KUNTUL KERBAU
by indrihr • 18/05/2026 • Uncategory • 0 Comments
Populasi burung kuntul, genus Ardea di sawah pulau Jawa meningkat cukup mencolok. Terutama kuntul kerbau, eastern cattle egret, Bubulcus coromandus. Burung ini sering bergerombol di sekitar traktor pembajak sawah.
Kadang masyarakat menyebut kuntul kerbau sebagai blekok sawah, Javan pond heron, Ardeola speciosa. Sebab ukuran dan warna bulu dua spesies burung ini tampak mirip. Tetapi sebenarnya beda. Sebab warna bulu blekok sawah yang mirip dengan kuntul kerbau hanya saat masa berbiak (breeding plumage). Sedangkan saat tidak berbiak (non breeding plumage), warna bulu blekok bertotol-totol coklat hitam mirip dengan remaja kowak malam abu, black-crowned night heron, Nycticorax nycticorax. Kalau diamati dengan cermat, warna bulu kuntul kerbau dengan blekok juga beda. Demikian pula dengan warna paruhnya.
Dulu, pada dekade 1960an, kawanan blekok memang mendominasi sawah-sawah di pulau Jawa. Akhir dekade 1960, padi-padi varietas baru dilepas pemerintah dan harus dibudidayakan dengan menggunakan pupuk buatan serta pestisida dosis tinggi. Hobi masyarakat menembak burung juga telah mempercepat hampir semua burung air menghilang dari sawah-sawah di pulau Jawa. Dekade 1970 sangat sulit menjumpai burung air di sawah-sawah pulau Jawa. Pada dekade 1980, kawanan kuntul besar dan kuntul kecil; tampak bermukim di pohon-pohon depan Kodam Diponegoro di Srondol, Semarang.
Burung ternyata tahu bahwa pohon-pohon di depan Kodam Diponegoro itu aman dari para penembak bersenjatakan senapan angin. Sampai dengan dekade 2000 kuntul besar dan kuntul kecil itu tetap bermukim di Srondol kemudian menghilang. Sebab sejak dekade 2000, lingkungan di Pulau Jawa membaik. Lahan kering yang dulu ditanami palawija (jagung dan singkong), sekarang ditanami kayu, terutama jati dan sengon. Sejak reformasi 1998, budidaya padi di sawah menjadi sangat rasional berdasarkan pertimbangan laba rugi. Hingga penggunaan pupuk urea dan pestisida sangat terkendali.

Serangga, terutama belalang, dan kodok kembali banyak. Keberadaan pakan alami ini mengembalikan populasi burung air di Pulau Jawa. Kuntul besar dan kuntul kecil yang dulu hanya berani bermukin di Srondol, sekarang menyebar ke mana-mana, karena semua aman dan pakan juga banyak. Tetapi yang populasinya benar-benar naik tajam hanya kuntul kerbau. Antara November sampai April ribuan kuntul kerbau bermukim di Dusun Ketingan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY. Nanti pada bulan April setelah anak-anak kuntul kerbau itu siap terbang, mereka akan mengembara mencari makan.
Mengikuti Traktor
Burung yang bermukim di Ketingan homogen kuntul kerbau. Lain dengan di pohon-pohon besar di Fakultas Kehutanan UGM yang dihuni aneka burung, termasuk kowak malam abu dan cangak abu. Selain burung air, di Fakultas Kehutanan UGM juga bermukim burung-burung lain. Meski jenisnya lebih beragam, populasi burung di Fakultas Kehutanan UGM, tidak sebanyak di Ketingan. Di dalam kompleks kampus ini, aneka burung tersebut merasa aman hingga bisa kawin, membangun sarang, bertelur dan mengeraminya sampai menetas; kemudian mengembara mencari makan dan kembali lagi pada awal musim penghujan.
Selain di Ketingan dan Fakultas Kehutanan UGM, aneka burung air juga bisa dilihat di Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Beda dengan di Ketingan, di Petulu jenis burungnya juga lebih beragam. Selain kuntul kerbau juga ada kuntul besar, kuntul kecil dan kuntul perak. Masyarakat Bali lebih bisa “menjual” keberadaan aneka burung air di Petulu dibanding masyarakat Yogya yang belum bisa mengemas dan menjual burung di Ketingan dan Fakultas Kehutanan UGM. Secara umum, Bali memang paling siap mengemas dan jualan obyek wisata apa pun dibanding Yogya.
Spesies ini disebut kuntul kerbau karena kebiasaan mereka mengikuti kerbau yang sedang menarik bajak di sawah. Serangga, terutama belalang, kodok dan ikan-ikan kecil akan berlarian pada saat sawah dibajak, hingga satwa air ini mudah sekali ditangkap. Setelah kerbau diganti traktor kuntul kerbau tetap mengikutinya untuk menangkap serangga dan satwa air. Burung-burung ini tidak takut dengan operator traktor juga dengan suara mesin yang berisik. Pemandangan seperti ini merata di semua sawah di Pulau Jawa, yang merupakan indikator perbaikan lingkungan.
Kuntul kerbau, cattle egrets, termasuk genus Ardea yang terdiri dari 16 spesies. Dikenal kuntul kerbau Eropa (western cattle egret, Ardea ibis) dan kuntul kerbau Asia (eastern cattle egret, Ardea coromanda). Selain kuntul kerbau, di negeri kita dikenal pula kuntul besar great egret, Ardea alba; kuntul kecil little egret, Egretta garzetta; kuntul perak (medium egret, Ardea intermedia); kuntul china (Chinese egret, Egretta eulophotes); kuntul karang (pacific reef heron, Egretta sacra); dan kuntul belang (pied heron, Egretta picata). Selain kuntul, genus Ardea juga disebut cangak, yakni cangak abu (grey heron, Ardea cinerea); dan cangak merah (purple heron, Ardea purpurea).
Nama dalam Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia memang sulit dijadikan acuan. Sebab tak jelas mengapa sama-sama genus Ardea ada yang disebut kuntul ada pula yang diberi nama cangak. Kemungkinan karena warna bulu dan ukuran tubuhnya yang berbeda. Hadirnya burung air, terutama kuntul kerbau di sawah-sawah Pulau Jawa, bahkan juga Indonesia; bukan hanya indikator perbaikan lingkungan melainkan juga semakin profesionalnya agroindustri padi di Indonesia. Sekarang yang menanam padi bukan petani melainkan pengusaha penggilingan. Petani cukup menyewakan sawah ke para pemilik modal. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
