BAMBU DURI SEBAGAI PAGAR ALAMI
by indrihr • 02/06/2026 • Uncategory • 0 Comments
Dua spesies bambu duri, giant thorny bamboo, Bambusa bambos; dan spiny bamboo, Bambusa spinosa; semakin tersisih karena manusia modern melupakan keunggulan manfaatnya sebagai “pagar alami” yang tak bisa ditembus babi hutan dan gajah.
Etnisitas Jawa menyebut bambu duri giant thorny bamboo, Bambusa bambos; dengan nama pring ori. Ori atau eri dalam Bahasa Jawa berarti duri. Di Jawa Barat dan Banten pring ori disebut “haur cucuk”. Sedangkan bambu duri, spiny bamboo, Bambusa spinosa; disebut “pring gesing” oleh masyarakat Jawa dan tetap sama “haur cucuk” oleh masyarakat Sunda. Karena berduri tajam, dua spesies bambu ini sulit untuk ditebang dan dimanfaatkan sebagaimana spesies bambu lainnya. Maka masyarakat pedesaan akan membakarnya saat musim kemarau hingga keberadaannya di alam semakin tersisih dan langka.
Giant thorny bamboo; sesuai dengan sebutannya, berukuran “raksasa”. Diameter dan tinggi batang sama dengan bambu betung, giant bamboo, Dendrocalamus asper. Bambu duri jenis simpodial, tumbuh membentuk rumpun. Beda dengan bambu monopodial yang tumbuh menyebar. Bambu-bambu sub tropis di China dan Jepang umumnya monopodial. Bambu cendani, Phyllostachys aurea, merupakan salah satu spesies bambu monopodial yang sudah lama diintroduksi ke Indonesia dan hanya bisa hidup di kawasan pegunungan di atas 1.000 meter dpl. Sebagai bambu simpodial, bambu duri hanya akan tumbuh merumpun dan bukan menyebar.
Spiny bamboo berukuran lebih kecil, dengan batang berwarna hijau meskipun sudah tua. Beda dengan giant thorny bamboo yang berbatang warna abu-abu kecoklatan. Bentuk, ukuran dan warna kulit batang spiny bamboo mirip dengan bambu ampel, common bamboo, golden bamboo, Bambusa vulgaris. Bedanya, bambu ampel tak berduri, spiny bamboo berduri seperti giant thorny bamboo. Spiny bamboo juga simpodial seperti giant thorny bamboo. Bedanya rumpun spiny bamboo tidak sebesar dan serapat giant thorny bamboo. Hingga rumpun spiny bamboo tidak berkesan “menyeramkan” sebagaimana giant thorny bamboo.

Pring gesing, spiny bamboo; maupun pring ori, giant thorny bamboo; sama-sama pendatang dari daratan Asia. Spiny bamboo berhabitat asli India Timur, China Selatan, Bangladesh dan negara-negara Indochina. Sedangkan pring ori, giant thorny bamboo; berhabitat asli India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh dan negara-negara Indochina. Tak ketahuan dengan pasti kapan dua spesies bambu ini diintroduksi ke Indonesia; tetapi diduga pring gesing maupun pring ori sudah masuk ke kepulauan Nusantara sejak zaman Hindu. Juga tidak ketahuan alasan mengintroduksi bambu duri pring ori maupun bambu duri pring gesing.
Sebagai “Pagar Alami”
Ada pertanyaan besar: “Yang harus diutamakan hunian manusia berikut lahan budidayanya, atau taman nasional berikut flora dan fauna yang harus dilindungi? Pertanyaan ini bisa seperti ayam dengan telur duluan mana, dan berlaku universal. Mulai dari Taman Nasional di Afrika, Lembah Amazon dengan hutan hujan tropika basah di Brasil, juga di Sumatera, Indonesia. Mengapa Sumatera? Karena di pulau ini masih hidup gajah liar, di antara lahan budidaya, baik ladang milik rakyat maupun perkebunan milik PTPN dan swasta. Jawabnya bisa berbeda bergantung di sudut mana seseorang berada.
Tetapi dua-duanya tidak bisa dikorbankan. Pagar pembatas antara lahan budidaya dengan hutan konservasi termasuk Taman Nasional, menjadi salah satu solusi paling rasional. Idealnya taman nasional tempat konservasi gajah itulah yang diberi pagar alami berupa bambu duri giant thorny bamboo. Untuk negara sebesar Indonesia dengan sekian banyak perkebunan besar BUMN maupun swasta nasional, tidak akan sulit untuk membiayai penanaman bambu duri giant thorny bamboo; yang dalam jangka waktu sekitar lima tahun sudah akan tumbuh menjadi pagar alami yang tidak mungkin ditembus gajah.
Ada beberapa cara pembenihan bambu. Cara tradisional dengan membongkar bonggol dan menanamnya di lokasi baru. Cara ini paling cepat menumbuhkan benih menjadi rumpun bambu baru. Kelemahannya, penggunaan bonggol hanya bisa menghasilkan benih dalam jumlah terbatas. Cara kedua dengan pencangkokan “carang” (cabang bambu). Bagian bawah pangkal carang digergaji separo, lalu diberi media gabus sabut kelapa (coco peat). Cara ini bisa menghasilkan benih dalam jumlah lebih banyak dibanding bonggol, tetapi memerlukan penyemaian dalam polybag paling sedikit selama setahun agar benih siap ditanam di lapangan.
Cara ketiga, penggunaan benih kultur jaringan (tissue culture). Kultur jaringan akan menghasilkan benih dalam volume jutaan sekaligus, tetapi memerlukan aklimatisasi dan penyemaian selama paling sedikit dua sampai tiga tahun sebelum ditanam di lapangan. Saat ini sudah ada beberapa lembaga yang memperbanyak benih bambu menggunakan teknik kultur jaringan dengan harga satuan benih cukup terjangkau. Untuk pembuatan pagar hidup dalam skala besar, benih yang sudah diaklimatisasi bisa disemai di lokasi penanaman sampai siap tanam, hingga menghemat biaya angkut.
Kalau bambu duri giant thorny bamboo bisa menahan agar gajah tidak masuk ke lahan budidaya, bambu duri spiny bamboo hanya bisa menahan serangan babi hutan. Di Pulau Sumatera, gangguan babi hutan di lahan-lahan budidaya milik rakyat masih sangat besar. Secara kolektif pemilik lahan bisa memagari tepi lahan yang berhubungan langsung dengan hutan konservasi atau Taman Nasional. Dengan pagar hidup bambu duri giant thorny bamboo dan spiny bamboo bukan hanya lahan-lahan itu yang aman. Satwa dilindungi pun juga akan aman karena tertahan tidak bisa masuk ke kawasan lahan budidaya. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
