BUAH PARIJOTO
by indrihr • 28/07/2026 • Uncategory • 0 Comments
Baru-baru ini saya diajak teman ke Kecamatan Dawe di Kabupaten Kudus. Di sana banyak penduduk menanam buah parijoto. Katanya apabila ibu hamil rutin mengonsumsi parijoto, anaknya akan cantik/tampan. Benarkan info tersebut? Laksmi, Semarang.
Sdri. Laksmi, wajah cantik/tampan, tinggi badan, kapasitas otak dll. dari seseorang merupakan faktor genetik, gabungan antara gen pihak laki-laki dan pihak perempuan. Hingga tidak ditentukan oleh faktor nutrisi saat ibu hamil. Nutrisi memang akan sangat berpengaruh ke pembentukan organ tubuh janin, tetapi itu berupa kelengkapan dan keberimbangan. Itulah sebabnya ibu hamil, sering ngidam (nyidam) makanan tertentu. Itu sinyal alam bahwa tubuhnya memerlukan protein, vitamin C dll.
Jadi informasi bahwa ibu hamil yang mengonsumsi buah parijoto secara rutin bayi yang dilahirkannya akan cantik/tampan, jelas tidak benar. Semua buah-buahan penting untuk dikonsumsi manusia, terlebih ibu hamil. Sebab buah-buahan merupakan sumber gula buah (fruktosa), vitamin dan mineral yang sangat diperlukan oleh tubuh. Nutrisi yang terkandung dalam buah parijoto, juga terdapat dalam buah-buahan lain seperti pisang, pepaya, nanas, semangka, anggur dll.

Informasi tentang khasiat buah parijoto untuk berbagai penyakit juga tidak benar. Semua buah mengandung fruktosa, vitamin dan mineral; bukan zat aktif yang bisa mengobati berbagai penyakit. Terlebih lagi penyebab penyakit juga beragam. Mulai dari serangan jamur, bakteri, kuman, virus yang masuk ke dalam tubuh; disfungsi organ tubuh; luka/perdarahan dan gangguan lain akibat malnutrisi. Masing-masing penyakit memerlukan penanganan yang berbeda-beda di bawah bimbingan dan pengawasan dokter tenaga kesehatan.
Makanan/minuman yang dikaitkan dengan ibu hamil memang sangat banyak. Parijoto hanya salah satu di antaranya. Kelapa muda dengan bonggol berwarna pink juga dipromosikan bisa membuat bayi yang dikandung ibu hamil yang mengonsumsinya akan lahir cantik/tampan. Padahal nutrisi kelapa muda dalam air maupun kelapanya sama, apa pun warna kulit buah dan bonggolnya. Kalau ada yang membedakan, itu lebih faktor genetik dan lokasi budidaya. Misalnya kepapa pandan Thailand, dengan air beraroma pandan.
Parijoto, Showy Asian Grapes, Medinilla eximia; merupakan tumbuhan semak berkayu suku Senggani-sengganian, Melastomataceae. Genus Medinilla terdiri dari 374 spesies yang tersebar di Asia, Afrika dan Australia. Parijoto juga bukan tumbuhan endemik Gunung Muria. Habitat asli parijoto tersebar di dataran tinggi Malaysia dan Indonesia, kecuali Papua. Sebagai tumbuhan dataran tinggi, parijoto hanya bisa dijumpai tumbuh liar di elevasi di atas 800 meter dpl. Elevasi Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus sudah di atas 800 meter dpl.
Sebenarnya parijoto bukan hanya ditanam oleh penduduk Kecamatan Dawe, melainkan juga di desa-desa di lereng Gunung Muria, baik di Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati. Gunung Muria (1.602 meter dpl), dulunya merupakan pulau yang terpisah dari daratan Jawa. Jepara, Kudus dan Pati, dulunya berada di Pulau Muria. Zaman Kesultanan Demak, Pulau Muria masih terpisah oleh Selat Muria dari Pulau Jawa. Akibat sedimentasi lima sungai besar: Jragung, Tuntang, Serang, Lusi dan Juwana; Selat Muria jadi daratan dan Pulau Muria menyatu dengan daratan Pulau Jawa.
Masyarakat di lereng Gunung Muria menanam parijoto untuk dipanen buahnya dan dipasarkan terutama ke wisatawan dengan promosi berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit bahkan bisa membuat bayi dalam kandungan bisa menjadi cantik/tampan. Hingga kemudian buah parijoto menjadi komoditas khas lereng Gunung Muria. Rasa buah parijoto manis masam, dengan rasa kelat (sepet) waktu buah masih keras. Ketika sudah benar-benar masak rasa kelat itu berkurang, tinggal manis dan masam khas parijoto.
Budidaya parijoto untuk dipanen buahnya hanya ada di lereng Gunung Muria. Di tempat-tempat wisata dataran tinggi seperti Puncak (Bogor); Lembang, Pangalengan dan Ciwidey (Bandung); Guci (Tegal), Baturaden (Banyumas), Dieng (Wonosobo/Banjarnegara); Bandungan (Semarang), Kaliurang (Sleman DIY); Tawangmangu (Karanganyar), Tretes dan Batu (Jatim); juga di lokasi wisata pegunungan di Luar Jawa, tanaman parijoto dibudidayakan sebagai tanaman hias dengan bunganya yang khas. Saat dibawa ke dataran rendah, tanaman parijoto akan tumbuh merana. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
