TALAS DARAT DAN TALAS AIR
by indrihr • 20/08/2024 • Uncategory • 0 Comments
Di lembah Hanalei, pulau Kauai, Hawaii; saya lihat tanaman talas dibudidayakan di lahan sawah. Apakah ini jenis talas yang sama dengan yang ada di Indonesia, atau jenis lain? Apakah talas kita juga bisa ditanam di lahan sawah seperti di Hawaii? (Atiek, Bandung).
Sdri. Atiek, talas yang Anda lihat di Hawaii itu jenis yang sama dengan yang ada di Indonesia. Dalam Bahasa Inggris talas disebut taro. Nama botaninya Colocasia esculenta. Genus Colocasia suku Araceae terdiri dari 14 spesies. Yang umum dibudidayakan di seluruh dunia hanya Colocasia esculenta. Spesies ini berasal dari Nepal, India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, China, Taiwan, Laos, Semenanjung Malaya dan Sumatera.
Sekitar 35.000 SM – 14.000 SM Colocasia esculenta menyebar ke seluruh kawasan Asia dan Pasifik. Di Pasifik, penyebaran talas hanya sampai Fiji, Tonga dan Samoa. Dari Pasifik Selatan, talas baru menyebar sampai ke Hawaii bersamaan dengan migrasi Homo sapiens pada Tahun 600. Meskipun relatif baru, di Hawaii talas berkembang sebagai makanan utama mengalahkan padi, sukun dan sagu sampai sekarang.
Spesies talas budidaya Colocasia esculenta terdiri dari ratusan kultivar. Yang paling mencolok perbedaannya kultivar talas biasa dengan umbi utama (umbi batang) yang dikonsumsi seperti talas bogor, dan kimpul plècèt (kimpul pari) yang di Jepang disebut edoe atau satoimo yang dikonsumsi umbi anaknya. Di Indonesia, kimpul plècèt tidak disukai. Bahkan sebenarnya, talas biasa pun juga kalah populer dibanding singkong, ubi jalar dan keladi.

Kultivar talas biasa, terdiri dari ratusan kultivar dengan varian bentuk, ukuran dan warna umbi serta pelepah daun. Warna pelepah daun mulai dari hijau, coklat, kemerahan, kuning, sampai ke ungu dan hitam dengan gradasi dan variasinya. Permukaan daun ada yang licin mengkilap, ada yang seperti beludru. Kultivar-kultivar unggul silangan baru umumnya berdaun licin mengkilap, bukan seperti beludru.
Di Indonesia talas biasa dibudidayakan di lahan kering. Talas ini lazim disebut talas darat. Daging umbi talas yang ditanam di lahan kering berwarna putih dengan tekstur gembur, atau kuning dengan tekstur keras. Daging umbi dua jenis talas ini akan berubah menjadi kebiruan/keunguan apabila dibudidayakan di lahan sawah. Bahkan ditanam di pematang sawah pun warna daging umbinya sudah berubah menjadi kebiruan.
Jadi talas darat dan talas air itu sama jenisnya. Jenis talas yang sama bisa dibudidayakan di lahan kering (menjadi talas darat) maupun dibudidayakan di lahan sawah (menjadi talas air). Beda dengan padi yang memang ada jenis padi sawah dan ada padi lahan kering (padi gogo, padi ladang). Padi sawah tidak bisa ditanam di lahan kering, padi gogo juga tidak bisa dibudidayakan di lahan sawah. Kalau dipaksakan produktivitasnya akan turun, atau tanaman tak bisa hidup.
Di pulau Jawa, umumnya talas ditanam di lahan kering. Misalnya talas bogor. Paling jauh ditanam di pematang sawah, sementara lahan sawahnya tetap ditanami padi. Hampir tak ada petani di pulau Jawa yang membudidayakan talas secara monokultur di lahan sawah seperti halnya di Hawaii. Sebab penduduk Indonesia, terutama di pulau Jawa, terbiasa mengonsumsi nasi (padi) sebagai makanan pokok. Beda dengan penduduk Hawaii yang terbiasa mengonsumsi talas sebagai makanan pokok.
Di Hawaii umbi talas dikonsumsi sebagai bubur yang disebut poi. Daun talas juga dibuat buntil yang disebut lau-lau. Pelepah dan anakan talas juga disayur. Jadi di Hawaii, seluruh bagian tanaman talas dikonsumsi. Bahkan poi dan lau-lau juga disajikan di restoran besar termasuk di gerai McDonald’s. Karena dibudidayakan secara massal, talas di Hawaii menjadi sangat murah. Lain halnya dengan di Indonesia, talas merupakan komoditas eksklusif. Talas Bogor merupakan komoditas oleh-oleh yang terkait dengan aktivitas wisata.
Di Indonesia, juga ada talas yang dibudidayakan di lahan berair, yakni di rawa-rawa pasang surut. Di Kalimantan Barat ada kultivar talas Pontianak berpelepah hijau kehitaman dengan daun berpermukaan beludru yang dibudidayakan di lahan rawa. Talas pontianak sudah dipasarkan dalam bentuk segar sampai ke Jakarta dengan kisaran harga Rp 30.000 per kilogram, meskipun masih dalam volume yang sangat terbatas dan hanya ada di Pasar Glodog.
Talas yang dibudidayakan di lahan berair, memang relatif tahan terhadap serangan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Phytophthora colocasiae. Selain itu, di lahan sawah dan rawa talas tetap bisa produktif pada musim kemarau. Di lahan kering, talas hanya bisa ditanam pada musim penghujan. Itulah yang jadi pertimbangan para petani Hawaii menanam talas di lahan sawah. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
