BIOETANOL DARI AREN?
by indrihr • 17/11/2025 • Uncategory • 0 Comments
Belakangan marak ide untuk memanfaatkan nira aren menjadi bioetanol. Artinya nira aren yang selama ini diolah menjadi gula palma (gula merah), akan difermentasi dan didestilasi hingga menjadi bioetanol. https://finance.detik.com/energi/d-7918008/aren-bakal-disulap-jadi-bahan-bakar-ini-bocorannya
Sebutan bioetanol sebenarnya tidak tepat. Sebab meskipun etanol bisa diproduksi dari minyak bumi, namun umumnya etanol (ethyl alcohol, grain alcohol CH3CH2OH) merujuk ke alkohol minuman yang selalu diproduksi dari bahan nabati berupa buah-buahan, biji-bijian, umbi-umbian atau pati batang tanaman (misalnya sagu dan aren). Etanol dari bahan apa pun terlalu mahal untuk dijadikan bahan bakar. Beda dengan metanol, spiritus (methanol, methyl alcohol, wood alcohol CH3OH) yang lazim digunakan sebagai bahan bakar. Jadi ide untuk memanfaatkan aren sebagai energi alternatif tidak rasional.
Aren, Arenga pinnata dan sagu, rumbia, Metroxylon sagu; merupakan palma dengan cadangan pati dalam batang. Pada aren, cadangan pati ini bisa dipanen sekaligus dengan menebang batang, menggiling, penyaring serta mengendapkan patinya. Bisa pula aren dibiarkan berbunga lalu bunga betinanya menjadi kolang-kaling dan bunga jantannya disadap untuk menghasilkan nira. Cara kedua ini memerlukan waktu lebih lama tetapi bisa memberikan penghasilan dengan nilai tambah ke penyadap nira dan perajin gula aren. Sedangkan cara pertama bisa lebih cepat tetapi petani hanya mendapatkan uang satu kali dari hasil penjualan batang aren.
Beda dengan aren, pati dalam batang sagu hanya bisa dipanen dengan cara ditebang. Secara teknis sagu juga bisa disadap niranya, tetapi dalam praktek hampir tidak mungkin. Hingga kalau sudah terlewat keluar bunga/buahnya, pati dalam batang akan habis. Sama dengan aren, panen pati dalam batang sagu harus benar-benar tepat pada saat menjelang berbunga. Terlalu awal kandungan pati dalam batang masih kurang, terlambat sampai tanaman berbunga sebagian pati sudah digunakan untuk membentuk bunga. Para penebang tahu dengan tepat tanda-tanda batang sagu dan aren siap panen.

Kelapa (Cocos nucifera), lontar (Borassus flabellifer) dan nipah (Nypa fruticans) juga bisa disadap pelepah bunga/buahnya untuk diambil niranya. Tetapi kelapa, lontar dan nipah tidak memproduksi pati dan menyimpannya didalam batang. Produksi BBM dari bahan nira kelapa, lontar, nipah terlebih lagi aren dalam bentuk methanol lebih tidak mungkin karena harganya menjadi lebih mahal lagi dibanding produksi etanol dari pati batang aren dan sagu. Tetapi pati aren dan sagu juga masih diperlukan sebagai bahan pangan, dengan harga Rp20.000 sampai Rp25.000 per kilogram.
Dari Biomassa
Produksi pati paling murah dan cepat tentu dari serealia. Mulai dari gandum, beras, jagung, sorgum dll. yang semuanya masih diperlukan sebagai bahan pangan. Singkong dan ubi jalar juga bisa dibudidayakan secara massal untuk memproduksi etanol. Tetapi dua jenis umbi-umbian ini juga merupakan bahan pangan manusia. Bahkan euforia jarak dan minyak sawit (crude palm oil, CPO), untuk biodisel sebenarnya juga tidak rasional, karena BBM dari minyak bumi masih lebih murah. Satu-satunya bahan energi murah dan bisa diproduksi massal hanyalah biomasa (serasah, sampah organik). Bahan ini bisa dibakar langsung sebagai energi.
Tetapi membakar biomassa juga akan menghasilkan gas buang CO2 dan kalori yang dihasilkan tidak setinggi batubara. Cara lain untuk mengubah biomassa menjadi energi, dengan memeramnya (merendam dalam air) hingga menghasilkan gas metana. Para peternak sapi perah di Pangalengan, Bandung Selatan sudah lama memanfaatkan limbah kotoran ternak mereka sebagai penghasil gas metana untuk memasak dan penerangan. Mereka menggunakan lubang yang diisi kotoran ternak dan air, kemudian gas metana yang terbentuk ditampung dalam kantung plastik besar untuk dialirkan ke kompor dan lampu.
Biomasa berupa serpihan kayu, terlebih kayu keras, masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Misalnya untuk papan MDF (Medium Density Fiberboard) dan bahan bakar langsung. Di pabrik minyak sawit, cangkang dan sabut sawit dibakar untuk menghasilkan energi bagi keperluan pabrik dan penerangan di kantor serta perumahan karyawan. Dulu cangkang sawit dibuang untuk pengerasan jalan. Sekarang cangkang sawit laku dijual ke Pulau Jawa sebagai energi alternatif karena kalori yang dihasilkan sangat tinggi. Biomassa seperti ini juga terlalu mahal untuk dijadikan gas metana.
Sampah organik dari pasar, atau limbah pertanian justru bisa cepat menghasilkan gas metana. Sampah organik heterogen yang lunak, misalnya daun-daunan berikut rantingnya, limbah pertanian yang tak bisa digunakan sebagai pakan ternak, semua bisa diperam hingga menghasilkan gas metana. Dalam skala massal dan komersial produksi gas metana harus menggunakan wadah dan pipa permanen, bukan hanya dengan plastik bening seperti para peternak di Bandung Selatan. Sebab gas metana rentan terbakar dan dalam wadah tertutup juga rawan meledak apabila terpercik api.
Ada beberapa cara untuk mengubah gas metana menjadi bahan cair metanol. Salah satunya dengan memanaskan gas metana (CH4) dan uap air (H2O) dalam tabung hingga terbentuk hidrogen (H) dan karbon monoksida CO2. Dalam tekanan tinggi dan bantuan katalis hidrogen dan karbon monoksida akan bereaksi hingga menghasilkan metanol, CH3OH. Sampai sekarang pemanfaatan biomassa untuk gas metana dan metanol masih belum terlalu menarik bagi pemerintah maupun investor. Sebab cadangan gas alam kita masih sangat besar, meskipun hanya berada di peringkat 26 negara dengan cadangan gas alam dunia. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
