HONJE WARAK
by indrihr • 23/03/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di Taman Nasional Halimun Salak (perbatasan Jawa Barat dengan Banten) saya melihat ada tumbuhan seperti honje, dengan bunga dan buah besar berwarna oranye menempel di tanah. Apakah ini juga jenis honje/kecombrang dan bisa dikomersialkan? (Andre, Jakarta).
Sdr. Andre, yang Anda lihat itu benar jenis honje/kecombrang. Namanya honje warak, honje laka, tepus, Etlingera solaris. Habitat aslinya kawasan pegunungan dengan elevasi antara 800 meter dpl, sampai dengan 1.650 meter dpl. Endemik Sumatera, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Honje warak sudah dideskripsi oleh Blume (1796 – 1862) dengan nama Eletaria solaris. Kemudian ganti-ganti nama, sampai akhirnya tahun 1986 Rosemary Margaret Smith (1933 – 2004) memberinya nama Etlingera solaris (Blume) R.M.Sm.
Nama itulah yang kemudian digunakan sampai sekarang, dan dicatat di International Plant Names Index (IPNI). Meskipun masih jenis honje, aroma honje warak tak setajam honje hutan, Etlingera hemisphaerica; yang terkenal untuk sambal matah dan bumbu arsik. Namun kulit buahnya mengandung banyak air, dengan rasa sedikit masam dan segar. Dengan karakter seperti ini, buah honje warak berpotensi untuk bahan minuman sehat. Untuk itu harus ada yang mengumpulkan, memroduksi, mengemas dan memasarkannya.
Agar bisa dipasarkan, produk minuman honje warak ini memerlukan persyaratan teknis dari Badan POM. Juga perlu diteliti, apakah warna oranye cerah dari buah honje warak ini akan tetap, atau pudar setelah diolah menjadi minuman. Karena habitatnya di dataran tinggi, ada keterbatasan untuk mengembangkan budidaya honje warak. Lain dengan honje hutan biasa, yang bisa tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi. Sampai sekarang, kecombrang/honje Etlingera hemisphaerica merupakan jenis yang paling banyak dibudidayakan untuk dikonsumsi.
Kecombrang/honje disukai sebagai bahan pangan (urap, trancam, karedok, pecel, atau sayuan lain; serta sambal (matah) dan bumbu (arsik); karena aromanya yang khas. Aroma khas dan kuat itu hanya ada pada kecombrang/honje Etlingera hemisphaerica. Kecombrang hias Etlingera elatior, kadang juga diambil kuncup bunganya untuk dicampurkan dengan kecombrang/honje Etlingera hemisphaerica. Aroma kecombrang hias tak sekuat kecombrang biasa. Tetapi kecombrang inilah yang sekarang paling banyak ditanam sebagai hiasan di seluruh dunia.
Kecombrang hias sebenarnya juga tumbuhan dataran tinggi. Habitat aslinya tersebar di seluruh wilayah Malesia Barat (Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan). Kecombrang hutan berhabitat asli dataran rendah, menengah sampai tinggi di Sumatera dan Jawa. Sebenarnya, honje warak tak hanya berpotensi dikembangkan sebagai bahan minuman, melainkan juga untuk tanaman hias. Kelemahan honje warak, bunga/buahnya menempel di tanah. Tidak seperti kecombrang hias dan honje hutan, yang tangkai bunganya panjang.
Kelebihan honje warak pada warna bunga dan buahnya yang oranye. Warna ini cukup mencolok di tengah kawasan hutan yang redup, dan didominasi oleh warna cokelat gelap serta hijau. Sama dengan kecombrang hias dan honje hutan, honje warak juga mudah dibudidayakan. Sampai dengan elevasi 700 – 800 meter dpl, honje warak masih bisa bertoleransi. Tetapi di bawah itu, pertumbuhannya akah terhambat. Ukuran tanaman dan bunga serta buahnya juga akan mengecil. Sama dengan kecombrang hias dan honje hutan, honje warak juga perlu naungan dan lapisan humus tebal sebagai tempat tumbuh.
Di seluruh dunia ada 100 spesies kecombrang/honje, yang dikelompokkan ke dalam genus Etlingera, suku jahe jahean, Zingiberaceae. Ke 100 spesies Etlingera itu hampir semua endemik Asia Tenggara. Hanya ada satu spesies dari Yunan, Tiongkok, dua spesies endemik India, satu spesies endemik Australia dan dua spesies endemik kepulauan Pasifik. Beberapa spesies sangat populer sebagai tanaman hias. Selain Etlingera elatior yang sudah mendunia, Etlingera venusta juga populer sebagai Mawar Malaysia (Malay Rose).
Sdr. Andre, belakangan ini kecombrang sebagai bahan pangan dan bumbu semakin populer. Termasuk jus buah kecombrang yang di Pangandaran, Jawa Barat sangat populer. Dulu di DKI Jakarta sulit sekali mendapatkan kuncup bunga kecombrang untuk disayur/bumbu/sambal. Sekarang di hampir semua pasar tradisional selalu ada lapak sayuran yang menjual kecombrang. Dulu hanya etnisitas Batak, Sunda, dan Bali yang mengenal kecombrang. Sekarang mulai banyak etnisitas lain yang menyenangi kecombrang. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
