• BETET “SURVIVE” DI JAKARTA

    by  • 19/08/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Dulu, di kampung halaman saya di Ambarawa sana, burung betet hama jagung dan jali. Begitu kawanan betet turun di lahan jagung, dalam wantu tak terlalu lama tongkol itu akan terbuka separo atau seluruhnya dan butiran jagungnya habis.

    Dekade 1960 kawanan betet itu masih tampak menghabiskan tongkol jagung. Dekade 1970 mulai langka dan dekade 1980 saya tak pernah lagi melihat kawanan betet di kampung halaman saya, juga di areal pertanian lainnya. Saya mulai berpikiran negatif jangan-jangan spesies ini punah. Sebab sebagai hama jagung, kawanan betet mudah sekali ditangkap pakai jaring nilon. Betet laku dijual sebagai pet. Mereka yang punya uang pasti akan memelihara kakatua raja. Yang uangnya pas-pasan cukup memelihara betet atau parkit. Betet menyenangkan karena bentuk paruhnya yang khas Parrots (ordo Psittaciformes).

    Selain itu bulu betet juga indah, dominan hijau dengan kombinasi kuning di sayap, pink di dada, hitam di leher dan dahi serta paruhnya yang merah. Penggemar betet memelihara burung ini bukan karena kicauannya melainkan oleh keindahan warna bulunya. Selain dijadikan pet, lenyapnya kawanan betet dari kampung halaman saya juga karena dikonsumsi. Jangankan betet yang berukuran sedang, bondol jawa (emprit) yang berukuran sangat kecil itu pada dekade 1960 juga ditangkap dan dibakar untuk lauk. Bukan digoreng karena minyak goreng mahal sekali. Itulah yang menyebabkan hampir semua spesies burung lenyap pada dekade 1960.

    Lalu pada suatu senja pada dekade 2.000 saya melihat kawanan betet itu berdatangan ke Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat. Tampaknya malam itu mereka menginap di pohon-pohon di TIM. Besuknya saya tunggu lagi saat senja dan kawanan betet itu datang dengan suaranya yang berisik dan kembali tidur di tajuk pohon-pohon di TIM. Saya menduga-duga mungkin kawanan betet itu kalau siang mencari makan di sawah-sawah di Karawang sana lalu malamnya tidur di TIM. Tetapi itu hampir tidak mungkin karena jaraknya terlalu jauh. Apakah mereka mencari makan di sekitar Jakarta?

    Tak sampai menunggu lama, secara tak sengaja pada suatu pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, saya melihat betet-betet itu makan bunga tayuman, daun kupu-kupu, Butterfly Tree, Bauhinia purpurea; dan buah asem londo, Manila Tamarind, Pithecellobium dulce, di Lapangan Banteng. Waktu itu sebenarnya saya ingin memotret punai gading, pink-necked green pigeon, Treron vernans; dan takur ungkut-ungkut, coppersmith barbet, Psilopogon haemacephalu yang menjadi penghuni tetap pohon-pohon di Lapangan Banteng, Monumen Nasional dan Istana Kepresidenan serta spesies lain yang kalau pagi menampakkan dirinya.

    Dari 246 Spesies Tinggal 145 Spesies

    Betet, red-breasted parakeet, Psittacula alexandri; termasuk spesies yang bisa beradaptasi dari burung hama menjadi penghuni metropolis Jakarta. Betet termasuk burung pemakan segala (omnivora). Meskipun menu utamanya tetap biji-bijian dan buah-buahan. Betet yang tidur di TIM bukan hanya mencari makan di Lapangan Banteng, melainkan juga di Taman Monumen Nasional, Halaman kompleks Istana Kepresidenan dan Sekretariat Negara, sampai ke Ancol. Sebagai burung omnivora betet juga bukan hanya sebatas makan bunga tayuman dan biji asem londo, melainkan biji dan buah apa saja.

    Kalau bicara spesies burung yang menghuni Jakarta, angka 145 spesies itu perkiraan dan bergantung waktu serta lokasi surveinya. Sebab Jakarta itu terlalu luas. Di Jakarta Selatan ada Kebun Binatang Ragunan yang juga menjadi tempat pemukiman aneka burung. Jalur hijau di tebing kali Ciliwung dan situ (setu) juga menjadi “benteng” terakhir spesies burung pemakan ikan seperti raja udang biru, cerulean kingfisher, Alcedo coerulescens; cekakak jawa, Javan kingfisher, Halcyon cyanoventri. Pulau Rambut yang juga wilayah Jakarta, malah berstatus Suaka Margasatwa, yang dihuni sekitar 60 spesies burung dengan populasi 20.000 ekor.

    Data burung di Jakarta sebanyak 145 spesies merupakan penurunan dari sebanyak 246 spesies pada tahun 1946. Harap maklum, tahun itu Jakarta hanya dihuni oleh 1,3 juta jiwa. Rawa-rawa masih banyak, kampung Betawi masih dipenuhi pohon dan rumpun bambu. Di sekitar Jakarta juga masih banyak sawah dan perkebunan. Jangankan tahun 1946, dekade 1970, di Rawa Belong masih banyak petani anggrek. Jalan yang menghubungkan Jalan Raya Bogor dengan Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, disebut jalan Lapangan Tembak karena di situ memang ada lapangan untuk latihan menembak, di antara perkebunan karet.

    Bumi Perkemahan Pramuka di Cibubur dan Taman Mini juga merupakan “oasis” bagi beberapa spesies burung. Yang paling banyak dilihat masyarakat pastilah kutilang, Sooty-headed Bulbul, Pycnonotus aurigaster; merbah cerukcuk, Yellow-vented Bulbul, Pycnonotus goiavier; tekukur, Spotted Dove; Spilopelia chinensis dan perkutut, zebra dove, Geopelia striata. Empat spesies burung ini paling sering menampakkan diri di pemukiman karena bisa beradaptasi makan sisa-sisa (remah) makanan manusia. Dengan daya adaptasinya yang tinggi, empat spesies ini bisa survive dengan lingkungan dan pakan berbeda.

    Dulu di bangunan-bangunan Belanda, yang tampak dominan hanya burung gereja, Eurasian Tree Sparrow, Passer montanus malacensis; dan sriti, cave swiftlet or linchi swiftlet, Collocalia linchi. Dua spesies inilah yang paling awal beradaptasi dengan Kota Jakarta. Burung gereja dari tinggal di pohon-pohon di benua Eropa beradaptasi tinggal di bangunan Belanda. Sriti dari gua-gua jadi nyaman tinggal di celah tembok. Sekarang betet dari burung hama yang dibenci petani di kampung halaman saya, bisa survive tinggal di Metropolitan Jakarta dengan mengubah jenis makanan dari jagung ke bunga tayuman dan biji asem londo. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *