yang di atas Rp 10.000. Tetapi para petani lebih tertarik membudidayakan iles-iles, karena berapa pun volumenya akan diserap pasar.

    Meski harga umbi suweg lebih tinggi dari iles-iles, daya serap pasar sangat terbatas. Sebab di Indonesia belum ada industri pengolah umbi suweg seperti halnya di India.  Di India, umbi suweg bukan hanya komoditas pangan, melainkan juga bahan pengobatan tradisional  Ayurveda. Ada sekitar belasan penyakit, yang diyakini masyarakat India, bisa disembuhkan dengan mengonsumsi umbi bahkan daun suweg. Karena bernilai ekonomis sebagai bahan obat tradisional, di India suweg diawetkan dalam bentuk irisan yang dikeringkan, bahkan juga ditepungkan. Selain dikeringkan dan ditepungkan, di India umbi suweg juga diawetkan dalam bentuk pickle. Harga pickle umbi suweg kemasan 0,5 kg 195 rupee India (Rp 40.236,3).

    Dari 198 spesies genus Amorphophallus, umbi suweg merupakan yang terbesar nomor tiga. Umbi suweg rata-rata bisa mencapai bobot segar 5 – 10 kg. Nomor dua terbesar umbi Amorphophallus gigas, dengan bobot umbi antara 7 – 15 kg umbi segar. Paling besar umbi titan arum, Amorphophallus titanum, dengan bobot umbi bisa di atas 20 kg. Amorphophallus gigas dan titanum, hanya dibudidayakan sebagai tanaman hias eksklusif. Umbi dua jenis bunga bangkai ini tak bisa dikonsumsi karena kandungan kalsium oksalatnya yang sangat tinggi. Untuk diproduksi sebagai penghasil glukomanan juga kurang ekonomis, karena untuk mencapai bobot optimum, dua jenis Amorphophallus ini memerlukan waktu lebih lama dibanding iles-iles dan konjac. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *