DAUN SENU PALING DISUKAI KAMBING
by indrihr • 04/05/2026 • Uncategory • 0 Comments
Dulu pohon senu banyak tumbuh liar di kebun dan ladang bersama waru, sengon laut dan sengon jawa. Masyarakat memanfaatkan kayu senu yang ringan tapi kuat untuk kerangka rumah. Biar awet kayu senu direndam dalam lumpur selama minimal selama tiga bulan.
Daun senu sangat disukai kambing. Agar kebutuhan nutrisi tercukupi, kambing yang dikandangkan, memerlukan belasan jenis hijauan yang diberikan secara bergiliran. Kambing lebih menyukai hijauan berupa daun semak, perdu dan pohon, bukan hijauan daun gulma dan rumput sebagaimana halnya domba. Dari belasan jenis hijauan itu, kambing paling menyukai daun nangka, waru dan senu. Kandungan air tiga jenis daun ini sangat rendah dan tanpa aroma. Daun senu lebih disukai kambing karena teksturnya paling lembut. Karenanya dalam Bahasa Inggris senu disebut toilet paper tree. Nama botaninya Melochia umbellata.
Para peternak kambing yang dikandangkan mutlak memerlukan kebun atau ladang untuk budidaya tanaman sumber hijauan. Dulu, sampai dengan dekade 1970, ladang-ladang di Pulau Jawa hampir tanpa pohon. Satu dua pohon yang ada nyaris tanpa tajuk karena cabang dan rantingnya diambil untuk pakan kambing. Termasuk pohon senu. Petak-petak ladang itu ditanami singkong dan jagung sebagai makanan pokok selain beras. Sekarang sangat sulit mencari ladang yang masih terbuka untuk budidaya tanaman semusim di dataran rendah dan menengah di Pulau Jawa. Semua sudah hijau dengan pohon yang homogen.
Yang paling banyak ditanam di ladang-ladang itu jati, teak wood, Tectona grandis; sengon laut, jeungjing, Moluccan albizia, Falcataria falcata; mahoni daun besar, big-leaf mahogany, Swietenia macrophylla; mahoni daun kecil, West Indies mahogany, Swietenia mahagoni; dan pohon-pohon penghasil kayu lainnya. Sejak itulah senu tersisih. Sebab harga kayunya relatif rendah, pertumbuhannya tidak sebaik sengon laut dan mahoni. Ini hanya masalah perekonomian. Karena pendapatan dari senu lebih rendah dari jati, sengon laut dan mahoni; tanaman ini tersisih dan hanya tumbuh liar di tempat-tempat tertentu.

Tetapi di lain pihak, para peternak kambing profesional justru mempromosikan kaliandra merah, Calliandra calothyrsus; gamal, Gliricidia sepium; dan tarum pakan ternak, Indigofera zollingeriana serta berbagai jenis rumput terutama rumput gajah, Cenchrus purpureus. Padahal selain paling disukai kambing, nutrisi dan terutama produktivitas senu cukup baik. Kaliandra merah, gamal dan tarum hanya bisa dimanfaatkan sebagai kayu bakar; sedangkan senu masih bisa digunakan sebagai kerangka bangunan, papan, serta penggunaan lain mengingat kualitas kayunya yang berwarna putih dan ringan.
BJ Kayu 0,25 – 0,5
Kayu senu relatif ringan dengan Berat Jenis (BJ) 0,25 – 0,5 atau rata-rata 0,375. Sedikit lebih berat dibanding BJ kayu sengon laut 0.20 – 0.49 atau rata-rata 0.345. Dibanding kayu jati, Tectona grandis dengan BJ 0,57 kayu senu tergolong sangat ringan. Terlebih apabila dibandingkan dengan kayu sono keling Dalbergia latifolia dengan BJ 0,795. Dulu ketika populasi pohon senu lebih banyak dari sengon laut, kayu senu menjadi bahan utama untuk membuat pesawat modeling dan pesawat olahraga terbang layang. Sekarang untuk pesawat modeling digunakan kayu balsa, Ochroma pyramidale dengan BJ hanya 0,13.
Dalam strata masyarakat Jawa, kayu senu hanya akan dijadikan kerangka bangunan (tiang, blandar, pengeret) oleh masyarakat kelas bawah. Kayu nangka akan menjadi kerangka bangunan bagi masyarakat kelas menengah. Kayu jati merupakan bahan bangunan masyarakat kelas atas. Sebelum kultur Timur Tengah (Islam) dan Eropa masuk ke kepulauan Nusantara, tak ada bangunan rumah tinggal dari bahan batu dan batu bata. Batu dan batu bata hanya untuk candi, pagar keliling dan lantai bangunan termasuk bangunan istana para raja. Rumah rakyat hanya berlantai tanah atau papan kayu (panggung).
Arsitektur rumah adat Jawa, dengan tiang utama (saka guru), merupakan kecerdasan lokal dalam mengatasi gempa. Sebab Indonesia dilewati deretan gunung berapi dan patahan lempeng bumi yang akan rutin dilanda gempa. Dulu, kayu-kayu ringan itu dipilih menjadi kerangka bangunan rumah bukan hanya karena rakyat tidak mampu membeli kayu keras berkualitas bagus. Dulu rakyat bisa memilih kayu keras yang tumbuh di hutan untuk bahan bangunan. Kayu ringan seperti senu menjadi pilihan sebagai kerangka bangunan dengan pertimbangan apabila roboh dilanda gempa tidak akan membahayakan penghuni rumah.
Kerangka atap rumah berbahan bambu utuh untuk usuk dan bambu belahan untuk reng. Atap rumah berbahan baku daun rumbia (sagu) atau alang-alang. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu kasar bagian luar dan anyaman bambu halus untuk bagian dalam. Selain aman terhadap gempa bangunan rumah rakyat dari kayu ringan, bambu dan rumbia ini juga nyaman dihuni. Hangat dalam cuaca dingin dan sejuk saat cuaca panas terik. Sampai sekarang rumah adat (panggung) masyarakat Baduy Dalam di Kabupaten Lebak, Banten; masih menggunakan konsep kayu ringan, bambu dengan atap daun rumbia.
Waktu itulah senu yang asli Pulau Jawa banyak dibudidayakan petani karena daunnya disukai kambing dan kayunya yang ringan menjadi pilihan untuk kerangka rumah. Sengon laut yang merupakan tumbuhan asli Papua belum dikenal oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa. Dengan masuknya budaya Timur Tengah dan Eropa, rumah-rumah berkerangka kayu mulai ditinggalkan berganti rumah berdinding tembok beratap genteng, asbes dan seng. Apabila tidak disertai fondasi, slup dan kerangka beton, rumah tembok rawan terancam gempa. Bahkan tak ada gempa pun bangunan bisa roboh apabila SOP konstruksi dilanggar. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
