• MENANAM JERUK NIPIS DARI BIJI

    by  • 31/08/2026 • Uncategory • 0 Comments

    Jeruk budidaya termasuk jeruk nipis umumnya menggunakan batang bawah Japansche Citroen (JC, Citrus limon), atau Rough Lemon (RL, Citrus × taitensis). Batang atasnya menggunakan entres atau mata tempel jeruk nipis, Citrus × aurantiifolia.

    Tempat sambungan itu biasanya rentan menjadi tempat masuknya jamur air (oomycetes) Phytophthora citrophthora dan kapang Lasiodiplodia theobromae yang menyebabkan penyakit blendok (kulit batang pecah dan mengeluarkan getah/resin) dan batang serta akar membusuk. Kadang batang atasnya mati tapi batang bawahnya tumbuh tunas baru yang akan berbuah sebagai jeruk JC atau RL. Gejala seperti ini bukan hanya terjadi pada jeruk nipis melainkan juga semua jenis jeruk budidaya termasuk jeruk besar, jeruk bali, pomelo, Citrus maxima. Tanaman jeruk yang terjangkit Phytophthora dan Lasiodiplodia kemungkinan besar akan mati.

    Bahkan sebenarnya hampir semua jenis tanaman buah dengan benih sambung dini (disambung pada saat biji baru saja tumbuh), rentan terhadap berbagai penyakit yang menyerang kulit batang. Benih durian yang disambung saat pongge mengeluarkan tunas juga akan rentan terserang penyakit “kanker batang” akibat Phytophthora palmivora. Para petani durian Thailand menanam batang bawah berupa biji langsung di lahan. Kadang mereka menanam tiga biji dengan jarak dua meter dengan format segitiga sama sisi. Setelah setinggi dua meter, tiga pucuk tanaman batang bawah ini disatukan dan disambung entres batang atas.

    Tujuan penyambungan dengan kaki ganda ini juga sama, yakni untuk menghindarkan masuknya penyakit Phytophthora di bekas sambungan. Andaikan salah satu kaki terserang penyakit, dua kaki lainnya masih bisa berperan sebagai batang bawah. Penggunaan kaki ganda selama ini hanya diterapkan pada budidaya durian. Tanaman keras lainnya masih menggunakan kaki tunggal sebagai batang bawah, termasuk jeruk nipis. Hingga menanam jeruk nipis dengan benih produk massal beresiko akan terserang penyakit blendok pada saat tanaman masih berumur setahun dua tahun hingga merugikan petani.

    Idealnya menanam jeruk apa pun menggunakan benih dari biji JC atau RL sebagai batang bawah. Biarkan semaian JC atau RL ini setinggi 1,5 meter baru dipindahkan ke lapangan. Setelah cukup kuat barulah disambung dengan entres (pucuk) jeruk nipis. Cara ini memang memerlukan waktu lebih panjang dibanding langsung membeli benih sambungan dan menanamnya di lapangan. Tetapi dampak jangka panjang cara ini lebih menguntungkan karena umur tanaman bisa lebih lama dibandingkan menggunakan benih sambungan produk massal yang beredar di pasaran.

    Biji dan Cangkok

    Benih jeruk nipis yang ditanam dari biji akan memerlukan waktu lebih lama untuk berbuah. Dari sejak biji sampai berbuah perlu waktu lima tahun. Sedangkan benih sambungan sudah mulai berbuah pada umur dua tahun. Kelemahan lain, benih jeruk nipis dari biji bisa menghasilkan buah dengan kualitas berbeda dengan induknya. Kemungkinan ukuran buah bisa lebih kecil, tingkat kemasaman lebih rendah, biji lebih banyak dll. Tetapi bisa juga kualitas buahnya sama dengan induknya (nucellar seedlings), meskipun ini sangat jarang. Selain itu biasanya tanaman jeruk nipis dari biji akan lebih banyak durinya.

    Biji yang akan disemai, diambil dari buah jeruk nipis yang sudah tua dan berukuran cukup besar. Cuci bersih biji-biji itu menggunakan kapur sirih, abu atau deterjan sampai bagian yang berlendir (licin) hilang. Keringkan dengan cara ditaruh di atas kertas atau tisu di tempat teduh. Setelah kering semai dalam pot menggunakan media kompos atau pupuk kandang, tanah dan pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Tempatkan pot di lokasi yang tidak tertimpa air hujan secara langsung tetapi masih mendapatkan sinar matahari. Apabila semaian sudah tumbuh lebih dari 20 cm, pindahkan ke dalam pot tunggal atau polybag menggunakan media sama.

    Sebelum benih jeruk diproduksi massal menggunakan teknik sambungan, para petani memperbanyak benih sendiri menggunakan teknik cangkokan. Benih cangkokan akan menghasilkan tanaman yang sama dengan induknya dan akan berbuah lebih cepat dibanding benih sambungan. Terlebih kalau cabang yang dicangkok sudah berukuran cukup besar. Ada anggapan bahwa benih cangkokan akan menghasilkan tanaman berakar serabut, bukan akar tunggang. Itu tidak benar sebab yang berakar serabut tumbuhan monokotil yang berakar tunggang dikotil. Benih cangkokan tetap akan berakar tunggang.

    Di pasaran beredar dua jenis jeruk nipis, yakni yang berbentuk bulat, berkulit hijau tua, bagian ujung tak ada tonjolan dan berbiji. Inilah jeruk nipis biasa yang berair banyak dan beraroma harum. Dalam Bahasa Inggris disebut key lime, nama botaninya Citrus × aurantiifolia. Jeruk nipis merupakan hibrida alam antara jeruk purut, kaffir lime, Citrus hystrix; dengan jeruk sukade, citron, Citrus medica. Persilangan alam dua spesies jeruk ini terjadi di lereng timur Himalaya tetapi tak diketahui kapan terjadinya. Sekitar tahun 2.000 SM, umat manusia sudah membudidayakan jeruk, termasuk jeruk nipis.

    Selain jeruk nipis biasa juga dikenal jeruk nipis tanpa biji yang berkulit kekuningan, bagian ujung meruncing, kurang harum dan barair sedikit. Dalam Bahasa Inggris jeruk nipis ini disebut Persian lime atau Tahiti lime, nama botaninya Citrus × latifolia. Jeruk nipis tanpa biji yang mulai dikenal di Indonesia pada dekade 1980an merupakan hibrida antara jeruk purut, Citrus hystrix dengan jeruk besar Citrus maxima; jeruk sukade, Citrus medica dan jeruk keprok, Citrus reticulata. Persilangan jeruk nipis tanpa biji ini terjadi baru beberapa abad yang lalu di Asia Tenggara dan menyebar ke Kalifornia pada tahun 1895. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *