KEMBANG BOKOR
by indrihr • 08/06/2026 • Uncategory • 0 Comments
Kadang juga disebut bunga panca warna karena dalam satu rumpun tanaman bisa ada lima warna bunga: putih, biru, ungu, pink dan merah. Padahal yang ditanam hanya satu spesies bunga yakni Hydrangea macrophylla dari Jepang atau Hydrangea macrocarpa dari China.
Tetapi yang paling umum, kembang bokor disebut Hortensia. Nama Hortensia berasal dari Bahasa Latin Hortus yang berarti taman. Sebab pada zaman Romawi, Hydrangea macrocarpa sudah diintroduksi ke Italia dan menjadi salah satu bunga favorit di taman-taman Kota Roma. Bunga Hortensia mudah sekali dijumpai di tempat-tempat wisata dataran tinggi di Indonesia Parapat di Sumatera, Puncak di Jawa dan Bedugul di Bali. Seperti sebutan “bunga pancawarna, Hortensia di kawasan ini bisa dijumpai dalam lima warna bahkan lebih dengan berbagai gradasinya.
Bunga genus Hydrangea memang bisa menghasilkan warna berbeda bergantung tingkat kemasaman dan kebasaan tanah, yang berdampak ke tinggi rendahnya daya serap akar terhadap unsur aluminium dalam tanah. Di tanah masam (pH di bawah 6) bunga Hortensia akan berwarna biru. Di tanah basa dengan pH di atas 7 bunga Hortensia akan berwarna pink atau merah. Dalam kondisi tanah masam, akar Hortensia akan mampu menyerap aluminium unsur pembuat warna biru dalam bunga. Di tanah basa, akar Hortensia tidak bisa menyerap aluminium hingga bunga berwarna pink atau merah.
Di tanah netral (pH 6,5) akar masih menyerap unsur aluminium tetapi tidak optimum hingga bunga Hortensia berwarna ungu. Para pecinta Hortensia bisa mengatur pemberian pupuk kandang penyebab kemasaman tanah, sekaligus kapur dolomit penyebab basa di tempat berbeda hingga satu tanaman bisa menghasilkan bunga berbeda warna. Bunga Hortensia akan berwarna putih saat masih belum mekar. Dengan cara itu satu rumpun tanaman Hortensia akan menghasilkan paling sedikit empat warna bunga: putih, biru, ungu dan pink. Sebab sangat jarang Hortensia menghasilkan bunga warna merah.

Genus Hydrangea suku Hydrangeaceae terdiri dari 98 spesies yang berhabitat asli Asia dan Amerika. Dari 98 spesies itu hanya satu yang berhabitat asli Indonesia yakni Hydrangea febrifuga, yang di sini disebut gigil, tataruman, ramram. Nama dalam Bahasa Inggris Chinese quinine, blue evergreen Hydrangea, fever flower. Sama dengan kembang bokor, gigil juga hanya tumbuh di dataran tinggi. Bedanya gigil masih tumbuh liar di hutan dengan elevasi 1.500 – 2.000 meter dpl. Gigil disebut Chinese quinine karena di China kulit batangnya digunakan sebagai obat malaria sebagaimana kulit kina, Cinchona pubescens.
Perbanyakan
Kembang bokor paling lazim diperbanyak menggunakan stek batang. Perbanyakan dengan pemisahan rumpun hanya dilakukan para hobiis karena tidak bisa menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak. Perbanyakan menggunakan biji yang bisa menghasilkan benih lebih banyak hampir tak pernah dilakukan karena di kawasan tropis kembang bokor relatif sulit menghasilkan biji. Benih dari biji juga lebih lama tumbuh. Penggunaan teknologi kultur jaringan (tissue culture) masih belum mendesak. Saat ini kebutuhan benih kembang bokor masih belum massal seperti halnya anggrek, krisan dan mawar.
Batang bahan stek dipotong sekitar 10 sentimeter dari pemukaan tanah atau media pot. Selain untuk menghasilkan individu tanaman baru, pengambilan bahan stek juga berguna agar batang tidak tumbuh lebih panjang lagi hingga resiko patah dan roboh bisa dicegah. Hortensia yang berbunga majemuk hanya menghasilkan satu malai bunga di ujung ranting. Apabila tanaman tumbuh soliter bukan dalam satu petak hamparan, batang yang terlalu panjang akan cenderung patah atau roboh karena tidak kuat menahan beban malai bunga yang terlalu berat. Itulah gunanya pemotongan batang yang sudah terlalu panjang.
Satu batang hortensia, bisa menghasilkan tiga sampai lima stek sepanjang 10 sampai 15 sentimeter. Daun dalam bahan stek itu dibuang, disisakan di bagian pucuk yang cukup dipotong separo. Bagian bawah stek diolesi perangsang tumbuh akar misalnya merk Bioroots dan Rotoone, atau cukup dengan air umbi bawang merah. Stek yang sudah diolesi perangsang pertumbuhan akar disemai secara koloni dalam pot ukuran sedang bermedia campuran pasir, kompos/humus dan tanah dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Pot dengan stek ditaruh di tempat teduh, lebih baik lagi kalau disungkup plastik bening.
Dalam waktu dua minggu sampai satu bulan akan tumbuh dua daun. Itu pertanda akar sudah cukup kuat hingga semaian bisa dibongkar dan masing-masing stek ditanam dalam pot tunggal atau polybag dengan media sama. Setelah tumbuh setinggi 50 sentimeter, benih kembang bokor itu sudah siap untuk ditanam di taman, atau dalam pot yang lebih besar. Lokasi penanaman atau tempat menaruh pot yang terpapar sinar matahari penuh sepanjang hari. Sebab Hortensia memerlukan sinar matahari selama minimal 10 jam per hari. Selanjutnya kemasaman dan kebasaan tanah bisa diatur agar warna bunga sesuai keinginan.
Para pedagang tanaman hias di tempat wisata dataran tinggi seperti Cipanas (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah) dan Batu ( Jawa Timur); selalu mengatakan bahwa Hortensia bisa hidup dan berbunga di dataran rendah. Bukan hanya Hortensia yang mereka sebut bisa hidup di dataran rendah. Mawar, Azalea (Rhododendron) dan Anthurium bunga juga selalu mereka sebutkan bisa hidup dan berbunga di dataran rendah. Padahal semua bunga dataran tinggi tidak mungkin bisa hidup di dataran rendah. Jadi biarlah Hortensia dengan warna-warni bunganya itu tetap berada di dataran tinggi untuk kita nikmati keindahannya saat liburan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
