• POTENSI BISNIS “CARICA DIENG”

    by  • 22/08/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Pepaya gunung (mountain papaya, Vasconcellea pubescens) selama ini lebih dikenal dengan sebutan “Carica Dieng”. Padahal pepaya gunung ini bukan masuk genus Carica, seperti halnya pepaya biasa (Carica papaya) melainkan genus Vasconcellea.

    Disebut pepaya gunung, karena tanaman ini memang hanya bisa tumbuh baik dan produktif pada elevasi sekitar 2000 m. dpl. Pepaya gunung bisa dijumpai tumbuh di Di Kaldera Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah; serta di Bedugul, Kabupaten Tabanan, dan Kintamani, Kabupaten Bangli; Provinsi Bali. Di Dieng, pepaya gunung tumbuh pada elevasi antara 1700 – 2200 m. dpl. Di bawah 1700 m. dpl, pepaya gunung sudah tak bisa tumbuh. Sebenarnya, pada elevasi di atas 2200 m. dpl, pepaya gunung masih bisa tumbuh dan akan makin produktif.

    pepaya-gunung-edit-1
    Tetapi, pada ketinggian di atas 2200 m. dpl, di Kaldera Dieng sudah tak ada pemukiman dan lahan budi daya. Di Bali, pepaya gunung yang disebut gedang memedi, bisa tumbuh pada elevasi di bawah 1700 m. dpl. Kemungkinan karena pada elevasi yang sama, suhu udara rata-rata di Bali lebih dingin dibanding di Pulau Jawa. Selain itu kelembapan udara rata-rata di Bali juga lebih rendah dibanding di Pulau Jawa. Di habitat aslinya di Pegunungan Andes antara Kolombia sampai Chili, pepaya gunung tumbuh pada lahan berketinggian antara 1.500 – 3.000 m. dpl. Tapi di Florida dan Hawaii, pepaya gunung bisa hidup di dekat pantai.

    Dua negara bagian AS ini memang sudah berada di perbatasan antara tropis dan sub tropis. Florida berada sedikit di utara Garis Balik Utara (23°27′ LU); Hawaii sedikit di sebelah selatannya. Pepaya gunung didatangkan ke Jawa dan Bali, oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal dekade 1930an. Di Bali, pepaya gunung tak berkembang sebaik di Dieng. Beda dengan pepaya biasa yang lazim dikonsumsi segar, pepaya gunung biasa diawetkan dalam sirup, dan dikemas. Meski sudah diintroduksi pada dekade tahun 1930an, industri pengolahan dan pengalengan pepaya gunung baru dimulai pada dekade 1970an.

    # # #

    Waktu itu di Kaldera Dieng berdiri PT Dieng Jaya yang membudidayakan jamur kancing (mashroom, Agaricus bisporus), dan mengolah pepaya gunung. Tahun 1980 merupakan masa kejayaan PT Dieng Jaya, yang menyerap sampai 3.500  tenaga kerja. Dieng Jaya merupakan anak perusahaan PT Mantrust, yang didirikan oleh Tegoeh Soetantio (Tan Kiong Liep), dan berkaitan dengan bisnis Keluarga Cendana. Awal dekade 1990an, masa kejayaan Dieng Jaya berlalu. Pelan-pelan pamor perusahaan mulai redup. Pasca reformasi, Dieng Jaya benar-benar hilang. Resminya, seluruh aktivitas perusahaan dihentikan pada tahun 2003.

    Hilangnya agroindustri Dieng Jaya, justru membawa berkah. Para karyawan Dieng Jaya, tahu bagaimana mengolah dan mengemas pepaya gunung. Konsumen yang pernah merasakan keharuman dan kesegaran pepaya gunung, merasa kehilangan dengan tutupnya Dieng Jaya. Pelan-pelan agroindustri pepaya gunung berskala rumah tangga bangkit. Meski sebenarnya bernama pepaya gunung, tetapi sejak awal masyarakat mengenal buah ini sebagai “carica dieng”. Maka nama inilah yang sampai sekarang terus digunakan oleh para perajin pepaya gunung tersebut.

