• MANGGA UDANG ALIAS MANGGA PODANG

    by  • 12/05/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Palinglah enak si mangga udang; Hei sayang disayang pohonnya tinggi pohonnya tinggi buahnya jarang; Palinglah enak si orang bujang sayang; Ke mana pergi ke mana pergi tiada yang melarang (lagu Si Jali-jali, ciptaan M. Sagi 1943).

    M. Sagi hanya menciptakan lirik baru, menggunakan melodi lagu rakyat Betawi dengan pencipta anonim. Bait lirik lagu si jali-jali itu menunjukkan bahwa di Jakarta mangga udang cukup populer. Mangga udang merupakan sebutan untuk jenis mangga yang oleh etnisitas Jawa disebut pelem podang (mangga kepodang). Sebutan mangga udang maupun mangga kepodang mengacu ke warna kuning kemerahan (oranye) kulit buah mangga tersebut. Udang yang direbus atau digoreng akan berubah menjadi kemerahan. Bulu burung kepodang kuning terang hingga mangga ini disebut sebagai mangga kepodang.

    Meskipun mangga udang/kepodang cukup populer, masyarakat Indonesia tak menyukainya. Sebab mangga ini berukuran kecil, berserat dan ada rasa masam meskipun sudah masak pohon. Masyarakat Indonesia menyukai mangga yang manis, bertekstur lembut tanpa serat, berkulit hijau tak masalah. Itulah sebabnya mangga-mangga populer di negeri kita berkulit hijau: harummanis, manalagi, gadung, indramayu, lalijiwo. Masyarakat Indonesia lebih mengutamakan daging buah mangga yang lembut tanpa serat, berasa manis tanpa masam dan beraroma khas sesuai dengan varietas masing-masing.

    Mangga berkulit kuning, oranye atau merah tidak terlalu populer di Indonesia, karena biasanya berserat, ada rasa masamnya atau berukuran kecil. Mangga gedong gincu yang berpenampilan menarik, tak berserat dan harum sangat khas; tetap tak disukai konsumen Indonesia. Hingga gedong gincu menjadi mangga paling elite dengan harga tinggi, tetapi tetap tak ada yang berminat membudidayakannya secara massal. Mangga udang/kepodang dengan penampilan kulit kuning kemerahan juga tak disukai. Pertama karena gedong gincu dan kepodang berukuran kecil, kedua tetap masih ada rasa masamnya.

    Kabupaten Kediri di Jawa Timur merupakan sentra mangga kepodang. Saat panen raya, mangga kepodang akan tampak di mana-mana di kabupaten ini. Meskipun sekarang mangga kepodang juga diserap oleh para penangkar benih mangga di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur; untuk digunakan sebagai batang bawah. Sebelumnya untuk batang bawah yang akan disambung dengan mangga-mangga komersial, terutama harummanis; digunakan mangga lalijiwo. Setelah naik daun menjadi mangga “mahal”, para pedagang lebih suka menjual mangga lalijiwo sebagai buah untuk dikonsumsi.

    Sebagai Batang Bawah

    Bibit mangga varietas apa pun yang beredar di pasaran, selalu berupa sambungan batang bawah dengan batang atas mangga-mangga komersial. Paling banyak dibudidayakan saat ini harummanis, manalagi, dan indramayu. Mangga-mangga introduksi seperti Nam Dok Mai juga mulai diproduksi meskipun volumenya tidak sebanyak harummanis, manalagi dan indramayu. Bahkan benih mangga gedong gincu pun, tidak pernah diproduksi sebanyak indramayu, meskipun dua varietas mangga ini berasal dari kawasan yang sama di sekitar Indramayu dan Majalengka, di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat.

    Batang bawah bibit mangga selalu dipilih jenis yang berbatang kokoh, berumur panjang dan tahan kekeringan. Lalijiwo dan kepodang memenuhi persyaratan tersebut. Meskipun sebenarnya banyak sekali jenis mangga lokal dengan buah berukuran kecil dan berpelok (biji) besar, berbatang kokoh; tetapi volume buahnya di pasaran sangat terbatas. Para penangkar benih lebih memilih lalijiwo dan kepodang karena dua jenis mangga ini bisa diperoleh dalam jumlah banyak dan mudah dari para pedagang pengumpul. Dalam satu tahun, seorang penangkar benih mangga memerlukan ribuan buah mangga kepodang.

    Dua varietas mangga ini, lalijiwo (Mangifera lalijiwa) dan mangga kepodang/mangga udang (Mangifera indica); memang unik. Dua varietas mangga ini banyak digunakan sebagai batang bawah untuk ditempel dengan semua mangga komersial. Tetapi di lain pihak lalijiwo dan kepodang/mangga udang juga tetap dibudidayakan sebagai mangga komersial. Volume mangga kepodang/mangga udang lebih besar dibanding lalijiwo. Sentra mangga kepodang di Kediri terdapat di kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen; di sekeliling Gunung Wilis. Kecamatan Banyakan dan Tarokan paling banyak populasi mangga podang.

    Sentra mangga udang di Sumatera Utara terdapat di Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Meskipun sebenarnya populasi tanaman mangga udang hampir merata di seluruh Sumatera Utara. Musim mangga udang di Sumatera Utara pada bulan Februari, sedangkan panen mangga podang di Kediri pada bulan Oktober. Di dua sentra mangga udang/podang ini tiap Februari dan Oktober selalu berlimpah mangga berkulit kuning, dengan bentuk kompak khas mangga, dan dengan rasa manis sedikit masam. Penggemar fanatik mangga udang/podang tetap ada meskipun tidak sebanyak mangga komersial lainnya.

    Sebenarnya mangga udang/mangga podang dengan mangga gedong gincu potensial dikembangkan di sekitar Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kawasan ini relatif kering hingga cocok untuk pengembangan dua varietas mangga dengan kulit warna kuning kemerahan ini. Budidaya ini mestilah ditujukan untuk pasar ekspor dengan dilengkapi industri jus/pengalengan buah mangga. Dengan pengembangan komoditas mangga udang/podang dan gedong gincu di kawasan ini, harapan untuk menghidupkan Bandara Kertajati menjadi lebih rasional. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *