• HYDROSEEDING MENGGUNAKAN DRONE

    by  • 07/04/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Dekade 1940 seorang pejabat Departemen Jalan Raya Negara Bagian Connecticut, Amerika Serikat (AS) bernama Maurice Mandell was-was melihat tebing di kiri kanan jalan yang rawan longsor. Setelah berpikir lama, ia menemukan ide untuk menyemprotkan biji rumput dan semak ke tebing di kiri kanan jalan itu.

    Biji rumput dan semak itu mestinya kecil dan keras. Agar aman biji itu tak hanya dicampur air melainkan juga diberi mulsa organik, perekat agar menempel di tanah atau batuan, juga diberi zat warna hijau agar langsung tampak bagian mana yang sudah tercover biji dan mana yang belum. Teknologi ini kemudian dikenal dengan nama penyemaian hidro atau mulsa hidrolik, hidro-mulsa, yang merupakan terjemahan dari hydroseeding. Hydroseeding kemudian juga menjadi bisnis. Mereka yang mau menebar biji, cukup membeli bongkahan hydroseeding, mencairkan dan memasukkan biji yang mau ditebar dalam larutan tersebut.

    Awalnya hydroseeding ditaruh dalam tangki lalu disemprotkan menggunakan kompresor biasa. Nozel hydroseeding bisa diatur sesuai dengan ukuran biji yang akan ditebar di lapangan. Tetapi umumnya biji rumput dan legum sebagai belukar atau perdu berukuran kecil. Bahkan biji genus ficus yang bisa menjadi pohon raksasa justru berukuran sangat kecil dan menyebar bersama fases burung pemakan buah. Maurice Mandell senang karena dengan menggunakan teknologi ini, tebing “telanjang” yang dipotong jalan tol itu bisa dihijaukan dengan cepat hingga aman dari longsor dan erosi saat musim hujan tiba.

    Dalam proyek jalan tol di Indonesia, tebing di kiri-kanan masih ditanami secara manual, atau diturap menggunakan semen. Yang paling sering tebing itu ditutup plastik. Baru ada beberapa proyek jalan tol yang sudah menggunakan hydroseeding untuk menutup tebing karena dipotong untuk menghasilkan permukaan jalan yang relatif rata meskipun di lokasi tanjakan/turunan. Salah satu yang sudah menggunakan hydroseeding proyek pembuatan jalan tol di IKN, Kalimantan Timur. Di proyek-proyek seperti ini hydroseeding disemprotkan dari mobil tangki yang bisa masuk ke area jalan tol.

    Hydroseeding kemudian berkembang. Penggunaannya diperluas untuk menghijaukan kawasan bertebing curam yang tidak terjangkau oleh mobil tangki. Di lokasi seperti ini hydroseeding disemprotkan dari helikopter. Biayanya tentu menjadi sangat tinggi terkait dengan BBM, pengemudi heli serta penyemprot hydroseeding. Hingga tebing-tebing curam ini sampai sekarang sulit dihijaukan. Menggunakan tenaga manusia secara manual sulit, menggunakan Hydroseeding yang disemprotkan melalui helikopter jadi berbiaya sangat tinggi. Hingga tebing-tebing curam yang longsor akan kembali hijau secara alami dalam jangka waktu lama.

    Menggunakan Drone

    Drone sebenarnya sebuah helikopter mini yang bertenaga penggerak batu baterai. Sejarah drone berawal pada tahun 1849 saat Austria menggunakan balon udara berisi bahan peledak untuk menyerang Italia. Pada Perang Dunia I dan II, negara-negara Eropa menciptakan pesawat nirawak untuk latihan menembak para pemegang bazooka anti pesawat terbang, juga untuk misi pengintaian. Saat itulah istilah drone digunakan untuk mewadahi terminologi pesawat tanpa awak. Drone dalam pengertian sekarang diciptakan di Amerika Serikat pada dekade 1990 dan terus berkembang sesuai dengan tujuan penggunaan.

    Di China drone juga digunakan untuk menyemprot areal pertanian yang luas, menebar benih dan mengangkut hasil panen di kawasan pegunungan yang terisolasi ke kawasan yang bisa dijangkau kendaraan bermotor. Dulunya, hasil panen diangkut tenaga manusia dan hewan. Belakangan drone mulai dimanfaatkan untuk menyemprotkan benih menggunakan material hydroseeding. Dengan menggunakan drone, penyemprotan material hydroseeding bisa lebih efektif dan efisien. Efektif karena lokasi yang tak bisa didekati helikopter, masih mungkin didekati drone. Efisien karena harga/sewa drone lebih murah dari heli.

    Di Indonesia tampaknya belum ada perusahaan yang khusus memproduksi hydroseeding siap pakai. Kalau mengimpor dari China terlebih AS pasti sangat mahal. Makanya para pengguna hydroseeding lebih memilih meracik sendiri menggunakan bahan perekat, biomassa yang salah kaprah disebut “mulsa”, hydrogel aquasorb dan zat warna (biasanya hijau). Material yang digunakan sebagai “mulsa” biasanya serbuk sabut kelapa (coco peat) karena paling murah dan mudah didapatkan dalam volume besar. Ke dalam material (adonan) hydroseeding ini kemudian dimasukkan benih dan air untuk disemprotkan menggunakan drone.

    Selain tebing-tebing curam, hamparan alang-alang juga bisa diatasi dengan menebarkan biji lamtoro (di dataran rendah) dan biji kaliandra merah (di dataran tinggi). Pertama lahan yang tertutup alang-alang itu disemprot herbisida hingga kering. Setelah itu pada awal musim penghujan biji lamtoro atau kaliandra dimasukkan ke material hydroseeding dan disemprotkan menggunakan drone. Di Indonesia terdapat sekitar 157 juta hektar lahan marjinal yang tertutup alang-alang. Dengan menebarkan biji lamtoro/kaliandra dalam material hydroseeding menggunakan drone, lahan-lahan marjinal itu akan menjadi hutan lamtoro/kaliandra.

    Dalam jangka waktu antara 3 – 5 tahun lahan marjinal yang tertutup alang-alang itu akan menjadi hutan lamtoro/kaliandra yang subur. Sebagai legum, lamtoro dan kaliandra mampu mengambil nitrogen dari udara dan menyimpannya dalam bintil akar berkat bantuan mikoriza. Selain siap untuk ditanami komoditas komersial, lamtoro/kaliandra juga menghasilkan pupuk hijau (rontokan daun), dan kayu untuk berbagai keperluan terutama sebagai bahan bakar (biomassa). Kendala utama penggunakan hydroseeding dan drone di Indonesia bukan masalah teknis melainkan moral para pengambil keputusan. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *