• BAMBU MONOPODIAL DAN SIMPODIAL

    by  • 12/11/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Dalam adegan film silat Mandarin, sering ditampilkan adegan pertarungan di hutan bambu. Bambu di China tumbuh satu-satu dengan jarak berjauhan, hingga mudah ditebang dan dipanen rebungnya. Beda dengan bambu di Indonesia yang tumbuh sangat rapat berdekatan satu sama lain.

    Dulu saya mengira bambu-bambu itu tumbuh berjauhan satu sama lain karena rutin dipanen rebungnya. Ternyata tidak. Bambu sub tropis, misalnya bambu moso, tortoise-shell bamboo, Phyllostachys edulis, yang sekarang banyak dibudidayakan di sini, merupakan jenis bambu monopodial yang tidak membentuk rumpun. Jenis bambu monopodial menumbuhkan sulur (risom, stolon) yang memanjang dan akan menjadi anakan dengan tunas baru jauh dari induknya. Dalam youtube panen bambu di China, selalu tampak rebung itu tumbuh jauh dari batang bambu induknya, tidak seperti bambu di negeri kita.

    Suku rumput-rumputan Poaceae terdiri dari 12 subsuku. Dua diantaranya subsuku Arundinoideae (bambu monopodial, subtropis) dan Bambusoidea (bambu simpodial, tropis). Genus Phyllostachys (63 spesies) hanya salah satu genera bambu monopodial. Genera lainnya Arundinaria (4 spesies), Sasa (39 spesies), Semiarundinaria (7 spesies), Shibataea (7 spesies) dan Sinobambusa (13 spesies). Sedangkan genera bambu simpodial antara lain Gigantochloa (69 spesies), Dendrocalamus (74 spesies), Bambusa (157 spesies) dan Schizostachyum (76 spesies). Spesies bambu monopodial semua barhabitat asli subtropis, sedangkan spesies simpodial berhabitat tropis dan sub tropis.

    Meskipun bambu monopodial berhabitat asli sub tropis, tetapi sudah lama diintroduksi ke kawasan tropis bahkan gurun. Salah satunya bambu cendani (fishpole bamboo, golden bamboo, monk’s belly bamboo, monobelly bamboo, fairyland bamboo, Phyllostachys aurea). Meskipun bisa hidup di kawasan tropis termasuk Indonesia, bambu cendani hanya bisa tumbuh baik di pegunungan dengan elevasi di atas 1000 meter dpl. Di beberapa kawasan wisata, bambu cendani dijual sebagai tongkat dan joran pancing. Bambu cendani berbentuk artistik dan kuat, diameternya hanya berdiameter 2 sampai 4 sentimeter dengan panjang 2 sampai 5 meter.

    Tak ada informasi pasti, kapan bambu cendani yang berhabitat asli China itu masuk ke Kepulauan Nusantara, terutama ke Pulau Jawa. Melihat bahwa jenis bambu ini sudah tumbuh liar di kawasan pegunungan di Indonesia, kemungkinan besar bambu cendani sudah masuk ke Pulau Jawa bersamaan dengan masuknya tanaman padi sekitar tahun 2.000 sampai 1.500 SM. Jenis bambu ini termasuk “bandel” hingga mudah beradaptasi dengan berbagai iklim. Saat ini bambu cendani sudah menyebar ke seluruh dunia dan digunakan sebagai salah satu tumbuhan pionir untuk menghijaukan kawasan gurun.

    “Cangkang Kura-kura”

    Nilai bambu cendani sebagai tanaman dalam pot maupun tongkat, akan meningkat apabila ruas di bagian pangkalnya memendek, yang populer dengan sebutan “bambu cangkang kura-kura” (tortoise shell bamboo). Semakin panjang bagian “cangkang kura-kura” nilai bambu cendani akan semakin tinggi. Memendeknya ruas bambu “cangkang kura-kura” akibat penyimpangan genetik. Para penangkar tanaman hias telah menyilang-nyilangkan dan menyeleksi bambu cendani hingga tercipta beberapa kultivar dengan warna buluh dan bentuk ruas yang berbeda dengan spesies aslinya.

    Awalnya “bambu cangkang kura-kura” merupakan kelainan bentuk pada bambu cendani. Tetapi bambu cendani relatif kecil hingga di sebuah taman yang luas “cangkang kura-kura” tersebut tidak akan tampak dominan. Maka diciptakanlah “cangkang kura-kura” dari bambu moso, Phyllostachys edulis; yang berukuran lebih besar. Belakangan “cangkang kura-kura” bambu moso, lebih populer sebagai elemen taman dibanding “cangkang kura-kura” bambu cendani. Beda dengan bambu cendani yang sudah diintroduksi ke Pulau Jawa sejak 4.000 sampai 3.500 tahun yang lalu, bambu moso baru belakangan ini masuk Indonesia.

    Bambu moso juga disebut sebagai bambu tekstil, sebab bambu ini menghasilkan serat yang bisa dipintal dan ditenun menjadi bahan tekstil. Bambu moso juga dianggap sebagai penghasil rebung paling enak sedunia. Untuk menghasilkan serat tekstil di kawasan tropis, lebih murah dan mudah membudidayakan rami, sisal dan abaka, bukan bambu sub tropis. Proses pengolahan serat bambu menjadi siap pintal juga lebih rumit dan berbiaya tinggi dibanding pengolahan serat rami, sisal dan abaka. Sebagai penghasil rebung, bambu suluk (petung kalimantan), Gigantochloa levis, lebih enak dan lebih produktif dibanding bambu moso.

    Bambu monopodial dan bambu simpodial, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Rebung dan batang bambu monopodial yang tumbuh soliter lebih mudah dipanen, dibanding bambu simpodial yang membentuk rumpun. Kelemahan bambu monopodial akan mudah roboh apabila diterjang badai. Kecuali bambu cendani yang berukuran pendek dan berbatang sangat kuat hingga tahan kekeringan dan tahan terjangan angin kencang. Kelebihan inilah yang dimanfaatkan China dan negara-negara gurun, untuk menghijaukan padang pasir dengan bambu cendani.

    Tetapi di lain pihak di Amerika Serikat, Australia, New Zealand, Brasil, Kosta Rika, Kuba, Meksiko, Spanyol dan Prancis; bambu cendani menjadi sangat invasif. Sedemikian invasifnya hingga spesies ini mendesak bahkan mengalahkan spesies lokal. Di beberapa lereng gunung di Pulau Jawa bambu cendani juga tumbuh liar tak terkendali hingga menjadi hamparan yang cukup luas. Tentu ada nilai plusnya juga. Bambu cendani mencegah longsor dan meskipun terbakar habis, saat turun hujan akan kembali tumbuh rebung baru yang lebih subur dari buluh yang tumbuh sebelumnya. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi:

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *