• PELUANG EKSPOR JAGUNG

    by  • 20/05/2013 • PERTANIAN • 0 Comments

    Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Gorontalo, adalah dua provinsi yang selama Januari, dan Februari ini mengekspor jagung ke Filipina. Volume ekspor jagung Gorontalo 3.600 ton, dengan nilai 657 ribu dolar AS, sementara Sulsel sebanyak 6.300 ton, dengan nilai 1,15 juta dollar AS.

    Berita tentang ekspor jagung ini, di satu pihak canadian pharmacy sangat menggembirakan. Sebab di tengah resesi ekonomi dunia, sektor pertanian kita masih bisa melakukan ekspor. Terlebih lagi, pada awal tahun 2000an, kita masih harus impor jagung. Yang perlu kita cermati adalah, pelaku ekspor jagung dari dua provinsi ini adalah PT Agrico Internasional, dan PT Charoen Pokphand Indonesia. Charoen adalah raksasa agroindustri peternakan dari Thailand, yang kawasan usahanya tersebar mulai dari RRC, dan seluruh Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Indonesia.

    Jagung cialis 10mg adalah komponen utama bahan pakan dalam agroindustri peternakan, terutama peternakan unggas, lebih spesifik lagi peternakan ayam pedaging, dan ayam petelur. Selain jagung, komponen utama pakan ternak adalah bungkil, dan tepung ikan. Urutan komposisi pakan unggas, adalah jagung paling besar, bungkil nomor dua, tepung ikan di urutan ketiga, dan komponen lain seperti tepung tulang, tepung darah dan lain-lain. Meskipun volume jagung paling besar sebagai komponen pakan, namun nilainya paling murah, dibanding dengan bungkil dan tepung ikan.

    # # #

    Masuknya Charoen ke agribisnis jagung, di satu pihak berdampak positif ke petani, sebab ada jaminan pasar dalam volume cukup besar. Di lain pihak, petani Gorontalo dan Sulsel, sebenarnya hanya menjadi alat produksi dari Charoen. Mengapa Charoen memilih Sulsel dan Gorontalo, sebagai lahan ujicoba budi daya jagung? Sebab jarak Sulawesi ke Filipina relatif dekat. Harga jagung pipilan di Filipina, sedikit lebih tinggi dari harga di Indonesia. Sebab biaya tenaga kerja di sana lebih mahal, dan air irigasi juga perlu dibeli. Di Indonesia, air irigasi gratis, sebab biaya pengairan sudah termasuk dalam Pajak Bumi.

    Jadi, ekspor jagung pada awal tahun 2009 ini, sebenarnya merupakan realisasi dari salah satu proyek Charoen, yakni memenuhi kebutuhan jagung di Filipina. Pola agribisnis demikian, sebenarnya akan semakin membuat ketergantungan petani ke perusahaan besar semakin tinggi. Petani tidak punya alternatif lain, hingga posisi tawar mereka juga sangat rendah. Dalam keadaan tertentu, misalnya ketika harga jatuh, nasib petani akan semakin jelek. Sementara ketika harga jagung sedang tinggi, keuntungan yang diraih petani juga tidak akan terlalu tinggi. Sebab semua sudah diset dalam sebuah “master plan” Charoen.

    Di Thailand sendiri, Charoen tidak bisa mendikte petani. Sebab di sana pemerintah melalui Department of Agriculture, Department of Agriculture Extention, dan Department of Cooperative, buy cialis mampu memperkokoh kelembagaan petani. Baik berupa kelompok tani, koperasi, maupun asosiasi. Di Thailand Charoen juga sangat dominan dalam mengembangkan agribisnis jagung. Perusahaan ini bahkan sampai mendanai sebuah lembaga penelitian khusus jagung. Meskipun Charoen tetap dominan, agribisnis jagung di Thailand tetap sangat sehat. Sebab petaninya independen, pemerintah juga adil. Pengusaha tetap diberi peluang untuk mengembangkan agribisnis jagung, tetapi petaninya juga diproteksi, dengan cara memperkokoh aspek kelembagaan dan modal.

    Agribisnis jagung, relatif menguntungkan, karena jangka waktunya pendek, yakni tiga sampai dengan tiga setengah bulan, tergantung lokasi budi daya. Artinya, verietas jagung yang sama, akan berumur hanya tiga bulan, bahkan kurang, apabila dibudidayakan di dataran rendah. Sementara di dataran tinggi, umurnya akan mencapai 3,5 bulan bahkan lebih. Agribisnis jagung juga berpeluang menghasilkan limbah daun dan tebon, untuk mengembangkan peternakan sapi potong. Sementara janggel jagung (tongkol kosong), berprospek sebagai komoditas ekspor, terutama ke Jepang dan Korea. Di sana, janggel jagung itu diolah menjadi bermacam komoditas.

    # # #

    Di Indonesia, pola agribisnis Jagung telah menempatkan petani dalam posisi hanya sebagai buruh. Perusahaan besar, akan menyediakan benih, pupuk dan pestisida. Biaya yang sudah mereka keluarkan ini, akan dipotong ketika petani panen, dan menyetorkan hasilnya ke pengusaha. Petani sama sekali tidak punya alternatif lain. Di Thailand, negerinya Charoen, petani tidak menerima benih, pupuk, dan pestisida dari pengusaha. Sebab di sana, petani bisa dengan mudah memperoleh kredit dari Bank Agro. Hingga petani bebas menanam varietas jagung yang mereka anggap paling menguntungkan.

    Kalau ternyata yang paling menguntungkan adalah menjual hasilnya ke Charoen, petani akan melakukannya. Sebaliknya, kalau harga yang ditawarkan Charoen terlalu rendah, maka petani akan mencari alternatif pembeli, termasuk mengekspornya. Di sana, yang akan melakukan ekspor petani sendiri, melalui Koperasi dan Asosiasi. Karenanya, Charoen tidak mau membudidayakan jagung di Thailand, kemudian diekspor ke Filipina. Padahal jarak dari Bangkok dan Makasar ke Manila, relatif sama. Selain karena petani Thailand sudah independen, upah tenaga kerja di sana juga sudah sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari upah tenaga kerja di Filipina.

    Maka, Sulawesi menjadi alternatif terbaik bagi Charoen, untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Agribisnis jagung pun

    tumbuh dengan sangat subur. Katika kita tidak membandingkannya dengan Thailand, para petani di Gorontalo dan Makasar, sebenarnya sangat beruntung. Mereka punya pilihan komoditas, yang pasarnya sudah sangat pasti, sementara benih, pupuk, dan teknik budidayanya, juga sudah tersedia. Andaikan pemerintah berpihak ke petani, maka pengembangan agroindustri sapi potong harus diserahkan ke mereka. Sebab alangkah rakusnya pengusaha, apabila binis sapi potong juga mereka tangani sendiri. (R) # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *