• BATIK DAN PEWARNA KAIN ALAMI

    by  • 13/12/2016 • Kerajinan, UMKM • 0 Comments

    Pada pemerintahan Presiden Joko Widodo sekarang ini, batik menjadi pakaian resmi nasional. Sama halnya dengan baju Melayu Malaysia, dan baju Barong Filipina; batik merupakan pakaian khas Indonesia yang diakui dunia.     

    Pengakuan dunia internasional terhadap batik, terwadahi dengan penetapan batik Indonesia oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 2 Oktober 2009.  Pemerintah RI melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 33 tahun 2009 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 17 November 2009, menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan batik Indonesia oleh UNESCO ini, telah mengakhiri kontroversi klaim Malaysia atas batik Indonesia, yang menjadi isu bilateral pada tahun 2009 tersebut.

    pewarna-alami-soga-a
    Sebelum tahun 2009, batik memang sudah secara informal menjadi pakaian nasional, tetapi masih sebatas dikenakan pada acara-acara informal, misalnya saat menghadiri acara pernikahan. Dalam acara-acara resmi kenegaraan, presiden, para menteri, anggota DPR dan DPD, serta para pejabat tinggi negara selalu mengenakan jas dan dasi, yang sebenarnya merupakan pakaian resmi Eropa. Indonesia pernah “dipermalukan” oleh Nelson Mandela (1918 – 2013), yang ke mana-mana mengenakan dan memperkenalkan “batik Indonesia”. Termasuk saat Presiden Afrika Selatan ini berkunjung ke Indonesia tahun 1997. Saat itu Mandela mengenakan batik, sementara Presiden Soeharto justru memakai jas dan dasi.

    # # #

    Yang disebut batik, sebenarnya bukan sekadar motif kain, dengan proses pembuatan melalui pencetakan (batik printing), melainkan proses pewarnaan kain dari serat alam menggunakan malam batik. Setelah malam batik menutup motif pada kain, kain tersebut dicelup ke dalam cairan zat warna. Pada batik tradisional, hanya dikenal dua zat warna, yakni warna biru nila (tarum) dan warna cokelat soga. Kombinasi dua warna ini akan menghasilkan warna hitam. Hingga dalam motif batik tradisional, hanya dikenal warna putih kain, warna biru nila, warna cokelat soga dan warna hitam yang merupakan gabungan antara biru nila dengan cokelat soga. Warna-warna kuning dan merah jarang sekali digunakan dalam batik tradisional.

    Warna biru indigo pada batik tradisional berasal dari daun tumbuhan tarum daun (nila, tom, true indigo, Indigofera tincitoria). Warna biru tarum daun sudah digunakan sejak zaman prasejarah di India dan Asia Tenggara. Kerajaan Tarumanegara (dari kata tarum) di Jawa barat, pernah menjadi eksportis indigo tarum daun utama dunia. Lahan pertanian tarum itu berada di sepanjang sungai Citarum, yang juga berasal dari kosakata tarum. Di China, Jepang, dan Amerika Utara, digunakan tarum bunga (Indigofera suffruticosa), sementara di Afrika Tropis digunakan tarum akar (African Indigo, Indigofera arrecta). Di Afrika Utara, Eropa Selatan, dan Timur Tengah, warna biru indigo juga sudah digunakan sejak zaman prasejarah, dan diambil dari akar tumbuhan woad (glastum, Isatis tinctoria).

    Selain warna biru indigo, batik tradisional juga menggunakan warna cokelat soga. Warna ini berasal dari kulit kayu soga, soga jambal, kaju jhuwek, hau kolo, laru, lalu loëh, léwĕttĕr, copperpod, golden flamboyant, yellow flamboyant, yellow flame tree, yellow poinciana (Peltophorum pterocarpum). Warna cokelat soga juga dihasilkan dari kulit kayu tingi, tangar, tengal, tengah, palun, parun, bido-bido, spurred mangrove, Indian mangrove, Indiese wortelboom (Ceriops tagal). Kulit buah jalawe juga menghasilkan warna cokelat muda. Jalawe juga disebut  jaha lawe, jaha; joho, jeuheu, jolawe, jelawai, joho keling, joho kebo, joho sapi, uji, mentalun, kayu garam, genggaram, simar, kulihap, ulu belu, gamprit, mojo sukun, tie-tie malong, kunfit, niesmeran, bahera, beleric, bastard myrobalan, (Terminalia bellirica).

    Warna merah bisa diambil dari kayu secang, seupeuĕng, sepang, sopang, sapang, cacang  sĕpang, soga jawa, kajo sècang, cang, supa, supang, sèpè, sèpèl, hapé, hong, sèfèn, sawala, singiang, sinyianga, hinianga, sunyiha, roro, sema, naga, pasa, dolo, sappanwood, suou (Caesalpinia sappan). Selain kayu secang, warna merah juga bisa berasal dari akar mengkudu, keumeudee, pace, kemudu, kudu, cangkudu, kodhuk, tibah, noni, great morinda, Indian mulberry, beach mulberry, cheese fruit (Morinda citrifolia). Kulit delima, pomegranate (Punica granatum), terutama delima hitam, juga akan menghasilkan warna merah pada kain batik. Sebenarnya kunyit dengan kapur juga bisa menghasilkan warna merah, tetapi pada saat pelarutan, warna merah kunyit akan pudar.

    # # #

    Bahan pewarna alami untuk kain sebenarnya sangat banyak. Pada kain tenun tradisional, misalnya tenun NTT, bahan pewarna alami ini bisa sangat bervariasi. Dalam tenun tradisional, yang dicelup benang yang akan ditenun. Setelah selesai penenunan, kain tidak akan direbus lagi seperti pada kain batik, hingga pewarna apa pun akan tetap awet dan tidak luntur. Anehnya, tenun-tenun tradisional NTT kebanyakan berwarna gelap. Padahal banyak bahan pewarna alami yang berwarna cerah, misalnya merah kayu secang dan akar mengkudu. Warna kuning bisa dihasilkan dari kunyit (tumeric, Curcuma longa) tanpa dicampur kapur, dan temu giring (Curcuma heyneana). Daun dan bunga putri malu (Mimosa pudica), juga akan menghasilkan warna kuning kehijauan pada kain batik.

    Ada beberapa kendala yang menyebabkan industri kerajinan batik tulis dengan pewarna alami tersendat perkembangannya. Pertama, pasar batik tulis terlebih yang menggunakan pewarna alami, sangat terbatas. Tetapi, konsumen batik tulis berpewarna alami ini berdaya beli tinggi. Hingga secara nominal, omset bisnis batik tulis bisa lebih tinggi dari batik printing. Kendala kedua, pasokan bahan pewarna alami tidak sekontinu bahan pewarna sintetis. Kalaupun pasokan ini kontinu, hasil bahan pewarna alami tidak stabil seperti halnya pewarna sintetis. Belakangan, ekstrak Indigofera memang sudah diproduksi massal dan dipasarkan, antara lain melalui situs Alibaba.com. dengan harga 80 – 200 dollar AS per gram, dengan pesanan minimum lima gram. Dengan kurs Rp 13.000 per 1 dollar AS, harga satu gram ekstrak Indigofera berkisar antara Rp 1 juta sampai Rp 1,6 juta per gram.

    Tanaman tarum paling mudah dan cepat dibudidayakan, karena merupakan terna berkayu setinggi sampai 1,5 meter. Indigofera tinctoria liar banyak dijumpai tumbuh di pantai. Indigofera merupakan tumbuhan bandel yang tahan kekeringan dan bisa hidup di lahan-lahan marjinal. Perbanyakannya dengan biji yang berada dalam polong. Biji Indigofera menyebar ketika polong itu pecah, atau termakan oleh burung pemakan biji-bijian dan tak tercerna dalam organ pencernaan burung tersebut. Belakangan Indigofera juga dibudidayakan sebagai hijauan pakan ternak, terutama kambing Peranakan Ettawa. Lain dengan tarum yang sudah dipasarkan hasil ekstraksinya, kulit batang soga biasa maupun soga tingi, masih sulit untuk diperoleh. Soga biasa maupun soga tingi berupa pohon yang bisa mencapai ketinggian sampai belasan meter. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *