BAMBU SEBAGAI POHOH PENAHAN ANGIN
by indrihr • 10/08/2026 • Uncategory • 0 Comments
Padi, jagung dan pisang merupakan tanaman budidaya yang rentan roboh terkena angin kencang. Penanaman pohon penahan angin (windbreaker tree) merupakan solusi untuk mengatasinya. Bambu salah satu alternatif windbreaker tree.
Di Australia kebun durian dikelilingi deretan sengon yang ditanam rapat sebagai windbreaker tree. Bukannya sengon juga rentan patah diterpa angin kencang? Benar, idealnya windbreaker tree memang pohon berkayu keras/liat tetapi itu tumbuhnya lama. Kalau sengon cepat sekali dan bisa segera melindungi durian dari terpaan angin kencang. Di Eropa dan AS, tanaman budidaya yang rentan roboh atau rusak memang selalu dikitari windbreaker tree. Termasuk perkebunan apel. Tetapi yang wajib dikitari windbreaker tree jagung. Tanpa dilindungi windbreaker tree jagung akan tiarap disapu angin kencang.
Di Indonesia padi sawah juga rentan roboh menjelang panen. Memang tak ada masalah sebab padi itu tetap bisa dipanen, tetapi persentase rontok akan lebih tinggi dibanding apabila tidak roboh. Jagung dan pisang juga sama. Jagung biasanya akan roboh saat sebelum berbuah, hingga penurunan produksi akan tinggi. Terlebih pisang, kalau sudah roboh sangat sulit untuk ditegakkan dan bisa berbuah. Biasanya rumpun pisang yang roboh akan dicincang oleh petani dan anakannya ditanam kembali dengan lubang tanam yang lebih dalam. Hingga windbreaker tree tetap lebih ideal ditanam di sekeliling kebun.
Syarat utama windbreaker tree, pertumbuhan pohon lurus ke atas, kuat dan lentur terhadap terpaan angin hingga tidak mudah roboh/patah. Misalnya cemara laut, Horsetail Tree, Casuarina equisetifolia. Pertumbuhan cemara laut cenderung meruncing ke atas, dengan tajuk yang tidak terlalu rapat hingga tidak menghalangi sinar matahari yang diperlukan tanaman utama. Cemara laut juga bisa tumbuh cepat dengan benih yang bisa diperbanyak secara mudah dan murah lewat stek akar. Kelemahan cemara laut sebagai windbreaker tree, bagian bawah tajuk tetap terbuka hingga angin masih bisa lolos.

Di Eropa dan AS, kelemahan cemara sebagai windbreaker tree diatasi dengan menanam tumbuhan lain yang bisa menutup bagian bawah yang terbuka. Bahkan windbreaker tree di Eropa dan AS bisa berlapis tiga. Pertama bagian bawah ditanami windbreaker tree dengan tajuk rimbun tetapi pendek. Bagian tengah diberi tanaman dengan tajuk yang agak jarang dan cemara yang menjulang tinggi sebagai “pengarah” agar angin terus meluncur ke atas dan kehilangan daya rusaknya. Model windbreaker tree seperti ini terlalu banyak memerlukan lahan hingga petakan untuk tanaman utama akan berkurang banyak.
Tiga Jenis Bambu
Di Indonesia bambu berpeluang menjadi windbreaker tree. Pertama karena bambu juga hanya tumbuh lurus ke atas, dengan jangka waktu pertumbuhan sangat cepat. Bambu juga kokoh tetapi lentur hingga tidak mungkin patah atau roboh diterjang angin sekuat apa pun. Di seluruh dunia ada 1.575 spesies bambu. Dari jumlah itu, 147 spesies merupakan tumbuhan asli Indonesia. Selain itu juga banyak spesies introduksi dari daratan Asia yang sudah masuk ke kepulauan Nusantara sejak zaman Hindu. Masuknya spesies bambu dari daratan Asia itu dibawa oleh para pedagang Hindu dan Tionghoa.
Bambu dari daratan Asia itu misalnya bambu sembilang, Giant Bamboo, Dendrocalamus giganteus dan bambu batu, pring peting, Male Bamboo, Dendrocalamus strictus yang diintroduksi dari India. Penampilan bambu sembilang mirip dengan bambu betung, Dendrocalamus asper yang asli Kepulauan Nusantara dan dalam Bahasa Inggris juga disebut Giant Bamboo. Hingga kadang bambu sembilang juga salah kaprah disebut bambu betung. Bambu cendani, Golden Bamboo, Phyllostachys aurea, yang berasal dari daratan Asia dibawa para pedagang Tionghoa ke kepulauan Nusantara.
Dari ratusan spesies bambu yang ada di Indonesia, untuk dijadikan windbreaker tree idealnya dipilih jenis yang berebung enak. Dari 1.575 spesies bambu di dunia, 110 spesies menghasilkan rebung yang bisa dikonsumsi (edible). Di Indonesia sendiri ada belasan spesies bambu dengan rebung edible. Selain dipilih yang berebung edible, mestinya juga dipilih sesuai dengan kebutuhan lahan dan tanaman yang akan dilindungi dari terpaan angin. Hingga yang diperlukan untuk dijadikan windbreaker tree spesies bambu dengan rebung edible, dengan ukuran batang/rumpun kecil, sedang dan besar.
Bambu dengan rebung edible ukuran kecil hanyalah bambu biara, Monastery Bamboo Thyrsostachys siamensis; yang berasal dari China dan Indochina. Bambu biara telah salah kaprah disebut sebagai bambu jepang. Bambu ini diintroduksi ke Indonesia baru pada dekade 1970. Bambu biara cocok dijadikan windbreaker tree di area yang tidak terlalu luas. Selama ini bambu biara lebih banyak digunakan sebagai pagar halaman atau elemen taman. Rebung bambu biara tergolong enak hingga di Thailand dibudidayakan untuk dipanen rebungnya. Untuk windbreaker tree ukuran sedang pilihannya cukup banyak.
Yang paling ideal bambu suluk, Poring Bamboo, Gigantochloa levis; bambu ater, Sweet Bamboo, Gigantochloa atter dan bambu hitam, Java Black Bamboo, Gigantochloa atroviolacea. Tiga spesies bambu ini berukuran sedang dengan rebung tergolong paling enak. Untuk windbreaker tree ukuran besar, jelas hanya bambu betung. Baik betung asli, Dendrocalamus asper; maupun betung sembilang, Dendrocalamus giganteus. Bisa juga bambu batu, Dendrocalamus strictus. Bambu cendani tidak layak jadi windbreaker tree karena tumbuhan dataran tinggi dan monopodial (menjalar) bukan simpodial (merumpun). # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
