• BERLEBARAN DENGAN DAGING KERBAU

    by  • 22/08/2017 • PETERNAKAN • 0 Comments

    Sejak seminggu menjelang Idul Fitri, di trotoar Jalan Raya Bogor, depan Pasar Cisalak, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat; bermunculan para penjual daging kerbau. Masyarakat Betawi dari berbagai penjuru datang untuk membeli.

    Pasar daging kerbau di Cisalak ini mirip pasar bandeng raksasa (bandeng super), di Jalan Raya Rawa Belong, Kemanggisan, Jakarta Barat; yang hanya ada menjelang Hari Raya Imlek. Masyarakat Tionghoa Jakarta dan sekitarnya punya tradisi memasak bandeng super pada Hari Raya Imlek, dan masyarakat Betawi memasak daging kerbau pada Hari Raya Idul Fitri. Mengapa kerbau dan bukan sapi? Ini terkait dengan budaya toleransi. Sebelum ditaklukkan oleh Fatahillah (Falatehan, Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah); Sunda Kelapa merupakan wilayah kekuasan kerajaan Hindu.

    kerbau-a
    Masyarakat Muslim pengikut Fatahillah, demikian menghormati masyarakat Hindu yang ditaklukkan. Karena sapi merupakan hewan yang disucikan oleh masyarakat Hindu, para pengikut Fatahillah ikut-ikutan tak makan daging sapi. Sebagai gantinya, mereka menyantap daging kerbau. Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di dua tempat ini, masyarakat juga tak mengonsumsi daging sapi, demi menghormati Umat Hindu yang sudah memeluk Islam. Soto Kudus yang terkenal itu, merupakan soto daging kerbau.

    Sampai sekarang di Kota Pati, Kudus, dan Demak soto Kudus masih berbahan baku  daging kerbau. Kerbau jantan untuk dipotong ini didatangkan dari Mojokerto, Jawa Timur.  Di Jakarta sehari-hari masyarakat Betawi memang mengonsumsi daging sapi. Tetapi saat Hari Raya Idul Fitri, mereka kembali menghormati Umat Hindu dengan mengonsumsi daging Kerbau. Meskipun masyarakat Betawi sekarang pasti tak menyadari asal-muasal tradisi ini. Jakarta memang merupakan lokasi ibukota Tarumanagara (358–669), Kerajaan Hindu tertua kedua setelah Kerajaan Kutai (350–1605).  Sundapura, ibukota Tarumanagara itu terletak di Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

    # # #

    Kerbau (buffalo), merupakan sebutan umum untuk tiga genus hewan yang berbeda. Pertama sebutan untuk kerbau Asia genus Bubalus. Kedua untuk kerbau Eropa/Amerika genus Bison, dan ketiga untuk kerbau Afrika genus Syncerus. Meskipun dalam Bahasa Inggris bison disebut buffalo, tetapi Bahasa Indonesia bukan menerjemahkannya dengan sebutan kerbau melainkan tetap bison. Hingga terminologi kerbau dalam Bahasa Indonesia hanya digunakan untuk mewadahi pengertian kerbau Asia dan kerbau Afrika. Spesies Bubalus arnee sebagai kerbau Asia, terdiri dari kerbau air liar, dan kerbau air peliharaan. Sementara kerbau Afrika semua masih liar.

    Kerbau air liar Asia terdiri dari tiga sub spesies. Pertama Bubalus arnee arnee berhabitat asli India dan Nepal. Kedua Bubalus arnee fulvus berhabitat asli di Negara Bagian Assam, India. Ketiga Bubalus arnee theerapati berhabitat asli Asia Tenggara. Kerbau liar di Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Komodo termasuk subspesies Bubalus arnee theerapati. Kerbau air peliharaan, hanya terdiri dari dua sub spesies, yakni kerbau sungai Bubalus arnee bubalis; dan kerbau rawa (lumpur) Bubalus arnee carabanesis. Diduga, kerbau sungai merupakan domestifikasi dari kerbau liar Bubalus arnee arnee dari India, sedangkan kerbau rawa domestifikasi kerbau liar Bubalus arnee theerapati dari Asia Tenggara.

    Menurut Badan Pusat Statistik, populasi kerbau di Indonesia tahun 2016 mencapai 1.386.280 ekor. Sebanyak 95% dari populasi itu merupakan kerbau rawa. Jenis kerbau ini berkulit abu-abu kehitaman, bertubuh pendek, bulat dan kekar. Dada luas, kaki pendek dan lurus, tanduk besar, panjang dan melebar ke luar. Kerbau rawa suka berkubang dalam lumpur, dan berkromosom 48. Penampilan kerbau rawa, sama persis dengan leluhurnya, yakni kerbau liar Bubalus arnee theerapati yang masih terdapat di beberapa Taman Nasional di Indonesia. Jenis kerbau rawa ini oleh Kementerian Pertanian, dikelompokkan menjadi beberapa rumpun, yakni Rumpun Sumbawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku (Moa), Toraja, Sumatera Selatan (Pampangan), Tapanuli Utara, dan Banten (Badegur).

    Populasi kerbau sungai di Indonesia hanya sekitar 5% dari total jumlah kerbau. Kerbau jenis ini berkulit hitam pekat, leher dan kepala lebih kecil dari kerbau rawa, kaki lebih tinggi, tanduk kecil dan pendek, melingkar ke dalam. Sepintas kerbau sungai tampak seperti sapi. Kerbau sungai suka air bersih yang mengalir, dan berkromosom 50. Satu-satunya jenis kerbau sungai di Indonesia terdapat di Sumatera Utara, dan dikenal dengan sebutan Kerbau Murrah. Jenis kerbau asal India ini dipelihara oleh masyarakat Sikh dari India. Kerbau Murrah dipelihara terutama sebagai kerbau perah untuk menghasilkan susu.

    # # #

    Dari dulu sampai sekarang harga kerbau selalu di atas harga sapi. Bulan Juni 2017 ini harga sapi berkisar pada angka Rp 45.000 per kg bobot hidup. Dengan kisaran bobot antara 400 sampai 500 kg, harga seekor sapi potong sekitar Rp 20 juta per ekor. Dengan bobot sama, harga kerbau bisa mencapai Rp 25 juta bahkan Rp 30 juta per ekor. Kerbau belang dari Toraja untuk upacara adat pemakaman, bahkan bisa mencapai harga Rp 100 juta per ekor. Yang unik, kerbau dengan bobot sama bisa berlainan harganya, karena faktor umur yang ditandai dengan panjangnya tanduk. Kerbau dengan bobot sama-sama 500 kg bisa berharga Rp 25 juta, dan Rp 30 juta, karena yang Rp 30 juta bertanduk lebih panjang.

    Dalam rangka persiapan menyambut Idul Fitri 2017 ini, Perum Bulog akan menambah impor daging kerbau dari India sebanyak 50.000 ton. Akhir tahun 2016 Bulog sudah mendapat izin untuk mengimpor daging kerbau dari India sebesar 70.000 ton. Sampai dengan bulan Februari 2017 sudah sebanyak 49.000 ton daging kerbau dari India beredar di pasaran. Bulan April 2017 Perum Bulog masih punya stok daging kerbau impor dari India sebesar 39.000 ton. Karena jumlah itu dinilai tak akan mencukupi kebutuhan bulan Ramadan dan Lebaran, maka diperlukan tambahan impor sebesar 50.000 ton. Impor daging kerbau dari India, sebenarnya kontroversial, sebab negeri ini masih belum bebas penyakit mulut dan kuku (PMK).

    Indonesia, sudah dicatat oleh WHO bebas dari penyakit PMK, dan tidak diperbolehkan mengimpor ternak atau produk peternakan ruminansia (berkuku genap), dari negara yang masih belum bebas dari penyakit PMK. Aturan dari WHO ini dilanggar pemerintah Indonesia, karena Presiden Joko Widodo berharap harga daging sapi di Indonesia bisa turun di bawah Rp 100.000 per kg. Informasi tentang daging kerbau ini, idealnya memang disebarluaskan ke masyarakat agar tak terkesan sebagai penipuan. Masyarakat tradisional, misalnya orang-orang Betawi, memang tahu perbedaan daging sapi dan daging kerbau, baik dari bentuk fisik (ukran serat daging), warna dan aromanya. Pengetahuan seperti ini tak dimiliki oleh masyarakat awam.

    Para pembeli daging di pasar selama Ramadan maupun menjelang Idul Fitri, tak pernah tahu apakah yang dibelinya daging sapi, atau daging kerbau eks India. Selama ini harga daging kerbau impor dari India, memang lebih murah dibanding harga daging sapi. Sebab tujuan pemerintah mengimpor daging kerbau, memang untuk menurunkan harga daging sapi. Tetapi sesampai ke pedagang, harga jual ke konsumen tetap sama, yakni di atas Rp 120.000 per kg. Memang ada juga yang menjualnya dengan harga Rp 100.000 per kg, tetapi para pedagang tersebut tetap menyebut daging kerbau ini sebagai daging sapi. Kecuali pedagang di Pasar Cisalak menjelang lebaran yang jelas menjual daging kerbau. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *