• MISTERI MAJA PAHIT

    by  • 07/08/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Dalam kitab Pararaton, dan Wijaya Krama, dikisahkan orang-orang Madura yang membantu Raden Wijaya membabat hutan Tanah Terik itu kehausan. Mereka memetik dan memakan buah maja. Ternyata buah itu berasa pahit.

    Dari kisah itulah tercipta nama Majapahit. Selama ini sebagian besar masyarakat menganggap bahwa buah maja yang dipetik dan dimakan oleh anak buah Raden Wijaya itu maja bernuk (calabash tree, Crescentia cujete). Sebab maja bernuk memang berpenampilan cukup menarik, ukurannya sebesar bola, berbentuk bundar, berkulit licin, tetapi daging buahnya berasa pahit, bahkan beracun. Daging buah maja bernuk berwarna putih dan hanya dimanfaatkan sebagai pestisida, atau media pengembangan mikro organisme lokal (MOL). Tempurungnya yang keras sering digunakan untuk bahan kerajinan.

    Maja-4

    Maja bernuk banyak dijumpai tumbuh sebagai pagar kebun dan halaman. Buah ini diperbanyak dari benih stek cabang. Meskipun maja bernuk berasa pahit, yang dimakan oleh orang-orang Madura pada waktu membuka hutan Tanah Terik, pasti bukan jenis buah ini. Sebab bernuk berasal dari Amerika Selatan, dan baru diintroduksi oleh bangsa Eropa ke Pulau Jawa paling cepat pada tahun 1600an. Sementara Raden Wijaya membabat Hutan Tanah Terik, pada tahun 1293. Memang masih ada buah maja lain, yang disebut maja baèl (Aegle marmelos), yang berasal dari India. Tahun 1293, maja baèl  dipastikan sudah banyak tumbuh di Tanah Terik.

    Tetapi buah maja baèl justru biasa dikonsumsi sebagai bahan minuman. Di India, maja baèl dibudidayakan, dan merupakan komoditas penting. Ukuran maja baèl hanya sebesar apel dan daging buahnya berwarna kuning mengarah ke jingga sebagai bahan sherbat. Buah maja baèl bisa dibuat minuman seperti halnya kawista. Kulit maja baèl, kawista, dan maja bernuk, sama-sama berupa tempurung yang sangat keras. Warna dan aroma daging buah maja baèl lebih menarik dibanding kawista. Warna kawista yang cokelat kehitaman, tak semenarik maja baèl yang kuning oranye. Aroma daging buah maja baèl juga lebih kuat dibanding aroma kawista.

    # # #

    Daging buah maja baèl dan kawista juga sama-sama berserat. Yang membedakan, dalam daging buah maja baèl terkandung resin (gum) yang kental dan lengket di antara biji, dengan aroma yang sangat tajam. Serat daging buah maja baèl inilah yang akan menimbulkan rasa pahit di lidah, ketika seseorang mengunyahnya. Ketika daging buah maja  baèl dijadikan minuman, serat daging buah ini tidak akan terkunyah, hingga rasa pahit tak terdeteksi. Terlebih lagi, minuman sherbat maja baèl pasti diberi pemanis. Aslinya, sherbat maja baèl berpemanis gula merah, meskipun belakangan banyak digunakan gula pasir.

    Maja-bernuk-1

    Dalam daging buah maja baèl, terkandung beberapa zat, antara lain: skimmianine, aegelin, lupeol, cineol, citral, citronellal, cuminaldehyde, eugenol, mermelosin, luvangetin, aurapten, psoralen, marmelide, fagarine, marmin and tannin. Zat tannin dalam serat daging buah itulah yang menimbulkan rasa pahit, saat serat daging buah dikunyah. Kadar pahit serat daging buah maja baèl, tentu tidak seperti pahitnya brotowali (Tinospora crispa), atau kulit pulai (Alstonia scholaris). Selain menimbulkan rasa pahit, serat daging buah maja baèl yang dikunyah, juga akan mendatangkan rasa hangat seperti mint, karena adanya kandungan citronellal dan eugenol.

    Bagian tanaman maja baèl yang bisa dikonsumsi, bukan hanya daging buah; melainkan juga pucuk daun dan bunga. Pucuk daun maja baèl malahan tak terasa pahit, seperti halnya serat daging buahnya. Namun rasa hangat mint saat mengunyah pucuk daun dan bunga maja baèl, tetap terasa, sama dengan ketika kita mengunyah serat daging buahnya. Di India, Nepal, Pakistan, Srilanka, dan Bangladesh daun dan bunga maja baèl, dijual di pasar; bersamaan dengan buahnya.  Di negeri ini, maja baèl dikeramatkan oleh Umat Hindu. Maja baèl dianggap sebagai titisan Hyang Syiwa, hingga wajib ditanam di halaman pura.

    Buah maja baèl juga merupakan persyaratan wajib para pengantin. Sebagai jelmaan Hyang Syiwa, pengantin perempuan dianggap bukan menikah dengan pengantin laki-laki, melainkan dengan Hyang Syiwa sendiri dalam wujud buah maja baèl. Dengan itu ia diharapkan akan selalu terlindungi oleh Hyang Syiwa. Perlindungan Hyang Syiwa bagi pengantin perempuan ini akan terus berlangsung, saat ia hamil, melahirkan; bahkan juga apabila sang suami meninggal, atau ia diceraikan. Sebab sebenarnya ia bukan menikah dengan seorang laki-laki, melainkan dengan Hyang Syiwa sendiri.

    # # #

    Tanaman maja baèl berupa perdu berketinggian antara 12 sampai dengan 15 meter, dengan posisi tajuk meninggi. Kayu maja baèl terkenal liat, tidak mudah patah. Pada ranting tanaman tumbuh duri yang kuat dan tajam. Duri maja baèl akan tetap ada meskipun ranting itu telah tumbuh menjadi dahan besar. Bahkan bekas-bekas duri itu masih bisa tampak pada bagian batang utama. Karenanya perdu maja baèl tidak mungkin dipanjat untuk memetik buahnya. Buah maja baèl biasanya dibiarkan tua dan jatuh dengan sendirinya. Buah, pucuk daun, dan bunga maja baèl biasanya dipetik dengan memanjatnya menggunakan tangga yang didirikan di luar tajuk tanaman.

    Selain ditunggu sampai masak, buah maja baèl juga dipetik mentah menggunakan galah. Maja bael mentah ini diiris melintang, kemudian dijemur sampai kering. Irisan buah maja kering ini juga banyak dipasarkan sebagai bahan minuman. Meminumnya dengan cara diseduh atau direbus sampai aroma dan warna oranye keluar, kemudian dicampur dengan gula merah. Daya adaptasi tanaman maja baèl sangat tinggi. Di India dan Pakistan, maja baèl tumbuh di kawasan tropis maupun sub tropis. Saat ini maja baèl sudah menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, maja baèl bisa tumbuh pada ketinggian 0 m. dpl. sampai dengan 1.500 m. dpl.

    Koleksi maja baèl di Indonesia antara lain terdapat di Taman Wisata Mekarsari, Cieleungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; serta di Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Yang dimakan oleh orang-orang Madura saat membuka lahan hutan di Tanah Terik, tidak mungkin maja bernuk yang berasal dari Amerika Latin, melainkan maja baèl, yang dikeramatkan oleh Umat Hindu kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit. Anehnya, flora identitas Kabupaten Mojokerto, lokasi kerajaan Majapahit bukan maja baèl, melainkan maja bernuk, yang baru masuk ke tanah Jawa karena dibawa Bangsa Belanda. # # #

    Artikel pernah dimuat di Majalah Flona

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *