MENGHILANGKAN SIANIDA DALAM KARA BENGUK
by indrihr • 13/11/2018 • Herbal, Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Saya ingin mengembangkan kara benguk untuk bahan tempe. Selain rasanya yang lezat, katanya kara benguk juga berkhasiat mengobati penyakit Parkinson. Tetapi bagaimanakah cara menghilangkan racun dalam biji kara benguk itu? Rusdi, Karawang.
Sdr. Rusdi, biji kara benguk memang mengandung levodopa (L-DOPA, L-3,4-dihydroxyphenylalanine, C9H11NO4). Dalam dunia farmasi, levodopa digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari pengembangan otot dalam binaraga, sampai ke obat parkinson. Tetapi, kara benguk sebagai kacang-kacangan yang diolah dan dikonsumsi menjadi tempe, tentu tidak berkhasiat sebagai obat parkinson. Sebab dalam biji kara benguk, kandungan levodopa itu terlalu rendah hingga hampir tak berefek apa pun.
Zat levodopa dalam biji kara benguk, baru akan bermanfaat sebagai bahan obat, apabila telah diekstrak (diisolasi), hingga diperoleh bahan aktif dalam volume yang cukup. Bahan aktif levodopa hasil ekstraksi dari biji kara benguk inilah yang kemudian diolah lagi, hingga menjadi berbagai senyawa, untuk berbagai keperluan. Bahan aphrodisiak (zat peningkat libido) yang sering disalahtafsirkan sebagai peningkat keperkasaan seseorang, misalnya merk Viagra, salah satunya juga berbahan baku levodopa. Hingga pemanfaatan levodopa dalam dunia farmasi memang cukup luas.
Kendala utama pemanfaatan biji kara benguk sebagai bahan pangan, karena adanya kandungan racun hidrogen sianida (Hydrogen cyanide, HCN) yang cukup tinggi. Racun HCN, tidak hanya terkandung dalam kara benguk, melainkan juga dalam umbi singkong racun (singkong bahan gaplek/tapioka), biji kepayang (picung), dan umbi gadung. Meski bisa mematikan, racun HCN bisa dinetralisir dengan mudah. Salah satu cara, dengan perendaman dalam air selama 12 jam.
Dibanding dengan biji kepayang, dan umbi gadung; kandungan racun HCN dalam biji kara benguk relatif lebih rendah. Karenanya cara menghilangkan HCN dalam kara benguk juga tak serumit dalam biji kepayang dan umbi gadung. Biji kara benguk dari polong yang sudah cukup tua, atau sudah mengering, direbus setengah matang, dibuang kulit bijinya dan dipecah jadi dua keping, lalu direndam dalam air selama 12 jam. Setelah itu biji dikukus sampai benar-benar masak, lalu diberi ragi tempe, dibungkus dan diperam.
Di pedalaman DIY dan Jawa Tengah, terutama di bagian selatan, masyarakatnya masih membudidayakan kara benguk, dan mengolahnya menjadi tempe. Di kawasan ini, tempe kara benguk mentah masih bisa dijumpai dijual di pasar-pasar tradisional. Tempe benguk yang sudah masak, biasanya diolah menjadi tempe bacem, juga dijual di warung-warung kecil, yang juga menjual tiwul dan menu tradisional lainnya. Meskipun konsumen kara benguk masih cukup banyak, belum pernah ada upaya untuk membudidayakannya secara massal.
Lain halnya dengan di Amerika Serikat (AS). Di negeri adidaya ini, kara benguk justru dibudidayakan secara massal oleh perusahaan farmasi, untuk diekstrak levodopanya. Maklum, industri farmasi di negeri ini memang sudah cukup maju, dengan pasar seluruh dunia. Karenanya mereka memerlukan bahan baku dalam volume besar secara kontinu. Karena keterbatasan raw material berupa biji atau polong kara benguk, pelaku usaha farmasi di AS ini mengebunkan sendiri kara benguk untuk mereka ekstrak levodopanya.
Kara benguk, velvet bean, Mucuna pruriens, merupakan tumbuhan semusim dari suku polong-polongan, Fabaceae. Disebut velvet bean karena kulit polongnya berbulu halus mirip dengan permukaan beludru. Ada dua varietas kara benguk. Yang berbiji putih Mucuna pruriens var. utilis; dan berbiji hitam Mucuna pruriens var. hirsuta. Genus Mucuna terdiri dari 82 spesies dan beberapa di antaranya merupakan tanaman hias. Salah satu tanaman hias genus Mucuna yang cukup populer adalah bunga api, flame of Irian, Mucuna bennettii.
Sebenarnya, para petani agak malas membudidayakan kara benguk, karena ada varietas yang bulu-bulu halus pada batang, daun, serta kulit polongnya menimbulkan gatal luarbiasa pada kulit. Varietas ini oleh para petani di Jawa disebut rawé. Peribahasa “rawé- rawé rantas malang-malang putung” bermakna rintangan berupa tumbuhan rawe yang gatal akan terpangkas, dan rintangan berupa kayu-kayu yang melintang akan putus. Dan produktivitas polong/biji rawé, justru lebih tinggi dari kara benguk biasa yang tak gatal. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Teks Foto:
Polong kara benguk (foto F. Rahardi)
