• ARA GAJAH SEBAGAI TUMBUHAN INVASIF

    by  • 15/04/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Ara gajah merupakan perdu hias yang berasal dari daratan Asia, mulai dari Pakistan, Tibet, Nepal, India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, China dan Semenanjung Malaya. Masuk Indonesia pada dekade 1990 dan dikhawatirkan akan menjadi invasif.

    Nama ara gajah terinspirasi dari sebutan elephant ear tree (pohon telinga gajah), karena ukuran daunnya yang cukup lebar. Kadang ara gajah juga disebut Roxburgh fig dengan nama botani Ficus auriculata. Nama Roxburgh fig digunakan sebagai penghormatan terhadap William Roxburgh, seorang sersan dan ahli botani Skotlandia, yang banyak meneliti tumbuh-tumbuhan India. Masyarakat Indonesia yang sudah terlebih dahulu mengenal buah ara (buah tin), common fig, Ficus carica; menyebut perdu hias ini dengan nama ara gajah. Sebab buahnya mirip dengan buah ara, tetapi berukuran sangat besar dan menempel cukup banyak di batang/dahan.

    Di marketplace Indonesia, ara gajah pernah ditawarkan sebagai “buah tin merah raksasa yang manis dan sudah sangat langka”. Itu jelas penipuan, sebab ara gajah merupakan tanaman (perdu) hias. Bukan tanaman penghasil buah. Meskipun buah ara gajah edible, tetapi rasanya tidak seenak buah ara/tin produk Timur Tengah. Itulah sebabnya di India buah ara gajah dipanen muda untuk dibuat pickle. Sebenarnya tawaran bibit buah tin/ara di marketplace juga menipu karena foto yang digunakan foto buah tin yang dibudidayakan di kebun-kebun komersial di Timur Tengah, bukan buah tin/ara yang tumbuh di Indonesia.

    Buah tin/ara merupakan tumbuhan gurun. Tetapi habitat asli buah ara/tin malah bukan Jazirah Arab, melainkan tersebar mulai dari Yunani, Siprus, Turki, Libanon, Suriah, Israel, Palestina, Irak, Iran, Afghanistan, Pakistan, Tadzhikistan dan Turkmenistan. Habitat paling selatan buah ara/tin sudah berada di 24,8607° Lintang Utara. Buah ara/tin baru belakangan menyebar ke Jazirah Arab. Buah ini sama-sama disebut dalam Kitab Suci Agama Yahudi, Kristen dan Islam. Dalam agama Katolik/Protestan buah ini disebut ara sedangkan dalam Islam disebut buah tin. Karena dikaitkan dengan agama bibit buah tin/ara laris manis di Indonesia.

    Padahal di Indonesia Ficus carica yang tumbuhan gurun itu hampir tidak mungkin bisa berbuah sebaik di habitat aslinya. Buah tin/ara sama dengan delima, Punica granatum yang sudah terlebih dahulu masuk Indonesia dan banyak ditanam di halaman rumah dan bisa berbuah. Tetapi ukuran, ketebalan pulp (daging buah), dan terutama rasanya tidak akan sama dengan delima yang ditanam di Turki misalnya. Di Ankara dan Istanbul, delima biasa dijajakan di tepi jalan untuk minuman. Kurma juga pernah diramaikan media massa Indonesia karena bisa dibudidayakan di kawasan tropis. Ternyata heboh kurma tropis ini juga penipuan.

    Dekade 1990

    Ara gajah sudah diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1823 dan ditanam sebagai koleksi di Kebun Raya Bogor. Tetapi sebagai tanaman hias komersial, ara gajah baru mulai populer pada dekade 1990 sebagai perdu hias. Saya pertamakali melihat ara gajah di tepi danau di Tanah Tingal Ciputat, Tangerang Selatan, Banten; pada awal tahun 2000an. Di tepi danau ini tajuk ara gajah cenderung melebar dengan percabangan mulai dari dekat permukaan tanah sampai menjorok ke permukaan air. Daun ara gajah yang lebar membuat tajuk perdu hias ini sangat rapat dan potensial menyerap panas matahari, CO2 dan polutan lainnya.

    Meskipun berdaun lebar dan bertajuk rapat, penampilan ara gajah lebih “lunak” (soft) dibanding “biola cantik”, kemunding, fiddle-leaf fig, Ficus lyrata; yang sudah populer sebagai pohon hias sejak dekade 1970. Biola cantik terkesan lebih “keras” karena bentuk batang dan permukaan daunnya yang licin mengkilap. Dibanding biola cantik, ara gajah juga lebih eksotis karena berpucuk kemerahan, dengan banyak sekali buah menempel di batang/dahannya. Aura yang ditimbulkan ara gajah lebih teduh dan biasanya ditaruh di lokasi yang strategis sebagai fokus utama dari keseluruhan elemen taman.

    Para penangkar tanaman peneduh sebagai elemen taman dengan cepat bisa memperbanyak ara gajah melalui stek cabang. Meskipun tanaman ini juga bisa diperbanyak secara generatif melalui penyemaian biji, tetapi jangka waktu perkecambahan dan pertumbuhannya sampai menjadi tanaman siap jual akan memakan waktu cukup lama, sekitar empat sampai lima tahun. Sementara perbanyakan dengan stek cabang, tanaman sudah bisa rimbun dalam jangka waktu satu sampai dua tahun. Saat ini harga bibit ara gajah hasil stek/cangkok umur satu tahun paling murah Rp250.000 per polybag.

    Karena buah ara gajah tidak seenak buah tin/ara, para pemilik tanaman ini membiarkan buahnya menjadi merah dan berjatuhan, atau dimakan burung, codot dan musang. Sama dengan spesies Ficus lainnya, biji ara gajah juga tidak akan tercerna dalam perut hewan pemakan buah. Biji-biji ini tetap akan utuh dan keluar bersama fases hewan. Apabila biji genus Ficus ini menempel di celah percabangan pohon atau di bangunan tua, akan segera berkecambah pada musim penghujan dan menjadi individu tanaman baru. Di Indonesia, beberapa spesies ficus menjadi invasif. Misalnya beringin pencekik, Ficus annulata.

    Karena buah tin/ara di Indonesia tidak bisa sebesar dan sebanyak di Timur Tengah, para pedagang bibit tanaman menawarkan ara gajah sebagai “buah tin/ara merah raksasa yang manis dan langka”. Penampilan buah ara gajah memang sangat meyakinkan. Miriplah dengan buah loa, Ficus racemosa yang banyak tumbuh di tepi sungai-sungai Jakarta dan sekitarnya, dengan batang dan cabang dipenuhi buah ketika sedang musim. Genus Ficus, beranggotakan 881 spesies, tersebar di Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Dari 881 spesies itu, hanya tin/ara, yang dibudidayakan sebagai penghasil buah. Ara gajah hanya tanaman hias. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *