USAHA PENANGKARAN JALAK BALI
by indrihr • 02/09/2019 • PETERNAKAN • 0 Comments
Kalau Anda mau terjun ke bisnis penangkaran burung, pilihlah yang berharga tinggi. Resikonya, memang lebih sulit jualannya dibanding yang harga biasa, terlebih yang harga rendah. Tetapi sekali jual, Anda bisa bernafas lega untuk beberapa bulan ke depan.
Di antara burung jalak, jalak bali (curik bali, bali myna, Leucopsar rothschildi) berharga paling tinggi. Kisaran harganya mulai dari Rp 4 juta (anak), sampai 25 juta dewasa. Jalak putih (black-winged starling, Acridotheres melanopterus), jenis jalak berharga tertinggi nomor dua, paling banter hanya Rp 3 juta per ekor dewasa. Jalak Suren (pied myna, Sturnus contra), hanya Rp 2 juta dewasa. Jenis jalak lain, semua di bawah Rp 1 juta per ekor dewasa. Anakannya malah hanya Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per ekor. Tingginya harga jalak bali, bukan hanya karena langkanya, tetapi juga karena keindahan sosok dan penampilan.
Kalau bicara langka, jalak putih juga tergolong langka. Dalam Daftar Merah IUCN (The International Union for Conservation of Nature Red List of Threatened Species, IUCN Red List); jalak putih dan jalak bali sama-sama berstatus kritis, Critically Endangered (IUCN 3.1). Daftar Merah IUCN merupakan daftar spesies hewan dan tumbuhan yang terancam, dan upaya penilaian konservasinya. Lembaga IUCN dibentuk tahun 1964 di Inggris. Dalam Daftar Merah itu, terdapat tujuh status spesies yakni punah (extinct), punah di alam liar (extinct in the wild), kritis (critically endangered), genting (endangered), rentan (vulnerable), hampir terancam (near threatened) dan risiko rendah (least concern).
Jalak bali merupakan spesies yang relatif baru. Tahun 1910 pertamakali jalak bali diketemukan dan diberi nama oleh zoologis Inggris Lionel Walter Rothschild (1868 – 1937). Tahun 2010 itu, Walter Rothschild memperkirakan populasi jalak bali berkisar antara 300 sampai 900 ekor, dan hanya ada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Populasi ini terus menyusut. Sensus jalak Bali tahun 1974 – 1986 menghasilkan perkiraan populasi antara 125 – 180 ekor. Tahun 1990 populasinya diperkirakan tinggal 12 – 18 ekor. Tahun 2006 Pengendalian Ekosistem Hutan (PEH) di TNBB mencatat populasi jalak Bali tinggal enam ekor.
Di Nusa Penida
Sebuah spesies, hanya tinggal enam ekor di habitat aslinya, merupakan peringatan keras; sebab tak lama kemudian akan meningkat ke status punah. Untunglah di seluruh dunia ada sekitar 1.000 ekor jalak Bali hasil budidaya. Tak lama setelah diketemukan tahun 1910, penangkapan jalak Bali di TNBB marak. Sebagian besar yang ditangkap, mati di tangan pemeliharanya. Tapi beberapa sukses mengembangbiakkannya, hingga populasi jalak Bali budidaya, terutama di Amerika Serikat semakin bertambah, seiring dengan menyusutnya populasi liarnya di TNBB. Maka Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan turun tangan.
Tahun 1987 Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA, sekarang Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, KSDAE); bekerjasama dengan International Centre for Birds of Prey (ICBP), American Association of Zoological Parks and Aquariums (AAZPA), Jersey Wildlife Preservation Trust (J.W.P.T.) dan KBS membuat program konservasi jalak Bali. Pertama, konservasi eksitu di KBS. Hingga KBS merupakan perintis budidaya jalak Bali di Indonesia. Sampai sekarang populasi jalak Bali di KBS dan di Taman Safari Indonesia masih yang terbesar di Indonesia.
Tahun 1999, Yayasan Begawan dan Friends of National Parks Foundation (FNPF), mencoba konservasi jalak Bali di Pulau Nusa Penida. Justru di Nusa Penida konservasi ini berhasil. Tahun 2019 ini, populasi jalak Bali liar (tanpa cincin) di Nusa Penida diperkirakan sekitar 200 ekor, termasuk anakannya. Hingga para aktivis lingkungan yang khusus menangani jalak Bali optimis, populasi spesies ini akan terus bertambah di Nusa Penida. Upaya konservasi di TNBB tetap terus dilakukan. Tahun 2011, KBS melepas 40 ekor jalak Bali tangkaran ke TNBB. Selain itu masyarakat di sekitar TNBB juga diajak jadi penangkar dan melepaskan sebagian hasilnya ke alam liar.
Perlu Izin BKSDA
Siapa pun sekarang bisa menjadi penangkar jalak Bali, dan menjualnya secara komersial. Syaratnya, calon penangkar mengajukan diri sebagai penangkar profesional ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Persyaratan dan tatacara mengajukan izin penangkaran ke BKSDA bisa dilihat di < https://www.jalaksuren.net/syarat-pengajuan-izin-penangkaran-dan-alur-pembuatan-sertifikat-jalak-bali/>. Semua jalak Bali tangkaran yang ada di pasar selalu bercincin di kaki dan disertai sertifikat. Anakan jalak Bali hasil tangkaran kita, juga akan diberi cincin dan sertifikat oleh BKSDA.
Teknik budidaya dan pakan jalak Bali, sebenarnya sama dengan jenis burung ocehan lainnya. Hingga selain induk, biaya kandang, peralatan, pakan dan tenaga kerja yang dialokasikan untuk bisnis ini, sama dengan penangkaran jenis burung lain. Tetapi dengan menangkarkan jalak Bali, pendapatan yang diperoleh beberapa kali lipat dibanding dengan burung lain. Terlebih jenis-jenis burung “murah meriah” dengan harga di bawah Rp 1 juta. Memang ada tambahan biaya untuk izin, cincin dan sertifikat, tetapi nilainya tak seberapa dibanding nilai anakan jalak Bali hasil tangkaran itu.
Bagaimana dengan pasarnya? Sampai sekarang pasar jalak Bali masih sangat bagus. Indikasinya harganya masih belum turun-turun. Tapi jika Anda jadi penangkar agak besar, mestinya juga ikut aktivitas para penangkar dan aktivis pelestari jalak Bali. Samalah dengan penangkar perkutut dan burung ocehan lain, yang juga wajib ikut macam-macam aktivitas pecinta burung, termasuk kontesnya agar bisa jualan. Peternak ayam bangkok, kalau tak kenal para botoh, tak akan bisa menjual hasil tangkarannya. Profesi apa pun memang tak sekadar bisa menghasilkan produk barang atau jasa, tapi juga harus bisa memasarkannya. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
