• TIN GAJAH BUKAN BUAH TIN

    by  • 10/03/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Di Marketplace Indonesia ditawarkan bibit tin gajah, ara gajah. Konsumen banyak yang tertipu mengira ini jenis buah tin/ara yang berukuran sangat besar hingga disebut tin/ara gajah. Buah tin/ara gajah juga dipromosikan berasa sangat manis dan banyak khasiatnya.

    Padahal tin gajah, ara gajah, Roxburgh fig, Elephant ear tree, Ficus auriculata; spesies yang berbeda dengan buah tin, ara, common fig, fig, Ficus carica. Bibit tin gajah di Marketplace Indonesia ditawarkan seharga di atas Rp 500.000 per tanaman, dengan ongkos kirim juga di atas Rp 500.000 per tanaman. Para pedagang tanaman tahu betul kecenderungan konsumen Indonesia yang akan mau membeli tanaman dengan harga tinggi apabila dikaitkan dengan agama. Buah tin disebut dalam Al Quran Surah At-Tin. Sedangkan buah ara disebut dalam Kitab Perjanjian Lama maupun Baru. Hingga pohon tin/ara gajah disebut sebagai “pohon surga”.

    Buah tin/ara, berasal dari Yunani, Turki, Siprus, Libanon, Suriah, Israel, Palestina, Iran, Irak, Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, dan Turkmenistan. Jadi buah tin/ara merupakan tumbuhan sub tropis/gurun yang memerlukan udara kering dengan perbedaan suhu siang/malam hari sangat tinggi. Siang di atas 35° C, malam bisa sampai minus 20° C. Meski suhu turun sampai 20° C, tetap tak terbentuk salju karena kelembapan udara yang sangat rendah. Suhu udara siang hari bisa sangat panas karena tak ada awan dan panjang hari bisa sampai 17 jam. Inilah yang menyebabkan pohon tin/ara berbuah lebat berukuran besar dengan rasa manis.

    Di Jazirah Arab, tin/ara merupakan tumbuhan pendatang. Penyebaran buah tin sampai ke Jazirah Arab pasti terjadi sebelum abad ke 7, hingga nama buah ini sudah disebut dalam Al Quran. Dalam Kitab Perjanjian lama yang ditulis antara 1.500 SM sampai 400 SM, buah ara sudah disebut-sebut karena tumbuhan asli Israel/Palestina. Dibanding dengan apel, Malus sieversii; anggur, Vitis vinifera dan kurma, Phoenix dactylifera; buah tin/ara dianggap tak terlalu penting dalam kultur Timur Tengah. Itulah sebabnya di Timur Tengah, tin/ara juga tidak dibudidayakan secara massal seperti halnya apel, anggur dan kurma.

    Buah tin/ara dianggap tidak terlalu penting di Timur Tengah, karena rasanya memang tidak seenak anggur, apel dan kurma yang juga berhabitat asli di Timur Tengah. Yang makan buah ara hanya para penggembala dan mereka yang berjalan jauh dan kehabisan bekal. Sebagai tumbuhan subtropis/gurun, buah tin/ara sulit beradaptasi di kawasan tropis. Karakter buah tin/ara sama dengan kurma yang juga sulit beradaptasi dengan iklim tropis. Lain dengan anggur dan apel yang sudah terbukti bisa dibudidayakan di kawasan tropis, termasuk di Indonesia, dalam skala komersial dan menguntungkan.

    Lebih Tropis

    Beda dengan buah tin/ara yang berhabitat di iklim subtropis/gurun, tin/ara gajah berhabitat kawasan subtropis/tropis Asia. Mulai dari Pakistan, Tibet, Nepal, India, Bangladesh, Myanmar, China, Laos, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Semenanjung Malaya. India dan Thailand selatan serta Semenanjung Malaya sudah sangat tropis. Tetapi di tiga negeri tersebut, ara gajah lebih banyak hidup di dataran menengah/tinggi. Di DKI Jakarta misalnya, ara gajah tetap bisa hidup dan tumbuh subur, namun buahnya tidak bisa selebat dan sebesar yang tumbuh di dataran menengah/tinggi, misalnya di kawasan Puncak dan di Sukabumi.

    Dekade 1990 ara gajah masuk ke Indonesia sebagai tanaman hias. Sebab bentuk tajuk dan daunnya memang indah. Pucuk daun ara gajah berwarna coklat kemerahan. Sejak awal bibit ara gajah berharga cukup tinggi sebab perbanyakannya hanya lewat stek cabang dan cangkokan. Perbanyakan melalui biji memerlukan waktu yang sangat panjang. Ara gajah dideskripsi dan diberi nama Ficus auriculata pada tahun 1790 oleh João de Loureiro (1717 – 1791), seorang ahli botani Portugis, yang juga Missionaris Jesuit. Ara gajah diintroduksi ke Kalifornia, AS, pada tahun 1909 oleh Francisco Franceschi, seorang bankir dan hortikulturis asal Italia.

    Tahun 1926 ara gajah masuk ke Florida AS dan mulai dikenal sebagai tanaman hias eksotis pada dekade 1950. Dari Florida ara gajah menyebar ke Hawaii, Taiwan, Singapura dan masuk ke Jakarta, Indonesia pada dekade 1990. Sampai dengan dekade 2000 ara gajah masih diperdagangkan sebagai tanaman hias eksotis. Sejalan dengan tampilnya media digital dan marketplace, ara gajah diperkenalkan sebagai “buah tin merah yang manis dan langka” lalu dipasarkan di kalangan Umat Islam. Di lingkungan pemeluk Kristen dan Katolik, tanaman hias ini disebut “buah ara merah yang manis dan langka”.

    Karena sebutan “buah tin/ara merah yang manis dan langka” dianggap belum efektif meningkatkan penjualan, sebutan untuk tanaman hias ini berlanjut menjadi “buah surga”. Banyak yang tertipu karena pada dasarnya buah tin/ara gajah memang tidak enak. Di India, habitat asli tin/ara gajah, buah ini dipanen muda untuk dibuat pickle dikemas dan dipasarkan. Buah masak untuk bahan jelly. Di India pun buah tin/ara merah tidak pernah dikonsumsi langsung karena memang tidak enak. Jelly tin/ara gajah enak karena diberi tambahan gula, asam sitrat, dan essense. Zat warna tidak perlu karena warna merah buah ini sudah cukup menarik.

    Ficus termasuk genus yang cukup besar, dengan 880 spesies. Yang cukup terkenal antara lain beringin (Ficus benjamina), beringin pencekik (Ficus annulata) dan dolar rambat (Ficus pumila). Di Taiwan, buah Ficus pumila var. awkeotsang dikonsumsi setelah diolah menjadi aiyu jelly. Dari 880 spesies Ficus, yang diketahui berbuah edible dan biasa dikonsumsi hanya tin/ara, Ficus carica. Buah tin/ara gajah, Ficus auriculata dikonsumsi setelah diolah menjadi pickle dan jelly. Di Indonesia buah gondang, common red stem fig, Ficus variegata juga sering dikonsumsi oleh jagawana dan pencari kayu bakar. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *