AGROINDUSTRI BUNGA KRISAN
by indrihr • 25/07/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Bunga krisan (seruni, Chrysanthemum), merupakan lambang kekaisaran Jepang. Tetapi negeri ini hanya berada pada urutan ke 17 sebagai penghasil bunga krisan dunia, dengan produksi hanya 2,1 juta tangkai per tahun.
Produktivitas Jepang itu relatif kecil dibanding Negeri Belanda, dengan produksi krisan 1,5 milliar tangkai per tahun. Urutan kedua Kolumbia dengan produksi 900 juta tangkai, dan ketiga Italia serta Meksiko, masing-masing dengan 300 juta tangkai. Tingginya tingkat produktivitas krisan Negeri Belanda, bisa dimaklumi, sebab negeri ini merupakan “ibukota florikultura” dunia. Data produksi krisan dunia ini diambil dari situs http://blog.maripositas.org/, yang hanya mencatat produksi krisan dari negara-negara anggota UPOV (Union internationale pour la protection des obtentions végétales, Uni Internasional untuk Proteksi Varietas Tanaman Baru). Indonesia belum menjadi anggota UPOV.

Andaikan sudah menjadi Anggora UPOV, Indonesia akan menduduki peringkat tiga sebagai penghasil krisan dunia, dengan produksi 427,2 juta tangkai. Di Indonesia krisan memang menjadi bunga yang paling banyak dibudidayakan petani, mengalahkan mawar 173 juta tangkai, dan sedap malam 104,6 juta tangkai. Bisa jadi, angka produktivitas krisan dunia yang dilansir situs tersebut bukan angka yang sebenarnya, melainkan angka yang dilaporkan ke UPOV. Krisan-krisan komersial varietas baru, diciptakan oleh para pemulia bunga krisan di Aalsmeer, Negeri Belanda. Varietas baru ini dilindungi oleh UPOV, dan negara mana pun yang akan menggandakan benih ini, wajib membayar royalti ke pemilik varietas.
Para pengusaha bunga di beberapa negara membandel dengan tak melaporkan angka sebenarnya, agar terbebas membayar royalti ke pemilik varietas. Apabila ada pemeriksaan, mereka berdalih bahwa bunga yang mereka budidayakan itu merupakan varietas ciptaan mereka sendiri yang belum mereka laporkan ke UPOV. Meskipun Indonesia belum menjadi anggota UPOV, bukan berarti bisa dengan mudah menggandakan benih milik pemulia benih utama di Aalsmeer. Akhir dekade tahun 1980an, benih krisan Indonesia diproduksi oleh Saung Mirwan di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Belakangan Condido Agro di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, juga memroduksi benih krisan.
# # #
Dua perusahaan itu tetap melaporkan hasil produksi mereka, ke pemilik varietas krisan di Aalsmeer dan membayar royalti. Beberapa penangkar benih krisan memang memroduksi varietas Aalsmeer ini tanpa izin, dengan resiko kualitas bunga pada generasi berikutnya akan menurun. Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung, Cipanas, Cianjur, juga menghasilkan varietas krisan unggulan. Di antaranya Awanis Agrihorti, Dahayu Agrihorti, Dwimahyani, Erika Agrihorti, Hartuti, Jayani, Avanthe Agrihorti, Aiko Agrihorti, Anindita, dan Candrasmurti. Varietas-varietas tersebut, belum bisa dipasarkan secara massal, karena para penangkar benih seperti Saung Mirwan dan Condido Agro lebih memilih varietas dari Aalsmeer.
Sebenarnya, krisan telah dibudidayakan secara tradisional di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sejak zaman Belanda. Krisan Bandungan telah beradaptasi dengan iklim kawasan tropis. Para petani Bandungan, membudidayakan bunga ini dalam guludan selebar 1,5 m. memanjang dari utara ke selatan. Guludan itu berupa tanah vulkanis dicampur pupuk kandang, terutama pupuk sapi dalam dosis tinggi. Di atas guludan itu para petani membuat naungan setinggi 1,5 m. beratapkan jerami. Naungan itu dibuat tinggi di sisi timur dan lebih rendah bagian baratnya. Biasanya satu petani hanya membuat satu sampai dua guludan krisan, karena pasarnya yang masih sangat terbatas.
Krisan tradisional yang dibudidayakan di Bandungan sampai dengan tahun 1980an, hanyalah jenis standar (tunggal) berwarna putih dan kuning, dengan bentuk bunga dekoratif. Benih yang mereka gunakan merupakan hasil perbanyakan vegetatif para petani sendiri. Benih itu diambil dari tunas anakan yang kemudian mereka besarkan di bedeng persemaian. Setelah benih cukup kuat, baru mereka pindahkan ke lahan penanaman. Selanjutnya, para petani secara manual akan membuang tunas-tunas krisan itu, hingga satu batang tanaman hanya akan menghasilkan satu bunga yang cukup besar. Tahun 1950 dan 1960an, krisan merupakan bunga yang sama mahalnya dengan lily putih.
Produksi krisan modern yang dimulai pada akhir 1980an, mutlak harus menggunakan benih dari penangkar profesional. Sarana budi daya bukan berupa guludan yang diberi naungan sederhana, melainkan rumah plastik berkerangka kayu atau bambu, dengan atap dan dinding plastik UV. Rumah plastik itu juga perlu diberi lampu TL dan bolam biasa, untuk memperpanjang penyinaran setelah matahari terbenam, atau saat mendung. Tambahan sinar lampu ini bukan untuk merangsang pembungaan, melainkan justru untuk menahan agar tanaman tak terlalu cepat berbunga. Tanpa diberi lampu, krisan akan tumbuh meninggi, mengejar sinar matahari, tetapi dengan batang yang lemah (lentur).
# # #
Dengan diberi lampu, batang krisan akan tumbuh pendek, tetapi kekar. Ketika batang krisan sudah cukup panjang, pemberian sinar tambahan dihentikan, agar krisan berbunga secara serentak. Meskipun krisan tunggal masih dibudidayakan, tetapi umumnya yang diproduksi saat ini lebih banyak krisan spray, dalam satu tanaman tumbuh banyak kuntum bunga berukuran kecil. Kalau krisan Bandungan dipasarkan sebagai bunga potong, krisan modern lebih banyak dijual berikut tanaman dalam polybag, atau pot plastik. Krisan potong masih tetap diproduksi, tetapi tidak sebanyak krisan sebagai potplant. Dengan produksi massal seperti ini, krisan yang awalnya merupakan bunga kelas atas, sekarang menjadi bunga murah-meriah.
Krisan (Chrysanthemum), merupakan salah satu genera (genus) dalam suku kenikir-kenikiran (Asteraceae). Genus ini terdiri dari 42 spesies, yang kesemuanya berasal dari Asia. Habitat asli krisan tersebar mulai dari Eropa Timur Laut sampai ke Asia Timur. Spesies terbanyak terdapat di daratan China. Krisan yang dibudidayakan saat ini, semua merupakan hibrida dari 42 spesies tersebut, dengan ukuran, bentuk, serta warna bunga yang sangat beragam. Karena berasal dari kawasan beriklim empat musim, krisan harus dibudidayakan di kawasan pegunungan, berketinggian di atas 800 meter dpl. Di kawasan dengan kelembapan udara rendah, krisan akan bisa tumbuh lebih baik.
Itulah sebabnya, belakangan sentra budi daya krisan bergeser dari Jawa Barat yang lembap dan basah, ke Jawa Timur yang relatif berudara lebih kering. Posisi Jawa Timur memang agak ke sebelah selatan menjauhi katulistiwa, hingga relatif lebih kering, dengan kelembapan udara lebih rendah dibanding Jawa Barat. Secara teknologi, budi daya krisan sudah final. Varietas-varietas baru tetap diciptakan, tetapi itu semua tak akan mengubah teknik budi daya. Jalur pemasaran justru menjadi kunci sukses agroindustri krisan. Siapa pun bisa membudidayakan komoditas ini, asalkan pasar sudah ada. Merebut pasar inilah yang justru menjadi titik lemah para petani kita. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi
