LOKASI BUDI DAYA KENTANG
by indrihr • 13/07/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya diminta seorang teman ikut membudidayakan kentang untuk frenchfries. Bagaimanakah persyaratan lahan bagi komoditas kentang, dan berapakah modal yang diperlukan untuk tiap hektarnya? (Susanto, Jakarta).
Sdr. Susanto, kentang untuk digoreng menjadi frenchfries di restoran cepat saji, disuplai oleh PT. Indofood Fritolay Makmur. Semua restoran cepat saji franchfries internasional, pasti akan mengambil kentang, juga daging ayam, tepung, dan minyak goreng dari Indofood. Teman yang meminta Anda membudidayakan kentang untuk frenchfries tersebut, kemungkinan orang Indofood, atau berrelasi dengan perusahaan ini. Yang biasa dibudidayakan sebagai bahan frenchfries, biasanya kentang varietas Atlantik, sementara kentang sayur biasanya varietas Granolla.

Kentang berasal dari Pegunungan Andes, Amerika Selatan, dibawa ke Indonesia oleh Bangsa Belanda. Sesuai dengan habitat aslinya, kentang hanya bisa dibudidayakan di lahan dengan elevasi paling sedikit 1000 m. dpl. Semakin tinggi lokasi budi daya, semakin baik. Kentang tak suka kelembapan udara tinggi. Semakin kering udara semakin baik. Itulah sebabnya kentang tidak mungkin dibudidayakan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, karena curah hujan yang sangat tinggi. Meskipun kawasan itu berelevasi di atas 1000 m. dpl.
Pangalengan di Kabupaten Bandung, lebih cocok untuk budi daya kentang, karena sudah semakin menjauh dari garis katulistiwa, hingga kelembapan udaranya tak setinggi Puncak. Semakin ke timur, agroklimat lahan semakin cocok untuk budi daya kentang. Dieng dan Tengger, sangat terkenal sebagai penghasil kentang, karena elevasi lahan antara 1000 – 2300 m. dpl, dengan kelembapan udara relatif rendah. Sampai sekarang, Dieng merupakan penghasil kentang kualitas terbaik di Indonesia.
Selain tiga tempat tadi, sentra kentang di Indonesia juga terdapat di Berastagi dan Sidikalang, Sumatera Utara; Bukittinggi, Sumatera Barat; Jangkat, Jambi; Pagaralam, Sumatera Selatan; Curub, Bengkulu; dan belakangan ini juga di Malinau, Sulawesi Selatan. Sebenarnya masih cukup banyak dataran tinggi dengan elevasi di atas 1000 m. dpl, yang berpotensi untuk budi daya kentang. Misalnya di Sulawesi Utara, NTB (terutama di Lombok), NTT dan Papua. Akan tetapi, tetap perlu diperhitungkan jarak lokasi budi daya dengan lokasi pasar.
Budi daya kentang merupakan bisnis padat modal. Di Pangalengan dan Dieng, sewa lahan untuk budi daya kentang sudah mencapai Rp 10 – Rp 15 juta per hektare per musim tanam (bukan per tahun). Namun biaya terbesar dalam budi daya kentang, akan diserap untuk membeli benih. Kebutuhan benih per hektar antara satu ton, dengan kisaran harga antara Rp 10.000 sampai dengan Rp 20.000 per kg. Hingga modal untuk benih berkisar antara Rp 10 juta sampai dengan Rp 20 juta per hektar per musim tanam.
Produktivitas kentang Atlantik, hanya sekitar 20 ton per hektar per musim tanam, sementara kentang Granola mencapai 25 ton per hektar per musim tanam. Selisih harga Atlantik dengan Granola hanya sekitar Rp 1.000 sampai dengan Rp 2.000 per kg. Padahal harga benih Atlantik lebih tingga sekitar Rp 2.000 sampai dengan Rp 3.000 per kilogram. Inilah yang menyebabkan para petani di sentra kentang kita tidak terlalu tertarik untuk membudidayakan kentang untuk frenchfries. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : HR. Indriati
