KOLESTEROL KAMBING DAN DOMBA
by indrihr • 02/12/2025 • Uncategory • 0 Comments
Sore tepat hari raya Iduladha seorang pakar pengobatan alternatif dilarikan ke RS karena menderita stroke ringan. Siangnya dia menyantap daging kambing cukup banyak. Padahal kandungan kolesterol daging kambing justru lebih rendah dari daging sapi dan ayam.
Dalam tiap 85 gram daging kambing terkandung 68,3 mg kolesterol. Daging sapi dengan bobot sama mengandung 73,1 mg kolesterol (sama dengan daging babi). Hingga kandungan kolesterol daging sapi dan babi lebih tinggi dari daging kambing. Dengan bobot sama daging ayam mengandung 76 mg kolesterol, tetap masih lebih tinggi dari daging kambing. Jadi daging kambing justru paling aman dikonsumsi dibanding daging sapi, daging babi maupun daging ayam. Kalau daging kambing berkolesterol paling rendah, mengapa pakar pengobatan alternatif itu justru menderita stroke ringan setelah menyantap daging kambing?
Ternyata yang dikonsumsi pakar pengobatan alternatif itu bukan daging kambing, goat, Capra hircus; melainkan daging domba, sheep, Ovis aries. Di pasar global, daging kambing disebut chevon. Sedangkan daging domba disebut lamb atau mutton. Di Indonesia daging domba dipasarkan dengan nama sama dengan daging kambing. Kandungan kolesterol daging domba 78,2 mg per 85 gram inilah yang paling tinggi dibanding daging sapi, babi, ayam dan kambing. Hingga peringatan: “Awas jangan banyak-banyak makan sate kambing!” Itu sebenarnya peringatan untuk sate domba, bukan sate kambing.
Yang disebut daging dalam konteks ini daging murni (daging merah) tanpa lemak dan jaringan epimisium sebagai pengikat. Juga bukan jeroan dan bagian lain dari hewan. Misalnya bagian kepala, teracak (kikil) dan kulit. Sama-sama daging sapi, daging paha dengan daging perut juga berbeda kandungan kolesterolnya. Bahkan has luar dengan has dalam kandungan kolesterolnya lebih banyak has luar. Daging kikil misalnya justru sama sekali tak mengandung kolesterol. Daging ayam kampung lebih rendah kolesterolnya dibanding daging ayam broiller. Daging ayam murni tanpa kulit, kandungan kolesterolnya lebih rendah dibandingkan dengan yang masih berkulit.
Sama-sama sapi, kandungan kolesterol sapi kereman impor lebih tinggi dibanding sapi lokal dari Kabupaten Gunung Kidul misalnya. Kandungan kolesterol sapi 73,1 mg per 85 gram itu sapi pedaging Amerika Serikat. Kambing, domba, babi dan ayamnya juga hewan ternak pedaging yang dipelihara secara massal di Amerika Serikat. Kandungan kolesterol domba ekor tipis dan kambing kacang yang paling banyak dipelihara di Indonesia, lebih rendah kandungan kolesterolnya dibanding standar acuan kandungan kolesterol versi Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA, the United States Department of Agriculture).
Perbedaan Kambing dengan Domba
Kambing mulai dipelihara manusia sejak tahun 9.000 SM di pegunungan Zagros, di bagian barat Iran. Pada tahun yang sama domba juga mulai diternak manusia Mesopotamia (lembah sungai Tigris dan Eufrat). Di pegunungan Zagros kambing dipelihara dengan dikandangkan dan diberi pakan daun-daunan. Di Mesopotamia domba dipelihara dengan cara digembalakan di padang rumput. Kecuali saat musim dingin domba-domba itu dikandangkan di ceruk (gua) dan diberi pakan rumput kering. Sejak awal memang terdapat perbedaan karakter pakan dan cara pemeliharaan kambing serta domba.

Di alam aslinya kambing tinggal di kawasan pegunungan, dan lebih banyak makan daun-daunan semak, perdu dan pohon. Di Maroko, sampai sekarang kambing masih rutin memanjat pohon argan, Sideroxylon spinosum, untuk makan pucuk daunnya. Sebaliknya domba yang hidup di lembah yang datar lebih banyak mengonsumsi rumput. Ketika dipelihara manusia zaman modern sekarang, kambing dan domba memang bisa beradaptasi untuk makan konsentrat. Tetapi secara tradisional, para peternak tahu kalau kambing makan daun-daunan dan domba makan rumput. Apabila hewan beda genus ini dipelihara dengan cara sama, penyakit akan mudah datang.
Populasi domba dunia saat ini sekitar 1,2 miliar ekor, sedikit lebih banyak dibanding populasi kambing yang 1,1 miliar ekor. Domba lebih banyak dipelihara secara massal oleh perusahaan peternakan besar sebagai penghasil wool. Sedangkan kambing lebih banyak dipelihara peternak kecil sebagai penghasil daging, susu dan keju. Keju kambing Saanen dari pegunungan Alpine di Swiss sangat terkenal karena kelezatannya. Di Indonesia kambing Saanen dan Peranakan Etawa (PE) hanya cocok dipelihara di dataran tinggi. Di dataran rendah lebih cocok kambing perah Nubia dari Timur Tengah.
Di Indonesia populasi kambing sekitar 15,7 juta ekor. Sedangkan domba 9,2 juta. Kambing lebih diminati untuk dibudidayakan di Indonesia karena bisa mengonsumsi daun-daunan, hingga lebih mudah pemeliharaannya. Sedangkan domba menyukai rumput yang pada musim kemarau agak sulit pengadaannya. Kambing yang paling banyak dipelihara di Indonesia kambing kacang yang bertubuh kecil tetapi lebih padat. Sedangkan domba yang paling banyak dibudidayakan domba ekor tipis. Kambing PE dan domba garut dipelihara sebagai ternak “kebanggaan” untuk diikutkan kontes.
Dibanding sapi, kambing dan domba memiliki jalur pemasaran khusus. Memasarkan 10.000 ekor sapi potong relatif lebih mudah dibanding memasarkan 100 ekor kambing dan domba. Sebab kambing untuk konsumsi harian pun belum ada pedagang besarnya, yang mampu menyerap dan menampung sampai ratusan ekor kambing/domba siap potong. Sebaliknya pedagang sapi potong mampu membeli dan menampung sampai puluhan ribu ekor sapi siap potong. Karenanya peternak kambing dan domba lebih mengharap pasar musiman sebagai hewan kurban yang harganya cukup bagus. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
