KAYU SECANG SEBAGAI SUMBER BRAZILIN
by indrihr • 21/04/2026 • Uncategory • 0 Comments
Kalau ke Yogyakarta suami saya suka minum wedang uwuh. Saya masih belum berani mencoba karena penampilannya yang benar-benar mirip uwuh (sampah). Apa sajakah bahan baku wedang uwuh termasuk yang seperti serutan kayu itu? (Zahra, Jakarta).
Sdri Zahra, bahan baku wedang uwuh terdiri dari jahe, kayu manis, sereh dapur, cengkih, kapulaga, daun pala, serutan kayu secang dan gula batu. Yang tampak seperti sampah dalam kemasan bahan baku wedang uwuh adalah daun pala yang telah kering dan serutan kayu secang. Sebenarnya wedang uwuh bukan sesuatu yang benar-benar baru. Masyarakat Betawi sudah terlebih dahulu mengenal minuman Bir Pletok dengan bahan baku sama. Bedanya, bir pletok kadang diberi tambahan santan.
Bandrek (Jawa Tengah dan DIY) serta bajigur (Jawa Barat dan Banten) juga berbahan baku mirip dengan bir pletok dan wedang uwuh. Yang membuat wedang uwuh berbeda, karena konsumen bisa membeli bahan baku untuk diseduh (direbus) sendiri di rumah. Bahan baku itu juga masih berupa raw material. Beda dengan minuman bandrek sachet yang sudah berupa serbuk. Hingga bentuk kemasan raw material yang membuat wedang uwuh dengan cepat punya pasar tersendiri.
Unsur “pembaruan” dalam wedang uwuh juga dalam penggunaan daun pala yang sudah dikeringkan. Daun pala memberikan aroma sangat khas, tanpa memberikan rasa pedas. Hingga rasa pedas dalam wedang uwuh hampir tidak ada. Sebab kapulaga dan cengkih yang berpotensi menimbulkan rasa pedas dalam bandrek dan bir pletok, dalam wedang uwuh disajikan utuh. Yang larut ke dalam air hanyalah aroma sedangkan rasa pedasnya tetap berada dalam cengkih dan kapulaga tersebut.

Serutan kayu secang yang digunakan dalam “wedang uwuh” dan bir pletok, mengandung zat warna merah Brazilin (C16H14O5). Dalam perdagangan internasional Brazilin dikenal sebagai Natural Red 24. Awalnya Brazilin hanya dimanfaatkan sebagai pewarna minuman. Kemudian pada tahun 1600an, diketemukan cara mengekstraksi Brazilin, dengan merendam serbuk kayu secang dalam larutan sodium hidroksida (NaOH) atau potasium hidroksida (KOH); hingga zat ini bisa digunakan untuk memberi warna merah pada makanan.
Selain Brazilin, dalam kayu secang juga terdapat juglone (5-hydroxy-1,4-naphthoquinone) zat anti bakteri patogen dalam organ pencernaan; zat homoisoflavonoids (sappanol, episappanol, 3′-deoxysappanol, 3′-O-methylsappanol, 3′-O-methylepisappanol, dan sappanone A). Zat-zat ini berkhasiat antikoagolan (anti penggumpalan darah), dan anti pembengkakan. Hingga selain menghangatkan dan menyegarkan, wedang uwuh juga cukup menyehatkan, terutama khasiatnya bagi organ pencernaan.
Ditambah lagi dengan zat-zat aktif dalam jahe, kayu manis, sereh, cengkih dan kapulaga yang juga akan menekan pertumbuhan bakteri dan kapang patogen dalam tubuh manusia. Sebaliknya bakteri dan kapang yang bukan patogen dan akan membantu proses pencernaan, tetap bisa hidup dalam lingkungan yang dipenuhi zat-zat aktif dari rempah-rempah tersebut. Hingga minuman tradisional sebenarnya lebih sehat dibanding minuman modern yang hanya menghadirkan sensasi warna, rasa serta aroma.
Terlebih lagi, pewarna makanan dan minuman idealnya terbuat dari bahan nabati, sebab di Indonesia sudah ada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 722/MenKes/Per/VI/88 mengenai Bahan Tambahan Makanan; serta Permenkes RI Nomor 239/MenKes/Per/V/85 mengenai 30 zat warna yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya. Beberapa produsen makanan dan minuman berskala kecil, sudah mulai merintis penggunaan kembali pewarna alami dalam produk mereka.
Sebenarnya kayu secang bukan hanya bermanfaat sebagai salah satu bahan minuman wedang uwuh, melainkan bisa diolah menjadi zat warna Brazilin yang punya pasar cukup luas. Selama ini zat warna merah alami untuk makanan dan minuman berupa kurkumin dari kunyit, bixin dan norbixin dari galinggem (kesumba keling, Bixa orellana) dan monascurbrin dari angkak (beras yang difermentasi oleh kapang Monascus purpureus). Produsen makanan dan minuman Indonesia masih bergantung pada zat warna alam yang diimpor.
Industri zat warna alam di Indonesia belum tumbuh secara wajar untuk memasok kebutuhan industri makanan dan minuman yang berkembang dengan sangat pesat. Karenanya industri zat warna merah Brazilin untuk makanan dan minuman punya prospek bagus untuk Indonesia di masa mendatang. Awalnya Brazilin diproduksi dari kayu brasil, Brazilwood, Paubrasilia echinata; yang hanya terdapat di hutan Brasil. Sekarang kayu brasil sudah sangat langka hingga Brazilin lebih banyak diproduksi dari kayu secang yang berasal dari India, Bangldesh dan negara-negara Indochina. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
