KINA INDONESIA DAN JUNGHUHN
by indrihr • 30/06/2026 • Uncategory • 0 Comments
Zaman Hindia Belanda, Pulau Jawa pernah menjadi penghasil kina utama dunia. Itu semua berkat jasa Franz Wilhelm Junghuhn (26 October 1809 – 24 April 1864), orang Jerman yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan botani dan juga geologi Hindia Belanda.
Tetapi jasa Junghuhn paling besar bagi umat manusia, ketekunannya dalam mengembangkan budidaya kina di Pulau Jawa. Hingga dalam waktu singkat Pulau Jawa menjadi penghasil kina utama dunia. Pada zaman itu kina sangat penting untuk menanggulangi penyakit malaria yang mewabah di mana-mana dan memakan banyak korban jiwa. Junghuhnlah yang merintis penanaman kina pertama kali di Kampung Genteng, Desa Jayagiri, Lembang, Bandung; dengan menetapkan zonasi ketinggian yang tepat agar tanaman ini tumbuh optimum. Dari Lembang, Junghuhn mengembangkan kina ke seluruh dataran tinggi Pulau Jawa.
Berkat Junghuhn, Hindia Belanda menjadi pemasok 90% kebutuhan kina dunia. Kina genus Cinchona merupakan tumbuhan asli Amerika Selatan, terdiri dari 24 spesies. Dari 24 spesies itu, dua spesies yang potensial dikembangkan sebagai penghasil kina. Pertama Cinchona pubescens, (pavon, kina succi) untuk batang bawah, dan Cinchona calisaya (kina ledger) untuk batang atas. Klon-klon kina unggul lain hasil pemuliaan Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, adalah Cib 6, KP 105, KP 473, KP 484 dan QRC. C. calisaya Wedd. (kina kalisaya). Hasil penelitian Junghuhn, kina baru akan tumbuh baik di elevasi 1.400 – 1.700 meter dpl.
Kulit kina yang dipanen akan diekstrak zat aktifnya untuk obat malaria. Zat aktif dalam kulit kina itu bernama Quinine. Tetapi pada saat ekstraksi, akan terikut pula zat aktif Quinidine, yang menyebabkan telinga berdengung seakan tuli. Meskipun Quinine ampuh sebagai obat malaria, tetapi efek samping yang membuat kuping berdengung itu sangat mengganggu pasien penderita malaria. Dunia farmasi lalu mencari cara agar saat ekstraksi Quinine bisa dipisahkan dari Quinidine hingga obat malaria tidak menimbulkan efek samping telinga berdengung. Jadi sebenarnya tablet Resochin juga terbuat dari kulit kina tapi tanpa Quinidine.

Ternyata, Quinidine yang menyebabkan telinga berdengung dalam pil kina itu merupakan obat jantung yang sangat diperlukan dalam dunia farmasi saat ini. Jadi, meskipun penyakit malaria sudah bukan merupakan masalah serius bagi dunia kesehatan, produk kina tetap diperlukan oleh dunia farmasi. Kalau dulu yang diperlukan Quinine-nya, sekarang justru Quinidine-nya sebagai obat jantung. Itulah yang menyebabkan produk kina tetap merupakan komoditas farmasi penting di dunia modern. Indonesia juga masih dipercaya World Health Organization (WHO), untuk memproduksi Quinine dan Quinidine.
Sekarang Malah Impor
Sejalan dengan meredupnya penyakit malaria, pasar Quinine sebagai obat malaria semestinya juga ikut menyusut. Ternyata tidak. Ternyata Quinine diperlukan dalam volume lebih besar lagi oleh industri minuman ringan seperti produk Coca-Cola. Hingga sampai sekarang PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL), satu-satunya pabrik kina di Indonesia tetap beroperasi. PT SIL merupakan perusahaan patungan antara BUMN PT Kimia Farma (51%), dengan PTPN I (49%). Kebutuhan kulit kina kering PY SIL sekitar 3.000 – 5.000 ton per tahun. PTPN hanya sanggup memasok sekitar 1.500-1.800 ton per tahun.
Terpaksalah Indonesia yang dulunya penghasil utama kina dunia, sekarang mengimpor sekitar 1.500 – 3.200 ton kulit kina dari Republik Demokratik Kongo, Zimbabwe dan Meksiko. Padahal pada masa kejayaannya dulu, Pulau Jawa mampu menghasilkan 11.000 – 12.000 ton kulit kina kering per tahun. Yang menjadi pertanyaan, mengapa Pulau Jawa yang pada zaman Hindia Belanda penghasil kina terbesar dunia, sekarang justru mengimpornya? Seorang pensiunan petinggi PTPN menjelaskan bahwa dulu Junghuhn dan para penerusnya tidak korupsi, sekarang para pengambil keputusan di negeri ini korupsi.
Kina itu tanaman bandel, tambah mantan petinggi PTPN tersebut. Apabila dibudidayakan di elevasi 1.400 – 1.700 meter dpl. di tanah vulkanis, kina tidak memerlukan pupuk dan pestisida. Gulma juga tidak perlu rutin dibabat. Setelah tanam, praktis biaya yang dikeluarkan hanya untuk panen kulit. Setelah batang kina ditebang sekitar 1 sampai 1,5 meter di atas sambungan, akan tumbuh tunas baru yang bisa terus dipanen sampai empat lima kali sebelum dibongkar untuk ditanam baru. Jadi praktis selama puluhan tahun baru ada replanting. Tidak ada yang bisa dikorupsi dari kina, hingga para petinggi PTPN malas melanjutkan semangat Junghuhn.
Sebenarnya ketika Jepang masuk dan selama perang kemerdekaan, perkebunan kina tidak banyak yang rusak. Produksi kulit memang menurun, tetapi itu karena tenaga kerja terserap untuk Perang Asia Timur Raya. Jadi mestinya dalam era kemerdekaan, kejayaan kina masa Hindia Belanda bisa kita pulihkan. Alasan bahwa tablet kina sudah tidak diperlukan karena malaria sudah bukan ancaman bagi umat manusia juga bukan dalih untuk menelantarkan warisan Junghuhn. Sebab justru sekarang produk Quinine dan Quinidine diperlukan dalam volume sangat besar oleh industri soft drink dan obat jantung.
Junghuhn sebagai ahli botani sangat dihormati oleh para botanis. Nama latin (nama botani) cemara gunung, geseng, Mountain Ru, Red-tipped Ru, menyandang namanya: Casuarina junghuhniana. Demikian pula dengan edelweis Jawa endemik Gunung Lawu yang bernama botani Anaphalis javanica f. junghuhniana. Tetapi dunia bisnis kina telah mengkhianatinya. Para pengambil keputusan di negeri ini lebih memilih imbalan dari para importir kulit kina daripada merawat perkebunan kina warisan Junghuhn. Padahal sekarang pasar Quinine dan Quinidine justru lebih besar dibanding zaman Hindia Belanda. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi.