    Meski disebut pepaya, sebenarnya sosok tanaman pepaya gunung berbeda dengan pepaya biasa. Batang pepaya gunung lebih berkayu, dengan daun lebih kecil dan tak menjari. Bentuk buah kecil-kecil, menempel cukup padat pada batang. Pada ketinggian 2000 m. dpl, pepaya gunung mudah sekali tumbuh, dan pada umur satu tahun sudah mulai berbuah. Lain dengan pohon pepaya biasa yang akan mati setelah satu dua kali berbuah, pepaya gunung bisa berumur sampai puluhan tahun. Batang tanaman pepaya gunung yang telah berbuah, tak akan mampu tumbuh dan berbuah lagi, maka para petani akan memotong batang tanaman tersebut.

    Tunas yang tumbuh itu, akan kembali berbuah seperti tanaman baru. Demikian seterusnya hingga tanaman pepaya gunung bercabang-cabang serta rimbun, beda dengan pepaya biasa. Buah pepaya gunung yang berukuran kecil itu sebenarnya terasa hambar (tawar) dan tidak manis. Daging buahnya juga akan tetap keras dan liat (alot). Lain dengan pepaya biasa, yang ketika masih mentah pun, apabila direbus (disayur), akan menjadi sangat lunak. Kelebihan buah pepaya gunung, aromanya sangat harum dengan tekstur daging buah yang akan tetap keras meskipun telah masak.

    # # #

    Buah pepaya gunung yang telah dipetik, akan dikupas secara manual, dicuci, dibelah, dipisahkan dari biji, kemudian dipotong-potong. Biji pepaya gunung yang dipisahkan dari daging buah, tidak dibuang melainkan diberi air diremas-remas, lalu diperas. Air perasan ini direbus dengan gula pasir, kemudian disaring hingga menjadi sirup. Tangkai dan kulit biji pepaya gunung beraroma lebih harum dibanding daging buahnya, hingga dipakai sebagai bahan sirup. Daging buah yang telah dipotong-potong kembali dicuci, kemudian dicampur dengan sirup dan dikemas, melalui proses pasteurisasi.

    Tahun 2016 ini, ada sekitar 20 perajin pepaya gunung yang terkonsentrasi di Desa Patak Banteng. Meskipun banyak penggemarnya, pemasaran produk pepaya gunung masih sangat terbatas. Ini mirip dengan buah simalakama. Pasar utama produk seperti ini pasti kota-kota besar, terutama Jakarta. Untuk bisa dipasarkan di Jakarta, diperlukan volume tertentu agar biaya transportasi bisa rasional dengan harga produk. Karena volume produk olahan pepaya gunung masih sangat terbatas, pasar Jakarta masih belum bisa ditembus. Ini merupakan peluang pengembangan pepaya gunung di Sumatera Utara/Barat, Jatim, Bali, dan Papua.

    Sebagai tempat tujuan wisata, Kaldera Dieng sebenarnya benar-benar lengkap. Pertama wisata alam, karena Dieng merupakan sebuah kaldera purba, dengan banyak gunung, kawah, dan danau. Dieng juga merupakan obyek  wisata budaya berupa candi-candi Hindu, dengan tradisi uniknya berupa anak berambut gembel yang harus diruwat (diinisiasi). Dieng juga dikenal sebagai penghasil kentang dengan kualitas terbaik di Indonesia. Selain pepaya gunung, kentang, dan cabai gendol (gendot, habanero, Capsicum sinense) dari Amerika Selatan, Dieng juga punya kacang babi (kacang dieng, Vicia faba) yang berasal dari Timur Tengah.

    Dan puncaknya, Dieng juga punya produk aphrodisiac yang sangat khas bernama purwoceng (Pimpinella pruatjan). Dengan berbagai kelebihan tersebut, sebenarnya Dieng bisa menjadi andalan pariwisata Jawa Tengah. Tetapi dalam hal pariwisata, Jateng memang kalah segala-galanya dari DIY. Maka provinsi yang punya Candi Prambanan, Borobudur, dan Dieng ini; harus menerima nasib dari kemurahan hati para penyelenggara pariwisata DIY. Mungkin, kalau Bandara Purbalingga sudah selesai dibangun, lalu jalur rel Purwokerto – Wonosobo dipulihkan, Dieng akan menjadi lebih ramai. Pepaya gunung pasti akan lebih laris. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

    Foto : HR. Indriati

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *