• ACKEE DAN REGGAE

    by  • 18/07/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Bob Marley penyanyi legendaris Jamaika yang identik dengan Reggae, pernah menyanyikan lagu Jamaica Farewell. Salah satu baris lirik lagu tersebut berbunyi ‘Akey’ rice, salt fish are nice (Nasi ackee, ikan cod yang lezat).

    Nasi ackee merupakan masakan nasional Jamaika, sebuah negara pulau di Laut Karibia, Amerika Tengah. Nasi ackee terdiri dari nasi, daging buah ackee, ikan cod kering (asin) dengan kacang polong dan bumbu-bumbunya. Bahasa Inggris salt fish atau selted fish, mengacu pada ikan cod kering (asin), bukan ikan asin pada umumnya. Ackee merupakan buah dari Afrika Tropis Barat,  mulai dari Kamerun, Gabon, Sao Tome & Principe, Benin, Burkina Faso, Pantai Gading, Gambia, Ghana, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Nigeria, Senegal, Sierra Leone dan Togo. Di kawasan ini, buah ackee juga dikonsumsi, tetapi tidak terlalu populer.

    Ackee-a1Ackee baru terkenal setelah tahun 1778 masuk ke Jamaika. Di negeri ini, ackee menjadi menu kebanggaan nasional. Mungkin pada abad-abad 18 dan 19, para budak Negro yang berasal dari Afrika Barat, demikian merindukan kampung halaman mereka. Untuk melampiaskan kerinduan itu, mereka mengonsumsi ackee. Kali ini dikombinasikan dengan ikan cod kering, nasi dan kacang polong. Di Jamaika ackee kemudian  mulai dikebunkan, buahnya dikalengkan untuk diekspor. Ackee menjadi Buah Nasional Jamaika. Buah yang di habitat aslinya tak terperhatikan ini, sekarang menjadi menu prestisius.

    Di situs belanja online Amazon, ackee dalam kaleng kemasan 19 oz (538,6 gram, 0,5 kg), ditawarkan dengan harga 15,45 dollar AS. Dengan kurs Rp 13.000 per 1 dollar AS, harga ackee kalengan 0,5 kg itu Rp 200.850 atau per kg Rp 400.000. Orang Jamaika yang tinggal di luar Jamaika kalau mau masak ackee harus beli ackee kalengan. Pada waktu tulisan ini dibuat, di situs belanja online Amazon disebutkan sisa stok ackee tinggal 15 kaleng. Selain dengan membeli secara online, masyarakat Jamaika di Jakarta apabila ingin memasak ackee, harus memesan dari Singapura.

    # # #

    Sebelum merdeka pada 6 Agustus 1962, Jamaika merupakan jajahan Inggris. Peran Inggris dalam memopulerkan ackee sangat besar. Sebagai negara dengan negeri jajahan terbanyak di dunia, Inggris segera menyebarkan ackee ke berbagai kawasan tropis di dunia. Selain di Jamaika, ackee juga dikebunkan secara besar-besaran di Haiti, dan Republik Dominika, dua negara tetangga Jamaika di Laut Karibia. Ackee semakin populer sebagai menu prestisius  setelah dikebunkan di Negara Bagian Florida, Amerika Serikat (AS). Sebagian besar ackee kalengan dari Jamaika, Haiti dan Dominika, diekpor ke AS, Inggris, dan Kanada.

    Ackee-1aPopularitas ackee, tampaknya bukan hanya disebabkan Jamaika pernah dijajah Inggris, melainkan juga karena kultur Jamaika sendiri. Lagu Jamaica Farewell yang menyebut-nyebut buah ackee, merupakan lagu rakyat Jamaika (Mento) yang tak ketahuan pencipta melodinya. Lirik lagu Jamaica Farewell sendiri diciptakan oleh Lord Burgess (Irving Louis Burgie) pada tahun 1950an. Lirik Jamaica Farewell ciptaan Lord Burgess dicangkokkan ke melodi yang sudah lama ada, yang sebelumnya menggunakan berbagai lirik. Mento yang merupakan bentuk lagu rakyat Jamaika, telah mengilhami lahirnya berbagai genre musik yang kemudian mendunia.

    Reggae merupakan salah satu di antara genre musik khas Jamaika yang kemudian mendunia, dengan Bob Marley sebagai tokoh legendarisnya. Genre musik Jamaika ini juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan musik AS. Rhythm and blues ((R&B), Rock dan Rap yang berkembang sebagai trend musik dunia, sedikit banyak terpengaruh oleh genre musik Jamaica. Para penyanyi dan pemusik kelahiran Jamaika, banyak yang kemudian menjadi terkenal dan menetap di AS maupun Inggris. Merekalah yang telah ikut serta memopulerkan ackee sebagai menu bergengsi khas negeri mereka.

    Meskipun Haiti dan Republik Dominika kemudian juga membudidayakan komoditas ini, penghasil ackee terbesar dunia tetap dipegang Jamaika. Tiap tahun Jamaika menghasilkan buah ackee 30.000 ton. Dari hasil itu Jamaika mampu mengekspor daging buah ackee dalam kaleng sekitar 2.000 ton dengan nilai 1,2 miliar dollar AS, atau Rp 15,6 triliun. Pendapatan ini cukup besar untuk sebuah negeri dengan luas 10.991 km2, lebih kecil dari luas Pulau Bangka 11.693 km2. Populasi penduduk Jamaika 2,9 juta jiwa, sedikit lebih besar dari penduduk Kabupaten Bekasi, Jawa Barat sebesar 2,8 juta jiwa.

    # # #

    Sebenarnya ackee merupakan buah yang sangat berbahaya karena mengandung racun. Sejak 6 Februari sampai dengan 18 Maret 2001, sebanyak 80 orang tewas di Haiti, karena mengonsumsi ackee. Dari bulan Desember 2010 sampai dengan Februari 2011, sebanyak 23 penduduk Kingston, Ibukota Jamaika tewas juga setelah mengonsumsi ackee. Selain korban tewas, selama tiga bulan itu sebanyak 194 orang dirawat di rumah sakit akibat keracunan ackee. Para korban ini mengonsumsi daging buah ackee yang belum masak, hingga bagian selaput buah yang beracun terikut dalam daging buah yang mereka konsumsi.

    Selaput buah yang “menyelip” di antara belahan daging buah itu mengandung racun Hypoglycin A (C7H11NO2) yang mematikan. Racun Hypoglycin A juga terdapat dalam biji ackee. Selain Hypoglycin A, buah ackee juga mengandung racun Hypoglycin B (C12H18N2O5) yang hanya terdapat dalam biji. Selaput yang tersambung dengan bagian tengah kulit buah ini, akan mudah sekali terlepas dari daging buah, apabila ackee telah masak, yang ditandai dengan pecahnya kulit buah menjadi tiga bagian. Dari celah pecahan kulit buah itu akan tampak biji berwarna hitam, dan daging buah putih kekuningan.

    Selaput beracun itu tampak berwarna oranye kecoklatan tipis berukuran kecil dengan bentuk tak beraturan. Pada buah yang telah pecah karena masak, saat daging buah diambil, selaput itu akan tetap melekat pada bagian tengah kulit buah. Pemerintah Jamaika, Haitii, dan Republik Dominika, sebenarnya telah menerapkan kontrol hazard yang sangat ketat terhadap  agroindustri ackee. Namun pengawasan ini lebih banyak ditujukan terhadap proses pengalengan buah ackee yang akan diekspor. Buah ackee yang dipasarkan dalam negeri, terlebih yang tak dikalengkan, lepas dari pengawasan ini.

    Penghilangan racun pada buah ackee sebenarnya tak serumit pada racun Hidrogen sianida (Hydrogen cyanide, HCN) pada buah kepayang (picung, pucung, kluwak, Pangium edule); dan umbi gadung (Dioscorea hispida). Konsumen ackee sendiri bisa melihat, apakah masih ada selaput kulit buah yang menempel pada bagian dalam daging buah. Repotnya, pada buah ackee yang dipanen sebelum masak, daging buah itu tak terbuka dengan sempurna, hingga di bagian dalamnya terselip selaput buah yang tak tampak dari luar. Buah seperti inilah yang beracun. Di Indonesia, koleksi tanaman ackee antara lain terdapat di Taman Buah Mekarsari. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi
     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *