HARGA SELEDRI NAIK TAJAM
by indrihr • 07/02/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya pemasok sayuran ke swalayan dan restoran. Selama pandemi bisnis saya ikut terdampak. Dalam kesempatan ini yang mau saya tanyakan, mengapa harga seledri sangat fluktuatif bahkan belakangan menghilang dari pasar? (Narto, Semarang).
Sdr. Narto, di Indonesia harga semua sayuran memang sangat fluktuatif, sebab tidak ada pengendalian volume produksi, disesuaikan dengan volume konsumsi. Di negara tetangga (Malaysia, Thailand, Taiwan; petani mengendalikan volume produksi dan jadwal tanam, sesuai dengan permintaan pasar. Pengendalian ini mereka lakukan melalui kelompok tani (sisi teknis budidaya); koperasi (sisi bisnis); dan asosiasi (untuk hal-hal strategis). Pemerintah hanya menginisiasi, agar para petani membentuk kelompok, koperasi dan asosiasi sesuai dengan jenis komoditas yang dibudidayakan.
Di Indonesia, kelembagaan petani seperti ini belum ada. Hingga petani tidak punya pedoman harus menanam apa, kapan dan berapa banyak. Jadi petani Indonesia itu suka-suka. Lain dengan di Malaysia. Kelompok, koperasi dan terutama asosiasi; akan mengatur Si A spesialis tanam seledri, dengan luas lahan 0,25 hektare, dengan jadwal tanam kapan dan perkiraan produksinya berapa. Meskipun belum jadwal tanam, bisa saja asosiasi minta Si A mempercepat waktu tanam. Bisa juga sebaliknya, sudah waktunya tanam tetapi asosiasi minta ditunda beberapa hari atau minggu.
Tujuan pengaturan, supaya terjadi keseimbangan antara permintaan dengan pasokan. Sayuran, buah-buahan, terlebih produk serealia relatif masih mudah diatur agar semua pihak diuntungkan. Ya petaninya, ya pedagangnya, ya konsumennya. Yang sulit diatur bunga. Sebab konsumsi bunga erat kaitannya dengan peristiwa yang tak direncanakan. Misalnya, tiba-tiba ada tokoh terkenal meninggal dunia. Otomatis permintaan bunga akan naik tajam, tanpa persiapan dari pihak produsen/pemasok. Meskipun di Taiwan, koperasi selalu membuat prediksi, bahwa dalam satu tahun, akan ada sekian peristiwa tak terduga yang memerlukan bunga.
Mestinya harga seledri tidak perlu berfluktuasi sangat tajam menyangkut waktu dan tempat. Bulan Juni 2021 misalnya, harga seledri di Tanggamus, Lampung meroket sampai Rp 90.000 per kg. Sedangkan di tempat lain harga seledri masih normal. Tetapi pada September 2021 harga seledri jatuh hingga di tingkat petani komoditas ini dihargai Rp 500 per kg. Petani langsung membuang tanaman mereka, dan menggantinya dengan komoditas lain. Dampaknya, pada Desember 2021, harga komoditas ini naik tajam merata di semua daerah, dengan harga tertinggi Rp 50.000 per kg.
Sebenarnya harga setinggi apa pun, konsumen tetap akan membeli, karena mereka memerlukan. Misalnya harga cabai rawit merah yang pada tahun 2017 mencapai Rp 200.000 per kilogram. Konsumen tetap membelinya. Bedanya, ketika komoditas ini berharga Rp 20.000 per kilo, membelinya sampai ½ kilo. Ketika harganya Rp 200.000 mereka cukup membeli ½ ons. Karena meskipun harga mencapai Rp 200.000 per kilo, barangnya tetap ada. Dalam kasus seledri, barangnya tidak ada. Kalau pun ada kualitasnya sangat jelek.
Di Indonesia, dikenal dua jenis seledri, Apium graveolens. Seledri batang, stick celery, yang biasa dikonsumsi di Uni Eropa. Yang disebut batang, sebenarnya pelepah daun. Pelepah daun seledri batang memang berukuran besar dan renyah. Kemudian seledri daun yang berpelepah kecil, yang biasa dikonsumsi di Asia Timur. Harga seledri batang relatif lebih tinggi dibanding seledri daun. Jenis seledri batang inilah yang sekarang mencapai harga Rp 50.000 per kilogram di beberapa kota.
Selain seledri batang dan daun, sebenarnya masih ada seledri umbi, yang disebut celeriac. Seledri inilah yang sebenarnya layak disebut seledri batang, karena yang menggembung membentuk umbi itu bukan akar melainkan batang. Seledri umbi biasa dikonsumsi seperti kentang. Jenis seledri ini banyak dibudidayakan di Timur Tengah, Eropa dan Amerika Utara. Di Indonesia, seledri umbi masih belum dibudidayakan dan dipasarkan secara massal seperti halnya seledri batang dan seledri daun.
Seledri batang dan daun sudah bisa dipanen satu bulan sejak tanam. Hingga ketika harga naik dan petani kembali berminat menanamnya, tak lama kemudian harga akan normal. Biasanya para petani menebar biji seledri di atas bedengan komoditas lain yang telah dipanen. Misalnya seledri, atau kol. Selain cepat panen, seledri juga dikenal bandel terhadap serangan hama dan penyakit. Ketika tanaman kentang hancur terserang Fusarium atau Pseudimonas; bekas bedengan kentang itu segera ditebari biji seledri, agar kerugian tak terlalu besar. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
