• “SAKURA” DI TEPI JALAN BANDARA MALANG

    by  • 18/06/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Saya baru saja “landing” di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Di tepi jalan menuju kota, tampak deretan pohon bunga berwarna pink. Serasa saya sedang lewat deretan pohon sakura di Jepang. Bunga apakah itu sebenarnya? (Josepha, Jakarta).

    Sdri. Josepha, yang Anda lihat di tepi jalan dari Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang menuju kota adalah bunga gamal, cebreng, Mexican lilac, quickstick, Gliricidia sepium. Gamal merupakan akronim dari “ganyang mati alang-alang”. Sebab pada dekade 1970an gamal ditanam untuk membasmi alang-alang. Nama cebreng dalam Bahasa Sunda juga akronim dari ditancep lalu breng (ditancapkan lalu tumbuh). Sebab gamal mudah sekali dibudidayakan menggunakan stek. Meskipun tanaman ini juga menghasilkan banyak polong dan biji.

    Gamal tumbuhan asli Benua Amerika, didatangkan oleh Bangsa Spanyol ke Filipina pada abad 17. Belanda mendatangkannya ke Jawa dari Filipina pada awal abad 20 sebagai hijauan pakan ternak serta untuk rehabilitasi lahan-lahan gersang, terutama yang ditumbuhi alang-alang. Dari situlah muncul nama “ganyang mati alang-alang” (gamal). Ganyang merupakan kosa kata Bahasa Jawa yang populer pada dekade 1960 saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Dalam Bahasa Jawa ganyang berarti memakan mentah-mentah (gado).

    Meskipun sudah diintroduksi ke Indonesia (Hindia Belanda) pada awal abad 20, popularitas gamal kalah oleh lamtoro, petai cina, kemlandingan, Lead Tree, Leucaena leucocephala yang juga berasal dari Benua Amerika. Sebab lamtoro sudah masuk ke Hindia Belanda pada abad 18 dan dibawa Belanda langsung dari Meksiko. Lamtoro juga lebih populer dari gamal karena polong dan bijinya edible dan bisa dimakan mentah maupun untuk botok. Lain dengan pucuk, polong dan biji gamal yang beracun.

    Meskipun beracun bagi manusia, daun gamal merupakan pakan ternak ruminansia yang kaya gizi. Sebagai pohon peneduh jalan, gamal justru bermasalah seperti halnya kayu jaran, pohon kuda, Lannea coromandelica; yang pada musim kemarau justru meranggas merontokkan seluruh daunnya. Tetapi apabila selalu dipangkas, pada musim kemarau gamal tetap akan berdaun hijau. Pada saat meranggas itulah gamal berbunga dengan warna pink yang indah mirip bunga sakura di Jepang.

    Karena keindahan bunganya, di Pulau Untung Jawa, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta; ada “Pantai Sakura” yang dipenuhi tanaman gamal. Saat kemarau tiba, pantai itu akan dipenuhi bunga warna pink yang indah sekali. Seperti halnya yang Anda jumpai saat keluar dari Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Musim kemarau memang akan menumbuhkan aneka jenis semak, perdu dan pohon hias, termasuk gamal. Sebenarnya keindahan bunga gamal tidak kalah dengan bunga Tabebuia yang sekarang justru banyak menghiasi jalan-jalan di kota besar di Indonesia karena latah.

    Selain bermanfaat membunuh mati alang-alang, gamal juga sekaligus menyuburkan tanah. Sebab seperti halnya suku polong-polongan (Fabaceae) pada umumnya, gamal juga mampu menangkap nitrogen (N) dari udara melalui stomata dan klorofil, lalu bekerjasama dengan Rhizobium menyimpan nitrogen tersebut pada bintil akar di dalam tanah. Nitrogen adalah unsur utama penyubur tanah yang terdapat dalam urine ternak dan pupuk urea. Selain itu, daun gamal yang rontok juga akan menambah bahan organik dalam lahan yang dihijaukan. Dibanding lamtoro, gamal juga lebih unggul sebagai penyubur tanah karena ukuran daunnya yang relatif lebar dibanding lamtoro.

    Selain menyuburkan tanah dan membasmi alang-alang, gamal sekaligus juga menghasilkan pakan ternak dan kayu bakar. Daun gamal tak bisa diberikan secara tunggal untuk ternak ruminansia. Hijauan daun gamal haruslah dicampur dengan hijauan lain terutama dengan rumput gajah atau rumput raja. Semakin banyak kombinasi hijauan untuk pakan ternak, akan semakin tinggi nutrisi yang bisa diserap oleh si ternak. Kandungan protein kasar daun gamal sekitar 18 – 25% dari bobot segar hijauan.

    Dulu kayu gamal hanya laku sebagai bahan bakar untuk tungku dapur atau sebagai arang. Belakangan kayu gamal juga digunakan untuk berbagai peralatan. Ornamen warna coklat bagian tengah kayu (galih) kayu gamal cukup menarik. Bagi para petani, kayu gamal juga merupakan tiang para-para untuk budidaya peria, labu siam dll, karena tidak akan lapuk dan dimakan rayap. Petani tinggal rajin memangkas bagian pucuk yang akan tumbuh meninggi dan menaungi tanaman pokok yang dirambatkan di para-para tersebut. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *