• BERINGIN PENCEKIK

    by  • 08/12/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Pohon peneduh jalan dan elemen taman kota yang sudah berumur ratusan tahun, terancam mati karena dicekik oleh pohon beringin pencekik, bulu emprit, kiara koneng, Ara bungkus, strangler fig, Ficus annulata.

    Tahun 1993 Sarwono Kusumaatmadja diangkat menjadi Menteri Lingkungan Hidup menggantikan Emil Salim. Untuk mendekatkan diri dengan lingkungan hidup, Sarwono Kusumaatmadja jalan sendirian ke Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia naik kendaraan umum, tanpa pengawalan, tanpa ajudan maupun sekretaris. Sesampai di kantor taman nasional di Tamanjaya, Kecamatan Sumur; Sarwono mengisi Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Staf di kantor taman nasional itu kaget ketika orang yang datang itu Menteri Lingkungan Hidup.

    Melalui HT (Handy Talky) ia menghubungi Darmadji, Kepala Taman Nasional Ujung Kulon. Darmadji memandu Sarwono ke Pulau Handeuleum dan menginap di Pulau Peucang. Esoknya dengan dikawal ranger mereka masuk ke hutan Pulau Peucang menuju Karang Copong. Di dalam hutan Pulau Peucang itu banyak pohon hutan, terutama meranti yang dicekik oleh karet hutan (karet merah, karet kebo, Indian rubber tree, Ficus elastic). Karet hutan itu ada yang baru tumbuh, ada yang sudah mencekik pohon inangnya, ada pula yang sudah menjadi pohon raksasa dan pohon inangnya sudah mati, bahkan sudah lapuk meninggalkan rongga di tengah akar karet hutan.

    Darmadji menjelaskan secara detil proses pencekikan oleh karet hutan itu. Buah karet hutan dimakan burung, bijinya yang kecil-kacil dan keras keluar bersama kotoran lalu menempel di celah cabang pohon hutan. Di situlah karet hutan itu tumbuh. Dahan dan rantingnya merayap ke atas mengejar sinar matahari, akarnya menjulur ke bawah mencari tanah. Lama-lama karet hutan yang jenis Ficus itu mencekik pohon inangnya sampai mati. Darmadji menjelaskan bahwa karet hutan itu jenis beringin. Berarti beringin itu jahat ya? Tanya Sarwono yang sebelumnya menjabat sebagai Sekjen Golongan Karya (Golkar) yang berlambang beringin.

    Ada puluhan jenis Ficus yang pola hidupnya menempel di pohon lain bahkan juga di bangunan. Hancurnya bangunan kuno Angkor Wat di Kamboja antara lain juga disebabkan oleh jenis Ficus yang akan tumbuh menjadi pohon besar dan perakarannya merusak bangunan yang ditumpanginya. Di seluruh dunia tercatat 881 spesies Ficus yang tersebar di semua benua kecuali Eropa. Tidak semua jenis Ficus akan tumbuh menjadi pohon raksasa. Awar-awar, Ficus septica; daun ampelas, Ficus ampelos; dan tabat barito, Ficus deltoidea; hanya tumbuh berupa perdu bahkan semak yang beda sekali dengan beringin dan karet hutan.

    Membunuh Pohon Tua

    Di sepanjang jalan Kusbini, di samping depo lokomotif “Los Bunder” Yogyakarta, yang sekarang telah beralih fungsi menjadi gudang perbekalan; berderet pohon kenari Canarium indicum. Pohon kenari itu telah berumur puluhan bahkan mungkin di atas 100 tahun. Sebagian besar pohon kenari di sepanjang jalan Kusbini itu telah dililit beringin pencekik. Satu dua sudah penuh dililit hingga tinggal menunggu mati dan posisinya akan digantikan oleh si beringin. Beberapa memang baru ditumbuhi oleh beringin pencekik muda yang “nangkring” di tajuk kenari itu, dengan akarnya yang masih kecil tetapi telah mencapai tanah.

    Tanpa campur tangan manusia, seluruh pohon kenari di jalan Kusbini, Yogyakarta akan punah dan berganti dengan deretan pohon beringin. Memang tidak masalah karena beringin pencekik juga bisa menjadi pohon peneduh jalan. Tetapi beringin pencekik akan tumbuh sangat besar hingga tajuknya melebar ke mana-mana dan akarnya akan merusak badan jalan serta bangunan. Hingga secara ideal, beringin pencekik tidak cocok menjadi tanaman peneduh jalan atau elemen taman. Di Pulau Jawa beringin pencekik, dan juga beringin biasa, weeping fig, Ficus benjamina, biasa ditanam di tengah alun-alun hingga aman.

    Yang dibunuh oleh beringin bukan hanya kenari melainkan semua jenis pohon, terutama pohon besar kecuali yang berbatang licin seperti Eukaliptus. Sebab biji beringin yang kecil tidak punya tempat untuk tumbuh di kulit batang yang licin. Mulai dari asam jawa, trembesi, mahoni, angsana, bahkan palma juga bisa ditempeli beringin pencekik. Palma terutama sawit dan aren sangat disenangi semua spesies Ficus karena celah-celah pelepahnya kaya akan humus yang merupakan media paling ideal untuk perkecambahan biji, dan pertumbuhan awal. Untunglah, palma sebagai tumbuhan monokotil tak bisa dicekik oleh Ficus karena batangnya tidak tumbuh menyamping (membesar).

    Jadi pohon kelapa, aren, sawit dan siwalan yang ditempeli Ficus akan tetap hidup bersama-sama dengan si penempel. Sebab beringin itu sebenarnya tidak benar-benar mencekik tumbuhan inangnya. Tumbuhan inangnya itulah yang tumbuh membesar ke samping, hingga ketika dibatasi oleh akar beringin, batang itu seperti “tercekik” hingga suplai nutrisi dari daun ke akar akan terganggu. Batang palma yang tumbuh hanya ke atas, tidak akan terganggu oleh keberadaan akar beringin. Kalau pun palma itu kemudian mati, itu karena suplai hara dan sinar matahari terbatasi oleh keberadaan beringin.

    Tumbuhan walisongo, pohon gurita, umbrella tree genus Heptapleurum; juga tumbuh di celah-celah batang/cabang pohon hutan. Batang walisongo tumbuh ke atas “mengejar” sinar matahari, akarnya menjangkau tanah. Bedanya, walisongo tidak pernah sampai membunuh tumbuhan inangnya. Sebab walisongo tidak akan tumbuh besar seperti halnya beringin pencekik. Dinas pertamanan kota dan kementerian PUPR tak terlalu memperhatikan keberadaan beringin pencekik dan spesies strangler fig yang jumlahnya puluhan itu. Tahu-tahu pohon yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun mati tercekik beringin pencekik. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *