HEWAN SUCI ITU BERNAMA SAPI
by indrihr • 27/03/2019 • PETERNAKAN • 0 Comments
Impor daging kerbau dari India telah membuat para pengusaha peternakan sapi “tiarap” di tempat. Seorang pengusaha yang biasanya mendatangkan 50.000 sapi bakalan dari Australia untuk digemukkan, selama 2018 hanya berani mendatangkan 20.000 ekor.
India memang sebuah negeri “ajaib”. Sampai dengan tahun 2002, India merupakan negara dengan populasi sapi terbesar di dunia sebanyak 187,4 juta ekor. Nomor dua bertengger Brasil dengan populasi sapi sebesar 185,3 juta ekor. Tetapi, pada tahun 2002 itu, tingkat konsumsi daging sapi India sama dengan Indonesia, hanya sebesar 1.81 kilogram per kepita per tahun. Ini merupakan nomor 10 terendah di dunia; di atas Liberia 0,51; Mozambiq 0,72; São Tomé dan Príncipe 0,86; Sierra Leone 1,11; Cape Verde 1,16; Moldova 1,26; Ghana 1,34; Kongo 1,43; dan Sri Lanka 1,63.
India dengan populasi sapi terbesar di dunia, tetapi konsumsi dagingnya termasuk terendah di dunia. Sebab bagi masyarakat India pemeluk Agama Hindu, sapi merupakan kendaraan Hyang Syiwa. Hewan ini disucikan oleh Umat Hindu. Sebagian besar umat Hindu malahan hidup sebagai vegetarian. Inilah yang mengakibatkan tingkat konsumsi daging sapi India termasuk paling rendah di dunia. Tahun 2002 itu, populasi sapi di Indonesia sebanyak 11,2 juta ekor, atau 5,9% dari populasi sapi India. Tahun 2002 itu, konsumsi daging sapi penduduk negeri kita sama dengan 1,81 kg per kapita per tahun, atau 100 % dari konsumsi daging sapi penduduk India.
Rendahnya populasi sapi dan tingginya tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia, telah menyebabkan defisit hewan penghasil daging, terutama sapi. Tahun 2002 itu, Indonesia sudah defisit induk betina sapi sekitar 1 juta ekor. Sebagian besar defisit daging sapi Indonesia itu, dipenuhi dari impor daging sapi beku, karkas, sapi potong; dan terutama sapi bakalan untuk digemukkan. Defisit daging dan sapi hidup Indonesia itu, dipenuhi oleh produk impor dari Australia. Mengapa bukan dari India? Sebab World Health Organization (WHO), menyatakan Indonesia sudah bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi, hingga dilarang mengimpor produk daging dan sapi hidup dari India.
Dilompati Brasil
Tahun 2003, posisi India sebagai negeri dengan populasi sapi terbesar dunia, dilompati Brasil. Tahun 2003, populasi sapi India turun dari tahun 2002 sebesar 187,4 juta ekor; menjadi 185,1 juta ekor. Sedangkan Brasil, dari 185,3 juta ekor pada 2002, menjadi 195,5 juta ekor pada 2003. Sejak itulah Brasil menjadi negeri dengan populasi sapi terbesar dunia sampai sekarang. Food and Agriculture Organization (FAO), mencatat 10 negeri dengan populasi sapi terbesar dunia 2017 adalah Brasil 214,8 (juta ekor); India 185,1; AS 93,7; RRT 83,3; Ethiopia 60,9; Argentina 53,3; Pakistan 44,4; Meksiko 31,7; Sudan 30,7; dan Australia 26,1.
Konsumsi daging sapi India tahun 2017, naik menjadi 4 kilogram per kapita per tahun.
Tahun 2017 itu, Indonesia berada pada peringkat 18 dunia dengan populasi sapi sebesar 16,5 juta ekor. Konsumsi daging sapi Indonesia 2017 naik menjadi 2,4 kilogram per kapita per tahun atau 60% dari konsumsi daging sapi India. Ini merupakan angka rata-rata, sebab populasi sapi dan konsumsi daging sapi di Indonesia, tidak merata. DKI Jakarta berpenduduk 10,3 juta jiwa dengan tingkat konsumsi 6 kg per kapita per tahun; hanya punya sapi sebanyak 1.412 ekor. DKI Jakarta merupakan provinsi di Indonesia yang paling banyak menyerap sapi dari lain daerah, dan sapi impor.
Jawa Timur berpenduduk 42 juta jiwa, dengan populasi sapi sebanyak 4,5 juta ekor. Populasi sapi dengan jumlah penduduk Jawa Timur merupakan contoh paling ideal, yakni 1 ekor sapi untuk 10 penduduk. Dengan tingkat konsumsi daging sapi 10,3 kg per kapita per tahun, Jawa Timur surplus sekitar 12.900 ton daging sapi per tahun. Surplus ini digunakan Jawa Timur untuk memasok provinsi lain, terutama DKI Jakarta. Yang juga surplus daging sapi adalah Sulawesi Selatan, dengan populasi penduduk 8,2 juta jiwa, provinsi ini punya 1,4 juta ekor sapi atau satu ekor sapi untuk enam orang.
Antara Sapi dan Kerbau
Masyarakat awam, sulit untuk membedakan daging sapi dengan daging kerbau. Celah inilah yang digunakan oleh pengusaha dan pedagang, untuk mengimpor daging kerbau dari India. Daging kerbau India itu kemudian dipasarkan di Indonesia sebagai “daging sapi”. Hingga ada tiga hal yang merugikan masyarakat. Pertama, impor daging sapi (dan kemudian kerbau), selama ini tidak transparan. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq; tanggal 30 Januari 2013 ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi, diadili, dan divonis 18 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar atas kesalahan dalam kasus suap impor daging sapi.
Diduga, model suap impor daging sapi era 2013 itu tetap masih berlangsung sampai sekarang, dengan pelaku dan penerima suap yang berbeda. Selain tidak transparan dalam pengambilan keputusan, daging kerbau itu juga tak dijual sebagai daging kerbau, melainkan menjadi daging sapi. Sekarang, konsumen daging impor sulit untuk mengetahui, apakah yang dibelinya daging sapi, atau daging kerbau. Ini persis sama dengan daging domba, yang setelah di pasar selalu disebut sebagai daging kambing. Padahal di pasar dunia, daging domba (lamb) jelas dibedakan dengan daging kambing (mutton).
Ketiga, sampai sekarang India, masih dinyatakan oleh WHO, belum bebas dari PMK. Negara yang sudah bebas PMK seperti Indonesia, sebenarnya dilarang untuk mengimpor daging, atau ternak ruminansia (kambing, domba, sapi, kerbau); dari negara yang belum bebas PMK. Sampai sekarang India masih sulit untuk membasmi PMK. Sebab sebagai hewan yang disucikan, sapi bebas berkeliaran di mana saja tanpa pernah diusik. Inilah kendala utama pemberantasan PMK di India. Tapi ya itulah, daging sapi dan kerbau India memang paling mudah didapat, sekaligus berharga paling murah. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
