• APAKAH DANDELION ADA DI INDONESIA?

    by  • 22/01/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Bulan lalu saya menengok cucu di Negeri Belanda. Anak saya juga para tetangga sering memasak daun dandelion. Katanya untuk “melarutkan lemak” yang banyak dikonsumsi selama musim dingin. Apakah khasiat dandelion itu benar dan apakah tanaman tersebut sudah ada di Indonesia? (Agnesia, Palangkaraya).

    Sdri. Agnesia, dandelion, common dandelion, Taraxacum campylodes, sudah sejak lama tumbuh liar di Indonesia. Masyarakat menyebut tanaman ini dengan nama jombang yang berbunga kuning. Kemungkinan dandelion masuk ke Kepulaun Nusantara dibawa oleh Bangsa Belanda, atau secara tak sengaja biji dandelion yang sangat kecil itu terbawa menempel di sepatu, jaket, atau ransel para serdadu Belanda yang datang ke Pulau Jawa. Sebab hampir tidak mungkin ada yang sengaja membawa dandelion dan menanamnya di Gunung Gede.

    Di padang edelweis, Alun-alun Suryakencana, Gunung Gede banyak tumbuh dandelion. Kemungkinan paling masuk akal, biji dandelion itu terbawa menempel di sepatu, jaket atau ransel para pendaki, lalu jatuh di padang edelweis itu dan tumbuh. Di Indonesia dandelion hanya bisa tumbuh di elevasi 700 meter dpl. sampai dengan 2.500 dpl. Maklum dandelion berasal dari kawasan yang sangat dingin, Swedia dan Norwegia dengan koordinat di atas 60 derajat Lintang Utara, yang sudah sangat dekat dengan Kutub Utara.

    Tetapi sejak zaman prasejarah, dandelion sudah menyebar ke seluruh Benua Eropa. Sebab biji dandelion dengan “rumbai kapasnya” mudah sekali terbang ditiup angin, lalu jatuh dan tumbuh di habitat barunya. Tempuyung, field milk thistle, Sonchus arvensis juga edible, berbunga kuning dan berbiji kapas yang mudah diterbangkan angin. Bedanya, habitat asli tempuyung seluruh Eropa dan Asia yang beriklim dingin. Hingga di Indonesia, tempuyung bisa hidup di dataran rendah, termasuk di DKI Jakarta.

    Beda dengan dandelion yang populer dengan nama jombang, di Indonesia tempuyung lebih populer. Bahkan sudah ada yang membudidayakannya untuk dipanen daunnya, dikeringkan dan diperdagangkan sebagai “teh tempuyung”. Tempuyung lebih populer pertama karena bisa hidup di dataran rendah, kedua karena khasiatnya sebagai peluruh batu ginjal dan batu kandung kemih. Sedangkan jombang sebagai sayuran pahit peluruh lemak, kurang populer di Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih senang mengonsumsi daun dan bunga pepaya yang juga berasa pahit.

    Tentang khasiat dandelion untuk “melarutkan” lemak yang banyak dikonsumsi selama musim dingin, itu hanya kepercayaan yang berbasiskan agama. Dulu orang-orang Yahudi waktu exodus dari Mesir diminta Yahweh untuk makan roti tak beragi, daging anak domba jantan dan sayuran pahit prickly lettuce, Lactuca serriola. Maksudnya kalau nanti menghadapi hal-hal “pahit” dalam pengembaraan menuju “tanah terjanji”, tidak akan kaget. Tradisi mengonsumsi sayuran pahit ini dilanjutkan oleh umat Kristen (Katolik, Ortodoks, Protestan), dengan mengonsumsi dandelion selama masa puasa sebelum Paskah, yang selalu bertepatan dengan musim semi.

    Secara keilmuan, protein nabati maupun hewani (termasuk lemak hewan) yang dikonsumsi manusia hanya akan diserap oleh organ pencernaan sesuai dengan keperluan dan sisanya akan dibuang. Lain dengan pati dan gula yang akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak. Jadi yang tertimbun menjadi lemak dalam tubuh manusia bukan lemak hewan melainkan pati dan gula. Mengurangi timbunan lemak dalam tubuh hanya bisa dilakukan dengan membakarnya menjadi energi. Artinya asupan kalori yang masuk tubuh, harus seimbang dengan kalori yang dibakar dengan cara berolahraga.

    Jadi yang benar selama musim dingin manusia di negeri empat musim memang lebih banyak diam di rumah (kurang gerak) sementara asupan kalori ke tubuh cukup tinggi hingga ditimbun jadi lemak. Melarutkannya hanya dengan satu cara, banyak bergerak (berolahraga) selama musim semi dan musim panas nanti. Mengonsumsi dandelion sebagai sayuran selama puasa umat Kristen tentu sangat baik. Tetapi itu hanya menyangkut ketersediaan serat pangan, vitamin dan mineral. Bukan zat rasa pahit dalam daun dandelion.

    Rasa pahit dalam daun dandelion disebabkan oleh terpenoid dan alkaloid berupa taraxasterol dan taraxacin yang terkandung di dalamnya. Terpenoid dan alkaloid berkhasiat antivirus, antibakteri, antifungi dan antioksidan. Dengan mengonsumsi daun dandelion, dan juga sayuran lain serta buah-buahan, daya tahan tubuh dalam menghadapi paparan virus, bakteri dan kapang akan lebih kuat. Tetapi menjelaskan hal seperti itu kepada masyarakat memang tidak mudah, hingga yang ditangkap hanyalah “daun dandelion berkhasiat melarutkan lemak!”

    Di Pulau Jawa dandelion hanya bisa hidup di dataran tinggi. Misalnya di kawasan Puncak, Lembang, Pangalengan, Bandungan, Kopeng, Tawangmangu, Batu, Tengger dan Ijen. Di Sumatera juga sama, dandelion bisa dijumpai hanya di kawasan pegunungan. Kalimantan, terlebih Palangkaraya, hanya berelevasi 75 meter dpl, hingga dandelion sulit untuk beradaptasi. Benih dandelion berupa biji maupun tanaman, bisa dibeli secara online di marketplace Indonesia. Harganya sekitar Rp20.000 – Rp30.000 per kemasan/tanaman + ongkir. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *