CAPUNG UNTUK PENGENDALIAN DBD
by indrihr • 26/08/2026 • Uncategory • 0 Comments
Saya baru saja diberi link oleh seorang teman tentang capung. Dalam link yang diberikan teman itu disebutkan capung makan nyamuk sampai 40 ekor per hari. Benarkah informasi ini? Kalau benar berarti capung bisa membantu pengendalian nyamuk penyebar virus Deman Berdarah Dengue. (Mas Don, Lampung).
Sdr. Mas Don, informasi tersebut benar. Seekor capung dewasa memang bisa mengonsumsi nyamuk sampai 40 ekor per hari. Dengan catatan capungnya sedang lapar dan nyamuknya tersedia sebanyak itu. Dalam praktek, capung sebagai serangga karnivora akan makan serangga apa saja yang bisa dimakan termasuk nyamuk. Potensi capung sebagai pengendali nyamuk sebenarnya bukan pada serangga dewasa (imago) melainkan larvanya.
Sebab masa hidup capung dewasa, misalnya capung merah, the red-winged dragonfly, Neurothemis terminata, satu bulan sampai enam bulan. Sedangkan larvanya yang hidup di air memerlukan waktu satu sampai dua tahun. Dalam cuaca yang sangat panas dan banyak makanan, larva capung merah bisa menjadi dewasa kurang dari satu tahun. Hingga potensi capung sebagai pembasmi nyamuk bukan pada serangga dewasa melainkan pada larvanya.
Keberadaan air menjadi syarat utama agar capung bisa berkembangbiak. Sawah menjadi salah satu alternatif berkembangbiaknya capung. Tetapi padi akan dipanen dalam waktu paling lama empat bulan. Capung dengan masa hidup larva sampai dua tahun, hanya bisa berkembangbiak di sawah berpengairan teknis yang tergenang air sepanjang tahun. Sawah yang hanya satu kali atau dua kali tanam lalu kering tidak memungkinkan capung berkembangbiak.

Ide Anda untuk memanfaatkan capung sebagai pengendali nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai penyebar Virus Dengue, baru bisa terealisir apabila di sebuah lingkungan perumahan ada kolam, atau tempayan (ember) tempat tanaman, yang berisi air sepanjang tahun. Kolam atau tempayan itu tidak boleh diberi Abate. Pengasapan (fogging), juga jangan dilakukan sebab abate dan fogging akan membunuh larva dan capung dewasa. Agar lebih aman, dalam kolam dan tempayan itu dipelihara ikan.
Tempayan kecil berisi lumpur dan air untuk menanam lotus atau teratai, akan lebih aman tidak digunakan untuk berkembangbiak nyamuk apabila di dalamnya ada ikan cere (cethul, mosquitofish, Gambusia affinis). Meskipun sebenarnya tanpa ikan pun pasti akan datang katak dan bertelur di situ. Kecebong (berudu) fase hidup metamorfosis katak yang hidup dalam air, akan memakan jentik nyamuk. Hingga secara alamiah, sebenarnya populasi nyamuk akan terkendali apabila di sebuah lingkungan perumahan ada air yang tergenang.
Selama ini orang selalu takut ada air tergenang di lingkungan perumahan, hingga untuk amannya ditebarkan abate. Itu justru fatal sebab predator alami jentik nyamuk akan mati. Sementara nyamuk masih bisa bertelur dan jentiknya hidup di kaleng bekas dan mangkuk plastik yang terisi air hujan. Nyamuk punya daya adaptasi lebih kuat dibanding predatornya. Jadi sebenarnya berharap pada salah satu musuh alami nyamuk juga tidak tepat. Yang lebih tepat menyediakan kolam atau tempayan dan membiarkannya terisi air sepanjang tahun.
Di seluruh dunia tercatat ada sekitar 7.000 spesies capung. Dari 7.000 spesies itu sebanyak lebih dari 1.000 spesies terdapat di Indonesia. Yang paling umum dijumpai di Indonesia dan juga di dunia capung sambar hijau, capung tentara, capung badak, Green Marsh Hawk, Slender Skimmer, Variegated Green Skimmer. Nama zoologinya Orthetrum sabina. Capung ini paling mudah dijumpai karena soliter dan bisa beradaptasi hidup di lingkungan perumahan. Selain itu Orthetrum juga genus dengan spesies paling banyak sebarannya di seluruh dunia.
Sebaran capung sambar hijau mulai dari timur laut Afrika, tenggara Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara dan sebagian Australia. Berarti capung sambar mampu beradaptasi hidup di iklim gurun, sub tropis dan tropis. Dalam genus Orthetrum juga terdapat spesies dengan warna biru dan ungu yang indah sekali. Di seluruh dunia terdapat sekitar 80 spesies dalam genus Orthetrum. Dari 80 spesies itu, sebanyak sembilan spesies terdapat di Indonesia dan yang paling banyak populasinya Orthetrum sabina, si sambar hijau.
Selain menjadi salah satu pengendali nyamuk, capung juga merupakan indikator kualitas lingkungan. Lingkungan di sebuah kompleks perumahan akan dianggap baik apabila terdapat populasi dan juga spesies capung cukup banyak. Sebab berarti di kawasan itu terdapat air yang menggenang sepanjang tahun. Capung dan juga katak memberi pelajaran kepada manusia untuk tidak takut air menggenang. Jentik nyamuk akan terkendali oleh kecebong dan larva capung, selain oleh ikan dan juga serangga air lainnya. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
