• ILES-ILES KOMODITAS ANTI MALING

    by  • 13/05/2019 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Di situs Alibaba, tepung konnyaku ditawarkan seharga 30 – 45 dollar AS per kilogram; dengan minimal order 100 kilogram. Dengan kurs satu dollar AS Rp 14.000, harga tepung konnyaku di situs Alibaba itu Rp 420.000 sampai Rp 630.000 per kilogram.

    Di situs Amazon, konnyaku siap makan kemasan 14,10 oz (399,7 gram), ditawarkan seharga 22,95 US $ (Rp 321.300). Artinya, satu kilogram konnyaku berharga Rp 803.852,8. Di situs Nanuko, ditawarkan seharga 1,12 Euro per kemasan. Dengan kurs satu Euro Rp 15.930,13; harga konnyaku di situs Nanuko Rp 17.841,7 per kemasan 100 gram, atau Rp 1.784.174,56 per kilogram. Apakah istimewanya konnyaku, juga shirataki hingga berharga demikian tinggi? Makanan khas Jepang ini enak (kenyal), rasanya tawar, hingga diberi bumbu apa pun cocok; mengenyangkan, dan nol kalori.

    Mereka yang tak ingin kelebihan berat badan, atau menderita diabetes; memburu konnyaku dan shirataki; demi bobot tubuh ideal dan kesehatan. Konnyaku mirip dengan beras Basmati dari India yang berharga di atas Rp 200.000 per kilogram. Beras Basmati dikenal sebagai bahan pangan sumber karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, di bawah 55. Indeks glikemik beras biasa di atas 70. Dengan indeks glikemik rendah pun, beras Basmati diburu pembeli, apalagi konnyaku, yang nol kalori. Mereka yang sedang diet karbohidrat berat, atau penderita diabetes, bebas mengonsumsi konnyaku.

    Konnyaku merupakan bahan pangan berbahan glukomanan. Glukomanan berasal dari umbi konjac, devil’s tongue, voodoo lily, snake palm, Amorphophallus konjac. Konjac merupakan salah satu spesies Amorphophallus, suku talas-talasan, Araceae; yang hidup di kawasan sub tropis di Jepang, Korea, dan RRT. Umbi konjac tidak bisa dikonsumsi langsung, karena kandungan kalsium oksalatnya sangat tinggi hingga berpotensi menimbulkan iritasi pada jaringan rongga mulut, kerongkongan dan lambung. Untuk menghilangkan kalsium oksalat, umbi konjac dibuat keripik, ditepungkan, dan diambil glukomanannya.

     

    Iles-iles Alias Porang

    Di Indonesia juga tumbuh umbi Amorphophallus penghasil glukomanan, yakni iles-iles, porang, Amorphophallus mueleri. Di seluruh dunia ada 198 spesies Amorphophallus. Selain iles-iles, spesies Amorphophallus yang cukup dikenal di Indonesia adalah titan arum, bunga bangkai raksasa, Amorphophallus titanum; suweg, Amorphophallus paeoniifolius; dan acung, walur, badur, Amorphophallus variabilis. Dari empat spesies Amorphophallus yang banyak ditemui di sekitar pemukiman, hanya suweg yang bisa dikonsumsi langsung, karena kadar kalsium oksalatnya yang rendah. Tetapi kandungan glukomanan suweg hanya 5% dari umbi kering.

    Acung, yang juga disebut iles-iles putih, berkadar glukomanan sampai 30% dari meterial kering. Iles-iles, porang, berkadar glukomanan 50% dari umbi kering, sama dengan kandungan glukomanan pada umbi konjac. Sebenarnya titan arum berkadar glukomanan paling tinggi, lebih tinggi dari iles-iles. Ukuran umbi titan arum juga bisa mencapai bobot 30 kg. Tetapi untuk mendapatkan umbi dengan kandungan glukomanan optimum, diperlukan waktu sekitar tujuh tahun. Sementara dengan benih berkualitas baik, umbi iles-iles sudah bisa dipanen pada umur satu tahun sejak tanam.

    Iles-iles bisa dikembangbiakkan secara generatif melalui biji, bisa pula secara vegetatif menggunakan umbi atas, bulbil, katak; yang tumbuh pada tiap ketiak daun. Pada ketiak daun paling bawah, terdapat bulbil dengan ukuran paling besar. Inilah benih porang terbaik, yang sudah bisa menghasilkan umbi konsumsi pada umur satu tahun sejak tanam. Karena kelebihannya ini, bulbil utama iles-iles paling banyak diburu petani. Selain bulbil utama, tanaman iles-iles masih menghasilkan tiga, sembilan, sampai 27 bulbil; bergantung dari klon (varietas) tanaman, tingkat kesuburan lahan, serta intensitas sinar matahari.

    Komoditas Anti Maling

    Iles-iles ditanam pada awal musim penghujan, dan dipanen pada musim kemarau, saat tanaman dalam keadaan dorman (daun menguning dan mengering). Umur tanaman sejak tanam sampai masuk masa dorman paling sedikit sembilan bulan. Bisa lebih pendek atau lebih panjang bergantung benih, waktu tanam, dan elevasi lahan. Di dataran rendah (0 – 400 meter dpl), waktu panen bisa kurang dari sembilan bulan. Sementara di dataran tinggi (di atas 800 meter dpl), waktu panen bisa lebih panjang dari sembilan bulan. Di dataran menengah (400 – 800 meter dpl), iles-iles bisa menghasilkan umbi optimum.

    Umur panen iles-iles sama dengan singkong. Kelebihan iles-iles, bisa dibudidayakan di bawah naungan, tanpa penurunan hasil panen yang signifikan. Singkong hampir tak mungkin dibudidayakan di bawah tegakan tanaman keras, tanpa penurunan hasil yang cukup besar. Selain itu, harga umbi iles-iles saat ini lebih tinggi dari singkong. Di tingkat petani di Lampung, harga singkong paling tinggi hanya Rp 2.000 per kilogram. Umbi iles-iles paling rendah Rp 3.000 per kilogram. Ini pun dengan catatan lokasi panen jauh dari jalan raya, dan dari sentra produksi glukomanan, yang saat ini terdapat di Madiun, Jawa Timur.

    Di lokasi-lokasi strategis yang dekat dengan pabrik glukomanan, harga umbi iles-iles bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram. Meski berharga tinggi, iles-iles anti maling. Hampir tak ada orang yang akan mencuri umbi ini, karena tak mungkin dikonsumsi langsung, tak bisa dijual di pasar, dan harganya juga tak segila vanili. Polong vanili, meski tak bisa dikonsumsi langsung, juga tak bisa dijual di pasar, tetapi harga segarnya mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Selain itu, iles-iles masih belum dikenal luas oleh masyarakat. Lain dengan vanili yang sudah sangat familier di kalangan pencuri komoditas pertanian. # # #

    Artikel pernah dimuat di Taloid Kontan
    Foto F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *