• BAWANG PUTIH BULAN RAMADAN

    by  • 16/09/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Bulan Ramadan 1440 H, yang jatuh pada Mei 2019, ditandai dengan melonjaknya harga bawang putih. Media sosial yang masih dipenuhi hiruk-pikuk Pemilu 2019, khususnya Pilpres, tak terlalu hirau dengan lonjakan harga bawang putih ini.

    Lonjakan harga bawang putih selama bulan Ramadan, disebabkan oleh terlambatnya Kementerian Perdagangan (Kemendag), mengeluarkan izin impor. Selama tahun 2019, Indonesia baru tercatat mengimpor bawang putih dari RRT pada bulan Januari, sebanyak 1.327,9 ton, dengan nilai 87.490 dollar AS (Rp 12,2 miliar). Februari, Maret dan April sama sekali tak ada impor. Baru pada tanggal 30 April 2019, Kemendag mengeluarkan izin impor bawang putih sebanyak 100.000 ton, untuk tujuh importir. Kemendag menyebut, bawang putih impor itu akan mulai masuk pada awal Mei 2019.

    Tahun 2018, Indonesia mengimpor bawang putih sebanyak 581.077,1 ton; dengan nilai 493.911.380 dollar AS (Rp 6,9 triliun). Kita memang bergantung ke produk impor, sebab tahun 2017, produksi bawang putih nasional hanya sebesar 19.513 ton. Ini mustahil bisa memenuhi kebutuhan bawang putih kita yang dalam setahun sekitar 600.000 ton. Pertanyaan yang kemungkinan akan muncul, “Mengapa bawang putih pun harus impor? Apa sih susahnya tanam bawang putih?” Sebenarnya ini hukum pasar biasa. Kalau bawang putih impor lebih murah, mengapa harus tanam sendiri?

    Juga sebaliknya. Kalau harga bawang putih nasional lebih murah dari impor; dengan kualitas sama; konsumen akan memilih yang lokal. Otomatis petani juga akan terus menanam. Sinar matahari merupakan kendala utama budidaya bawang putih. Di Indonesia, rata-rata panjang hari maksimal hanya 12 jam. Padahal bawang putih menuntut panjang hari optimum 17 jam. Ini hanya bisa terjadi pada puncak musim panas, di negara-negara beriklim empat musim. Kenyataannya juga tak sesederhana itu. Dari total produksi bawang putih dunia sebesar 28.158.601 ton, sebanyak 22.216.965 ton (78,8%) dihasilkan RRT.

    Indonesia Peringkat 38

    Dengan produksi 22.216.965 ton, RRT memang jawara bawang putih dunia. Nomor dua India dengan produksi 1.693.000 ton, hanya 7,6% dari produksi RRT. Inilah 10 besar produsen bawang putih dunia versi FAO 2017. 1 RRT 22.216.965 (ton); 2 India 1.693.000; 3 Bangladesh 425.401; 4 Korea Selatan 293.686; 5 Spanyol 274.712; 6 Mesir 274.668; 7 Russia 258.455; 8 Amerika Serikat (AS) 232.000; 9 Uzbekistan 214.263; 10 Myanmar 203.674. Tahun 2017, FAO mencatat ada 99 negara penghasil bawang putih dunia, dengan Bulgaria sebagai produsen terendah sebesar 18 ton. Dengan hasil 19.513 ton, Indonesia berada pada peringkat 38.

    Dengan data tersebut, pertanyaan, “Apa sih susahnya tanam bawang putih?” tak hanya layak diajukan ke para petani Indonesia, tetapi juga para petani dunia. Bahkan AS yang punya teknologi canggih pun, hanya bisa menghasilkan bawang putih sebesar 232.000 ton, hanya 1% dari produksi bawang putih RRT. Jadi kalau produk bawang putih RRT mengalir ke AS, ya wajar. Dengan produksi sebesar itu, RRT bisa membanjiri negara mana pun dengan produk bawang putih mereka. Impor bawang putih Indonesia 2018 sebesar 581.077,1 ton; hanyalah 2,6% dari total produksi bawang putih RRT.

    RRT juga jawara cabai dunia dengan produksi 17.821.238 ton. Indonesia nomor dua 2.359.441 ton. Indonesia menghasilkan bawang merah sebesar 1.470.154 ton, dan RRT (+ bawang bombai) sebesar 24.344.543 ton. RRT memang sedemikian takut rakyat mereka yang 1,4 miliar jiwa itu, kekurangan bahan pangan termasuk bumbu. Sebab begitu mereka kekurangan, dan harus impor; maka harga komoditas tersebut di pasar dunia akan naik dengan sangat drastis. Dan sebaliknya, begitu RRT menambah produksi hanya 1% sampai 2% dari total produksi mereka, lalu dilempar ke pasar dunia, maka harga komoditas itu akan jatuh.

    Teledor atau Permainan

    Para pejabat di Kementerian Pertanian (pemberi rekomendasi impor), dan Kementerian Perdagangan (pemberi izin impor); tentu tahu bahwa kebutuhan bawang putih kita rata-rata 600.000 ton per tahun. Produksi nasional hanya 19.000 ton. Jadi selisihnya harus diimpor dari RRT. Tak ada alternatif lain, sebab yang punya bawang putih berlebih hanya RRT. Mestinya, pada Januari 2019, izin impor itu harus sudah dikeluarkan, hingga selama Ramadan, harga bawang putih tetap stabil. Terbukti bawang merah impor, yang disebut sebagai “untuk benih”, selama awal Ramadan ini sudah membanjiri pasar.

    Kalau izin itu baru dikeluarkan tanggal 30 April pasca Pemilu, ada kemungkinan karena menunggu hasil Pemilu Legislatif dan terutama Pilpres. Komposisi perolehan kursi DPR bagi partai pendukung pemerintah, akan menjadi pertimbangan kepada siapa saja izin impor itu diberikan. Ini tentu sangat beresiko, sebab bawang putih merupakan salah satu bumbu penting selain cabai dan bawang merah. Meskipun Presiden dan para Menteri sudah menekankan perlunya transparansi dalam tender dan pemberian izin impor, tetap saja dalam praktek di tingkat eselon 1 ke bawah masih terjadi permainan, yang sekarang justru lebih rapi.

    Meskipun idealnya, bawang putih memerlukan panjang hari 17 jam, sebenarnya Indonesia dengan panjang hari maksimal 12 jam juga tetap bisa menghasilkan bawang putih berkualitas. Dengan catatan, menanamnya di lahan dengan elevasi 2.000 – 3.000 meter dpl. Di Jawa lahan pertanian dengan elevasi 2.000 meter dpl hanya ada di Dieng, dan sudah didominasi kentang. Salah satu alternatif hanya di Papua. Di provinsi ini, ada enam kabupaten dengan lahan berelevasi antara 2.000 – 4.000 meter dpl, dan dihuni manusia. Di sinilah bawang putih bisa dibudidayakan, dengan hasil optimum. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *