TBK SAWIT UNTUK GAS METANA
by indrihr • 12/01/2026 • Uncategory • 0 Comments
Tahun 2024, Indonesia menghasilkan minyak sawit mentah (CPO, Crude Palm Oil) sebanyak 48,16 juta ton. Volume tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai limbah sedikit di atas volume CPO. Taruhlah sama, tahun 2024 ada 48,16 juta ton TKKS.
Dimanfaatkan untuk apa sajakah TKKS selama ini? Ada yang mengembalikannya ke kebun untuk pupuk. Dengan pupuk organik TKKS, pupuk urea bisa dikurangi tanpa berpengaruh ke volume produksi tandan buah segar (TBS). Masalahnya, TKKS yang ditebar di lahan sawit mengundang serangga, cendawan, bakteri dan mikroorganisme lain yang potensial menjadi hama dan penyakit sawit. Kecuali TKKS itu dikomposkan. Tetapi mengomposkan TKKS memerlukan biaya tersendiri yang bisa lebih tinggi dari biaya pemupukan dengan urea. Itulah sebabnya TKKS tetap menjadi masalah tersendiri bagi perkebunan sawit.
Dulu pernah ada gagasan, TKKS dan pelepah sawit diolah jadi medium-density fiberboard (MDF) papan biomasa dengan tingkat kekuatan menengah. Di bawah hardboard tetapi di atas softboard. Di atas kertas, hitung-hitungannya feasible. Kendalanya, lokasi kebun sawit itu terpencar-pencar bukan hanya di lain provinsi melainkan juga di lain pulau. Mendirikan pabrik MDF di satu lokasi perkebunan tidak feasible karena volume TKKS terlalu kecil. Mengumpulkan TKKS dari banyak perkebunan diangkut ke satu pabrik juga tidak feasible karena biaya angkut raw material terlalu tinggi. Kembali nasib TKKS tak kunjung jelas.

Ada pula ide yang cukup naif. Dibuat kompos saja terus dijual. Pak, volume TKKSnya itu sekitar 50 juta ton karena sedikit di atas CPO. Mengangkut kompos jarak jauh sangat tidak feasible. Pertanian padi memang memerlukan kompos sekitar 5 ton per hektar agar urea bisa dikurangi sampai tinggal 100 kg. per hektar. Tetapi kompos paling murah untuk padi sawah hanyalah jerami. Tinggal ditumpuk di pojok petakan lalu musim tanam berikutnya ditebar di lahan. Tak perlu membeli tak perlu biaya angkut. Paling masuk akal, TKKS memang dikembalikan ke kebun dan dampak yang timbul diatasi.
Selama ini pabrik dan perumahan perkebunan memerlukan listrik. Tetapi dengan membakar sebagian sabut dan cangkang sawit, kebutuhan listrik mereka sudah terpenuhi. Dulu cangkang sawit juga bermasalah sampai ditebar untuk pengerasan jalan. Sekarang cangkang sawit laku dan jadi rebutan karena sebagai bahan bakar kalorinya sangat tinggi, sama dengan kalori tempurung kelapa. Cangkang sawit sebagai limbah teratasi karena laku Rp1 juta sampai Rp2 juta per ton. Sabut (debu) sawit yang tersisa karena tak digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik internal tak terlalu besar volumenya.
Untuk PLTU
Pernah juga ada gagasan untuk memanfaatkan TKKS sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). PLN pernah survei, satu ton TKKS dapat menghasilkan listrik sekitar 830 kWh (kilowatt-jam) dengan catatan, TKKS nya diolah terlebih dahulu menjadi pelet biomassa sebelum dimasukkan ke dalam tanur. Nilai kalori pelet lebih tinggi dan lebih praktis sebagai bahan bakar PLTU. Kalori satu ton pelet TKKS sekitar 4 juta kkal (kilokalori), dan dapat menghasilkan listrik sekitar 830 kWh. Masalahnya mengolah TKKS menjadi pelet siap bakar juga memerlukan biaya dan itu akan membuat “proyek” PLTU berbahan bakar TKKS menjadi tidak feasible.
Mengapa tidak dibakar begitu saja? Pertama, TKKS itu basah dan hanya dionggokkan begitu saja. Untuk mengeringkannya memerlukan biaya. Memang benar, kalau tanur sudah panas, TKKS basah dimasukkan juga akan menyala. Tetapi itu tetap mengurangi kalori TKKS di dalam tanur, sebab sebagian digunakan untuk mengeringkan TKKS basah sebelum bisa dibakar. Jadi sama saja. Dibakar dalam bentuk pelet perlu biaya tambahan, dibakar langsung mengurangi kalori (energi) dalam tanur. Memang TKKS tidak feasible sebagai bahan bakar PLTU, sebab PLN sebagai pembeli listrik biomassa untuk dijual lagi mematok harga Rp 975/kWh x F untuk Tegangan Menengah dan Rp 1.325/kWh x F untuk Tegangan Rendah). F = faktor konversi.
Melihat peluang-peluang tadi, yang paling masuk akal mengolah TKKS menjadi gas metana (gas bio). Prinsip dasar mengubah TKKS menjadi gas bio justru tanpa perlu mengeringkan. Cukup dengan mencincang atau menggilingnya lalu memeramnya dalam air dengan penambahan bakteri anaerobik. Prinsip dasar produksi gas metana sama dengan sistem silo. Yang masuk lebih awal akan keluar lebih awal. Volume tabung atau ruang pemeraman, disesuaikan dengan volume harian TKKS. Misalnya dalam sehari ada 20 ton TKKS yang masuk ke tempat pemeraman. Begitu 20 ton TKKS itu masuk, di ujung lain akan ada 20 ton ampas TKKS yang keluar.
Produksi gas metana tidak bergantung ke volume minimal TKKS, hingga masing-masing pabrik bisa memproduksi gas metana di lokasi setempat. Yang diangkut ke luar gas metananya. Karena mengangkut gas metana beresiko meledak dan terbakar, paling ideal memang mengkonversi gas metana menjadi metanol. Mengangkut bahan cair lebih murah dan lebih aman dibanding bahan gas. Untuk itu memang juga diperlukan biaya energi untuk memanaskan gas metana (CH4) dan uap air (H2O) dalam tabung hingga terbentuk gas hidrogen (H) dan karbon monoksida (CO2).
Hidrogen dan karbon monoksida itu dimampatkan dengan tekanan tinggi hingga kembali bereaksi menjadi metanol, CH3OH. Tetapi ini juga akan menambah biaya yang belum tentu feasible. Belum lagi memasarkan gas metana atau metanol tetap juga memerlukan usaha yang tidak mudah. Akan lebih rasional apabila gas metana itu langsung disalurkan ke PLTU untuk menghasilkan listrik. Listriknyalah yang dijual ke PLN. Menyalurkan listrik juga memerlukan biaya, tetapi berupa investasi (fixed). Sementara mengkonversi gas metana menjadi metanol memerlukan biaya produksi yang bersifat variable. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
